PURWOKERTO – Sudah hampir dua tahun Alun-Alun Purwokerto ditutup karena pandemi Covid-19.
Rasa kerinduan itu dirasakan oleh warga Purwokerto, Gilang Ramadhan (27) yang sudah ingin bermain di Alun-Alun Purwokerto.
Selain karena kesibukan pekerjaan, pelarangan berkunjung ke alun-alun Purwokerto juga menjadi alasan.
“Saya kaget alun-alun Purwokerto makin cantik dan ‘manglingi’ alias tidak menduga bisa bagus seperti sekarang ini,” katanya dikutip dari Tribunbanyumas.com, Rabu (24/11/2021).
Namun demikian dirinya sempat menyimpan tanya, kenapa bunga Kamboja yang ditanam di sekitar alun-alun.
Baginya Kamboja identik dengan kuburan dan terkesan seram.
“Semuanya sudah bagus tapi bunganya kalua bisa diganti tanaman lainnya.
Apa saja oke, asal jangan Kamboja.
Mungkin bisa diganti yang lain,” ucapnya.
Sementara itu Kabid RTH Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas Puspa Wijayanti, mengatakan punya pertimbangan tersendiri kenapa memilih pohon Kamboja.
“Pemilihan Kamboja bukan tanpa alasan.
Dan Kamboja yang dipakai adalah Kamboja Merah yang jenis itu saat ini banyak diburu.
Image kuburan sudah tidak pas di Bali Kamboja itu identik dengan Pura,” jelasnya.
Kamboja dipilih sesuai dengan tema yang ingin dibuat di Alun-Alun Purwokerto dan tema yang dipilih adalah merah-putih.
Alun-alun Purwokerto biasa digunakan untuk kegiatan formal.
Sehingga dipilih warna yang netral, warna merah-putih.
Tema itu direpresentasikan dengan Kamboja Merah dan Melati Bali Putih.
Bahkan menurutnya, Kamboja saat ini sedang tren kembali.
Tema yang dipilih merupakan inisiatif dari Dinas Lingkungan Hidup.
Total ada ribuan tanaman yang menghiasi wajah baru alun-alun.
Dalam waktu dekat juga akan ditanami bunga berwarna lainnya juga supaya menambahkan kesan heritage. (Tribunbanyumas/jti)





