Rangga Sujali (Seniman dan Penulis)
Era ’70-80 an, istilah Tambleg populer di masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Kredit segala macam kebutuhan rumah tangga. Mulai dari perkakas dapur, busana, hingga barang elektronik ringan sebatas radio atau tape recorder.
Kebanyakan “pengusaha” yang telaten menggeluti bidang ini, datang dari Tasik atau Ciamis. Barang dagangannya dipikul, atau paling mewah dibawa dengan sepeda.
1990-an emerintah menerbitkan regulasi baru berlabel leasing. Yang secara hukum berarti sewa-beli. Dengan kesepakatan debitur menyediakan barang tertentu, dengan analisis kemampuan dan ketentuan, membuat perjanjian sewa-beli dengan kreditur.
Nilai komoditasnya meningkat, seiring kebutuhan konsumtif dan kemampuan ekonomi masyarakat. Dari sekadar kebutuhan rumah tangga sederhana seperti panci, wajan, celana, atau radio, menjadi televisi, kulkas, AC, motor,.mobil, bahkan rumah.
Perusahaan jasa pendanaan pun merebak. Hingga kerap mengabaikan analisis hasil survey, dengan rekayasa kemampuan sumir.
Seiring perkembangan teknologi kemudian, data menjadi lebih terbuka dan mudah diakses. Oleh siapa saja dan dari mana saja. Peluang ini dimanfaatkan oleh dunia pemasaran, yang dengan cerdik atas gaya hidup konsumtif. Dengan bujuk-rayunya, membuat pasar mengaburkan antara kebutuhan-keinginan. Hanya duduk, menunduk, menatap liar ke layar gadget. Desain multimedia memuaskan lapar mata.
Pay later, shopee pay, go pay, dan aneka tambleg modern menawarkan kemudahan. Tak hanya belanja, pinjaman instan pun memerangkap siapa yang terdesak kebutuhan, atau sekadar keinginan. Tak perlu ada rasa malu, dilihat tetangga, karena Mang Engkos menagih dengan suara yang dikeraskan.
Kemudahan dan dimudahkan menimbulkan kelas menengah yang rapuh. Berpenghasilan di atas UMR tapi hidup dalam keseolah-olahan. Tanpa aset nyata. Rumah masih dalam proses angsuran. Mobil, motor, dan barang elektronik dicicil secara periodik. Bahkan piknik ke luar negeri pun dengan pay later.
Tetiba saja kita terjebak debitor raksasa entah di mana. Memangsa.


