INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Soal Isu Serangan Fajar Terjadi di Berbagai Dapil, Prof Yudhie: Menghancurkan Akal Sehat serta Peradaban

Rabu, 14 Februari 2024

BANYUMAS, indiebanyumas.com– Masa tenang Pemilu 2024 yang dimulai 11-13 Februari 2024 pada kenyataannya tidak menimbulkan ketenangan bagi para tim pemenangan Caleg maupun Capres-Cawapres. Sebab, pada 3 hari menjelang pelaksanaan pencoblosan,  justru muncul isu gerakan politik uang dijalankan oleh sejumlah pihak.

Gerakan politik uang yang biasa disebut warga dengan istilah serangan fajar ini terjadi hampir di setiap Dapil. Ada yang dalam bentuk uang, bahkan tejadi pelanggaran dalam bentuk pembagian barang-barang tertentu untuk para calon pemilih.

salah seorang Caleg dari Dapil 6 untuk DPRD Banyumas yang namanya tak mau disebutkan mengungkapkan, serangan politik uang hampir terjadi di setiap daerah ampuannya.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

“Serangan-serangan atau bagi uang untuk pemilih sudah terjadi di setiap daerah saya, ini fakta dari laporan tim kami dan nilai per orang seratus ribu rupiah,” katanya.

Caleg PDIP DPRD Banyumas dari Dapil IV Subagyo SPd juga mengatakan, pihaknya menemukan pelanggaran dalam bentuk pemberian barang berupa liontin yang dilakukan pada masa hari tenang. Itu dilakukan oleh salah satu caleg dari DPR- RI.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

“Kepada kawan-kawan yang melakukan ini, hati-hati dan segera dihentikan karena saya sudah punya beberapa bukti terkait pembagian liontin ini pada hari tenang. Kami juga sudah melaporkan ihwal ini kepada Bawaslu Banyumas, ” kata Subagyo.

Politik uang bertujuan untuk memengaruhi pilihan politik pemilih supaya memilih atau tidak memilih peserta pemilu tertentu pada hari pemungutan suara.

Merujuk pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, pelaku politik uang pada masa tenang atau hari pencoblosan terancam sanksi pidana penjara dan denda hingga puluhan juta rupiah. Berikut perincian aturannya:

Pasal 515

Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

Pasal 523

(2) Setiap pelaksana, peserta, dan/atau tim kampanye pemilu yang dengan sengaja pada masa tenang menjanjikan atau memberikan imbalan uang atau materi lainnya kepada pemilih secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp 48.000.000,00 (empat puluh delapan juta rupiah).

(3) Setiap orang yang dengan sengaja pada hari pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

Rektor Universitas Nusantara, Prof Yudhie Haryono PhD menungkapkan, cara-cara kotor diantaranya dengan menggunakan politik uang itu sangat primitif. Sebab, politik kita itu adalah politik pancasila yang berkeadilan, bermusyawarah, berpersatuan, berperikemanusiaan dan bertuhan.

“Siapapun yang menggunakan uang untuk politik dan tujuan publik sebenarnya bukan hanya merusak politik tapi juga merusak kemanusiaan. Dan, mereka yang merusak kemanusiaan sebenarnya sedang menghancurkan akal sehat serta peradaban,” kata pria kelahiran Desa Kecila, Kemranjen ini.

Yudhie juga menegaskan, tanpa akal sehat, ide dan gagasan, maka masa depan kita semua makin suram.

“Kesuraman ini harus dihentikan. Caranya, hukum sekerasnya pelaku politik uang dan penikmatnya sekaligus,” katanya.

Angga Saputra

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Soroti Kelangkaan Beras Premium di Pasaran, Wapres Minta Bulog Segera Gelontorkan Beras untuk Masyarakat

Selanjutnya

Menanggapi Hasil Quick Count, Ganjar : Percaya Nggak Suara Saya Segitu?

TERBARU

Bibit Unggul Jadi Fokus Festival Kambing Lumbir

Bibit Unggul Jadi Fokus Festival Kambing Lumbir

Senin, 16 Februari 2026

Polresta Banyumas Sterilisasi Klenteng, Pastikan Perayaan Imlek 2577 Kongzili Aman

Polresta Banyumas Sterilisasi Klenteng, Pastikan Perayaan Imlek 2577 Kongzili Aman

Senin, 16 Februari 2026

Perjuangan Tono Jalani Masa PB dengan Berjualan Kelapa Muda

Perjuangan Tono Jalani Masa PB dengan Berjualan Kelapa Muda

Senin, 16 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya

Menanggapi Hasil Quick Count, Ganjar : Percaya Nggak Suara Saya Segitu?

TPS Ganjar-Mahfud DIY Temukan Beberapa Dugaan Kecurangan Pemilu 2024

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com