Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan sejarah panjang tradisi takbir Idulfitri yang telah mengakar sejak masa Rasulullah SAW. Tradisi ini, menurutnya, terus berkembang menjadi syiar yang hidup di tengah masyarakat, termasuk di Indonesia dengan ragam kekhasan budayanya.
Hal itu disampaikan Menag dalam rangkaian Gema Takbir Akbar Nasional 1447 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3/2026). Ia menekankan bahwa takbir bukan sekadar ritual, melainkan ekspresi spiritual menyambut kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
“Rasulullah SAW melepas bulan Ramadan dengan takbir. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dengan mengumandangkan takbir di ruang-ruang publik,” ujar Nasaruddin dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Dari Masjid hingga Pasar: Syiar yang Menyatukan
Menag menjelaskan, para sahabat seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar tidak hanya mengumandangkan takbir di masjid, tetapi juga di pasar-pasar. Praktik ini kemudian diikuti oleh masyarakat luas, menghadirkan suasana syiar yang semarak dan membuktikan bahwa takbir merupakan bagian dari kehidupan sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Ia menambahkan, kekhasan Indonesia dalam merayakan Ramadan dan Idulfitri turut memperkaya syiar tersebut. Tradisi seperti membangunkan sahur, bedug, hingga takbiran keliling menjadi bagian dari kekayaan budaya umat Islam Tanah Air.
“Indonesia adalah salah satu negara yang paling semarak dalam menyambut Ramadan. Tradisi membangunkan sahur, takbiran, hingga berbagai ekspresi budaya menjadi bagian dari kekayaan umat Islam di sini,” katanya.
Bedug dan Seni Budaya sebagai Sarana Dakwah
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti sejarah panjang bedug yang mengiringi takbir.
Menurutnya, tradisi ini berkembang sejak masa Wali Songo sebagai sarana syiar Islam. Bedug awalnya berfungsi sebagai penanda waktu dan alat komunikasi masyarakat sebelum teknologi pengeras suara ditemukan.
“Bedug menjadi simbol kebersamaan dan penanda penting dalam kehidupan masyarakat. Dari penanda waktu salat hingga berbagai peristiwa sosial, semuanya terhubung dengan tradisi ini,” ujarnya.
Nasaruddin menegaskan bahwa seni dan ekspresi budaya yang mengiringi syiar keagamaan memiliki peran penting dalam memperhalus budi pekerti dan mendekatkan manusia kepada nilai-nilai ketuhanan.
“Segala sesuatu yang indah dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, selama tetap dalam koridor yang baik dan membawa kemaslahatan,” tuturnya.
Ia juga menguraikan makna mendalam dari lafaz “Allahu Akbar” sebagai ungkapan keagungan Allah yang memberikan energi, kekuatan, dan semangat dalam kehidupan beragama. Takbir, tegasnya, menjadi pengingat untuk terus memperkuat keimanan dan menjaga semangat kebaikan pasca-Ramadan.
Gema Takbir Lintas Negara MABIMS
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa Gema Takbir tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas karena melibatkan negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Takbir dikumandangkan secara bergantian melalui sambungan virtual.
“Gema Takbir Idulfitri 1447 H ini tidak hanya berlangsung di tingkat nasional, tetapi juga menggema lintas negara melalui kerja sama MABIMS,” ujar Abu.
Menurutnya, keserentakan perayaan Idulfitri di negara-negara tersebut semakin memperkuat nuansa persatuan dan kebersamaan umat Islam di Asia Tenggara.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk terus memperkuat sinergi regional dalam syiar Islam, sekaligus menghadirkan pengalaman keagamaan yang lebih luas bagi masyarakat,” tandasnya. (Angga Saputra)







