Banyumas – Jejak sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah Belanda ada di Desa Sirau Kecamatan Kemranjen. Kisah kelam yang membuat air mata berurai ketika mengenangnya.
Di tengah areal persawahan di wilayah RW 1, terdapat tanah yang tidak begitu luas. Tanah yang sebelum Indonesia merdeka menjadi kuburan massal pejuang yang gugur dalam medan perang. Warga setempat menamai lahan tersebut sebagai gunung pelor. Tempat bersemayamnya jasad para pejuang yang tak terhitung jumlahnya.
Kayim Pemerintah Desa Sirau Fathrurrozak mengisahkan, anggota keluarga atau sesepuhnya adalah korban kebiadaban penjajah. Sang kakek meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan.
“Kakek saya, ceritanya juga ikut dikubur massal di gunung pelor ini,” tutur Fathrurrozak sembari mengusap air matanya.
Tugu pelor atau Monumen Peluru sebagai penanda jejak pertempuran Kompi Yasir Hadibroto melawan Belanda di wilayah Kemranjen. Pejuang yang melawan diberondong peluru. Tak hanya itu, juga banyak yang ditebas dengan senjata tajam.
Mengenang kejamnya peperangan di sekitar gunung pelor. Fathrurrozak tidak mampu membendung air matanya. Rasa yang sulit terdefinisikan ketika mengingat peristiwa berdarah itu.
Setiap tahun, di hari kemerdekaan RI di gunung pelor diselenggarakan tirakat. Mendo’akan arwah para pejuang yang telah rela berkorban dengan nyawanya untuk mempertahankan Indonesia.
“Setiap tahun ada do’a bersama untuk mereka yang dikubur di gunung pelor,” imbuh Fathrurrozak.
Gunung pelor yang ditumbuhi pepohonan itu dirawat oleh warga. Sehingga kebersihan terjaga. Bagi yang baru pertama kali ke lokasi, tidak akan menyangka bahwa gunung pelor adalah kuburan massal. Tidak ada bekas gundukan atau nisan dan sejenisnya yang melambangkan pemakaman.






