Prof. Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre
Mengenang kalian itu terkenang kebahagiaan. Tak ada sedih. Tak ada kelelahan. Apalagi derita karena negara berantakan. Tak ada. Tak ada sama sekali. Itulah zaman terbaik yang kita punya dan selalu layak dikenangkan.
Mengingat kalian, adalah menyanyikan bait lagu Kerispatih, “Takkan pernah habis air mataku/Bila kuingat tentang kalian/Mungkin hanya kalian yang tahu/Mengapa sampai saat ini dunia masih seperti ini/”
Di kampung, di sekolahan sebuah desa, suara berderap datang bertahap. Satu-satu, seolah-olah kampung ini tidak langsung “menyala” saat pagi. Kesepian begitu menyayat saat subuh menjelang fajar.
Aku berlari di pinggir sungai Kembang, saat cahaya matahari mengintai melalui daun pohon bambu seperti usapan kasihmu yang menyentuh wajahku. Ya, wajah polos kita sewaktu remaja.
Itu waktu bolos kelas. Kami berenang di sungai besar, 200 meter arah utara sekolah. Tradisi yang sudah berulang saat bosan belajar datang. Sepi dan lengang menggerogoti hatiku saat terdengar hanya suara tumbukan batu sungai di seputar pemandian.
Aku merindukan kalian. Aku merindukan lagi bagaimana rasanya bersenda sampai lupa waktu, yang bisa membuatku merasa seperti masih anak-anak yang diinginkan. Dirindukan. Dikenangkan.
Kita paham. Hidup ini bagaikan buku putih. Selalu terbuka dan terlihat rona. Maunya kita menjadi cahaya bagi yang tersesat. Tetapi takdir, sering sebaliknya. Ya, semua takkan berhenti jika keangkuhan masih bertahta. Maka, segeralah bersujud sebelum semuanya sia-sia: muspro jadi bencana.
Suatu kali, kita liburan ke Baturaden. Potongan sorga yang jatuh di lereng gunung Slamet. Kita belajar tetumbuhan dan jenis-jenis bunga. Pelajaran itu yang membuatku jadi petani setelah tua. Yaitu petani bunga. Khususnya bunga deposito saja.
Aku membayangkan kehangatan kulit coklat, napas bau terasi, dan tatapan mata yang membuatku merasa dilihat bukan sebagai berandal, tapi sebagai teman yang punya mimpi dan cita-cita besar: menjadi nobelis pertama dari Indonesia, bidang sastra.
Di waktu lainnya kita main bola, lomba baris berbaris, baca puisi dan catur. Kita sering juara. Dapat mendali emas. Tapi ternyata itu emas palsu. Tak laku dijual, juga tak laku digadai.
Di tengah hujan yang gemuruh seperti ini, aku sering berkhayal kalian duduk di sebelahku, mendebat pikiran-pikiranku yang tembus langit: untuk ditertawakan.
Aku berharap kritikan itu seperti api kecil yang menghangatkan hati dan jantungku yang sudah lama putus harap: berkeping-keping.
Dalam kehancuran negara yang salah urus, aku masih sering teriak pada kalian: iritlah. Tentu itu mengganggu kalian sampai-sampai tak pernah datang menjengukku. Kalian hanya hadir dalam ilusi dan khayalku.
Di ujung waktu rindu ini, kuajak kalian menyanyi. Buat guru-guru kita yang sahaja. “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru/Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu/Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jahasa/
Kawan-kawanku yang kukenang. Sayangnya di antara kita yang kini jadi guru tidak ada selainku. Lah piye jal? Takdir. Salam takzim.(*)








