BANYUMAS – Kerumunan warga di depan SMP Negeri 2 Sokaraja mendadak ramai setelah mobil pengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Sokaraja menjadi perhatian siswa dan orang tua, Jumat (6/3/2026). Peristiwa tersebut viral di media sosial setelah diunggah akun Facebook Seputar Sokaraja.
Dalam video berdurasi sekitar 25 detik yang beredar, terlihat suasana di depan sekolah cukup ramai. Unggahan tersebut menyebutkan adanya aksi penolakan terhadap mobil pengantar MBG oleh satpam sekolah dan sejumlah orang tua wali murid. Aksi itu disebut dipicu keluhan yang berulang mengenai distribusi makanan yang kerap terlambat dari jadwal.
Berdasarkan keterangan dalam unggahan tersebut, mobil boks pembawa kotak makanan baru tiba sekitar pukul 12.30 WIB. Padahal, saat itu jam pulang sekolah sudah lewat. Para siswa yang sebelumnya menunggu di dalam kelas akhirnya diperbolehkan pulang oleh guru.
Akibatnya, ketika mobil MBG datang, sebagian besar siswa sudah meninggalkan sekolah. Kendaraan tersebut hanya disambut oleh petugas keamanan sekolah dan beberapa wali murid yang masih berada di lokasi.
Sejumlah orang tua yang menjemput anaknya mengaku kecewa karena harus menunggu lama hanya untuk memastikan anak mereka mendapatkan jatah makan siang dari program tersebut.
“Sering banget telat. Jemput anak kok harus menunggu lama hanya karena MBG. Kalau tidak sanggup, bubarkan saja dapurnya,” tulis salah satu akun di kolom komentar unggahan FB Seputar Sokaraja dengan menggunakan bahasa Banyumasan.
Komentar serupa juga muncul dari warganet lain yang menyarankan agar bantuan diganti dalam bentuk uang.
“Ganti uang saja. Bolak-balik telat, dikira pekerjaan orang tua hanya menunggu MBG saja. Tadi murid sudah pulang, mobilnya baru datang,” tulis akun lainnya.
Peristiwa di Sokaraja ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara program MBG, terutama terkait ketepatan waktu distribusi logistik yang dinilai menjadi faktor krusial dalam keberhasilan program makan gratis di lingkungan sekolah. Belum lagi soal maraknya keluhan warga sebagai wali siswa yang menerima manfaat program MBG terkait menu yang kurang layak. (Angga Saputra)







