
BANYUMAS, Indiebanyumas.com – Gerakan yang dilancarkan sekelompok anak muda di Cilongok untuk memperjuangkan hasil panen petani beras lokal dalam pendistribusian Program Bansos Sembako mulai memanas. Kepala Desa Jatisaba Kecamatan Cilongok, Warid SH, bahkan mengaku menerima telepon dari nomor tak dikenal dari dua sumber berbeda.
“Saya tidak mengenal, intinya langsung menyampaikan pesan agar saya tidak ikut masuk di dalamnya. Lho, ini aneh, bagaimana mungkin saya tidak ikut mengawasi jalannya distribusi Bansos ketika mendapati komoditas beras dalam program Bansos Sembako dari sisi kualitas buruk, dan itu diungkapkan warga kepada saya, ” Kata Warid kepada indiebanyumas.com.
Warid tahu, apa maksud dari seseorang yang mencoba menghubunginya melalui nomor telpon yang tak bisa terlacak. “Yang pasti dilakukan oleh dua orang berbeda. Isinya, halus namun secara gamblang itu teror. Buat saya, apakah arti ancaman seperti itu, apa salah saya ketika ikut mengontrol apalagi atas laporan warga desa. Terus, ketika dia bicara bahwa semua sudah diatur, ya silahkan. Lalu mana letak kesalahan saya, ” tegas Warid.
Warid menyatakan, dirinya dalam kontek gerakan yang sedang dilakukan kelompok anak muda yang tergabung dalam KUR Marhaen, itu sangat mendukung. Tujuan utama dari gerakan mereka dengan memperjuangkan hasil panen beras petani agar dibeli dengan harga wajar untuk kebutuhan distribusi Sembako itu sudah sesuai dengan nilai-nilai luhur ekonomi kerakyatan serta sesuai dengan prinsip dasar Pancasila.
“Kalau saya mendukung ini gerakan bagus yang membantu masyarakat desa kemudian menjadi salah, maka ada yang aneh dalam jalannya pemerintahan, ” tegasnya.
Warid menambahkan, dirinya sejak awal mendukung gerakan anak muda yang ingin mendampingi petani agar hasil panen mereka bisa dibeli dengan harga wajar.
Sebagaimana diketahui, sejumlah anak muda di Cilongok mulai melakukan gerakan menawarkan kepada e Warong agar membeli beras dari hasil panen petani lokal. Itu dilakukan karena banyak petani lokal mengeluhkan hasil panen mereka bahkan tidak ikut dibeli untuk distribusi Program Bansos Sembako. Mereka akhirnya membentuk kelompok usaha rakyat bernama Marhaen Cilongok, dan siap bersaing
dengan penyedia yang selama ini menyuplai e warong dengan menawarkan produk lokal yang ada.
Aji Pemuji, salah seorang koordinator KUR Marhaen Cilongok mengatakan, meski pihaknya terus mendapatkan respon negatif dari sejumlah pihak, tidak ada sedikitpun usaha untuk bisa memperjuangkan petani mundur.
“Rasa terimakasih kami yang begitu besar kepada sejumlah kepala desa di Cilongok yang merespon baik. Jangan khawatir akan teror apapun. Selama kami berdiri di atas prinsip Pancasila, siapapun kami lawan!, ” tegas Aji. (ang-1)






