BANYUMAS – Fakta mengejutkan terungkap dalam penelusuran sejarah yang dilakukan pegiat lingkungan Save Slamet. Kawasan wisata Kaligua yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Kabupaten Brebes, ternyata secara administratif merupakan wilayah Banyumas pada era kolonial Belanda.
Temuan ini disampaikan langsung oleh Hendy Tr dan Ady Murba saat mendatangi Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas, Jumat (20/2/2026). Kedatangan mereka bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan terkait erat dengan upaya mitigasi bencana banjir bandang yang rutin melanda wilayah lereng Gunung Slamet.
Berdasarkan riset tim Save Slamet, catchment area atau daerah tangkapan air di Kaligua mengalir langsung ke Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Ironisnya, kawasan hutan lindung di area tersebut kini banyak beralih fungsi menjadi ladang pertanian sayur.
“Pelaku alih fungsi lahan ini bukan warga Banyumas, melainkan oknum dari Brebes. Akibatnya, penggundulan hutan memperparah banjir bandang yang sering menghancurkan infrastruktur jalan, jembatan, dan lahan pertanian warga Pekuncen di sepanjang aliran sungai,” ujar Hendy Tr.
Peta Kolonial Jadi Bukti Otentik
Di Dinas Arpusda, rombongan Save Slamet diterima arsiparis senior, Warsito. Tim menunjukkan sejumlah bukti otentik berupa peta zaman kolonial dan dokumen buku-buku era Hindia Belanda yang menegaskan status Kaligua sebagai bagian Banyumas.
“Beberapa peta yang kami bawa ternyata sama dengan koleksi Arpusda, tapi kami punya dokumen yang lebih lengkap. Kami siap memberikan salinan peta yang tidak dimiliki Arpusda agar bisa diakses publik sebagai bahan edukasi sejarah Banyumas,” jelas Hendy.
Menariknya, data yang dikumpulkan Save Slamet berasal dari institusi terpercaya seperti Universitas Leiden dan Delpher, perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional Belanda.
“Lebih mudah mencari data dari arsip era kolonial dibanding pasca-kemerdekaan. Kesimpulannya jelas: Kaligua dan sekitarnya faktual pernah menjadi bagian Banyumas sampai Indonesia merdeka. Hanya saja, kami belum menemukan dokumen detail kapan dan mengapa pergeseran wilayah itu terjadi,” tegas Hendy.
Di akhir kunjungan, tim Save Slamet bertemu langsung dengan Kepala Dinas Arpusda Banyumas, Agus Anggraito. Ia mengaku terkejut dengan temuan tersebut, namun memberikan apresiasi dan semangat untuk melanjutkan riset.
“Ini temuan yang sangat menarik dan penting, tidak hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga untuk perjuangan lingkungan hidup yang lebih baik,” ujar Agus. (Angga Saputra)








