INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI

Resensi Buku

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI
Kamis, 19 Februari 2026

Prof. Yudhie Haryono PhD
Pengasuh Pesantren Yusufiyah

Judul Asli: History of The Arabs.
Penulis: Philip K. Hitti.
Kategori: Buku Populer.
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta.
Tahun: September, 2008.
Jumlah Halaman: 981 hlm+vi.
Bahasa: Indonesia.
ISBN: 978-979-024-111-4.
Harga: 299.000,-

Kotor dan berdebu. Begitulah nasib perpus dan tumpukan buku-bukuku. Ramadan ini, aku masuk dan dalam sunyi, kutemukan karya guruku yang tak pernah lenyap dari ingatan: buku History of the Arabs (1937) yang ditulis oleh Philip Khuri Hitti.

Kebetulan, ramadan tahun ini (2026), kami mau bedah 3 buku yang mirip isinya dari karya Philip K. Hitti, Albert Hourani dan Eugene Rogan. Ketiganya penulis dan sejarawan dahsyat. Itu terlihat dari karya-karyanya yang sangat serius: tebal dan kaya sekali bibliografinya. Kita pasti kesulitan jika mencari tandingannya di Indonesia.

Pada mulanya, buku History of The Arabs menggambarkan kondisi geografi tanah Arab, dan keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam. Selanjutnya, menuliskan kedatangan Islam, serta kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Lalu, tersaji 39 bab yang dahsyat.

Hitti, tentu saja sejarawan dan orientalis terkemuka dari Lebanon-Amerika yang lahir pada 22 Juni 1886 di Shimlan, Lebanon. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan studi Arab dan Timur Tengah di Amerika Serikat. Bisa dibilang, ia don-nya.

Hitti memperoleh gelar sarjana dari American University of Beirut (1908) dan melanjutkan pendidikannya di Columbia University, guna meraih doktor (1915). Ia kemudian menjadi profesor di Princeton University dan mendirikan program studi Timur Tengah yang pertama di Amerika Serikat.

Hitti menulis beberapa buku penting, termasuk “History of the Arabs” (1937), “The Syrians in America” (1924), dan “Makers of Arab History” (1968). Ia konsultan untuk pemerintah Amerika Serikat dan berperan dalam pengembangan kebijakan Timur Tengah.

Coba bayangkan, ia menghabiskan 10 tahun untuk meriset dan menuliskan buku ini serta mendapatkan sokongan (beasiswa) penuh untuk kerjanya. Adakah kita punya tradisi seperti ini?

Hitti tentu punya posisi pikiran yang provokatif karena berbau orientalis tetapi memiliki kontribusi besar dalam memahami sejarah dan budaya Arab bagi warga dan komunitas akademik Amerika.

Ia menganggap bahwa sejarah Arab adalah bagian dari sejarah dunia, bagian integral dari sejarah semesta, bukan sebagai entitas yang terisolasi. Karenanya, ia menekankan pentingnya memahami konteks sejarah dalam mempelajari Arabisme, termasuk faktor geografis, ekonomi, dan sosialnya.

Hitti juga menghargai kekayaan budaya Arab, termasuk sastra, seni, dan ilmu pengetahuan yang menjadi faktor penting dalam membentuk sejarah Arab, sambil percaya adanya pengaruh lain seperti budaya Yunani dan Persia. Untuk itu, Hitti berusaha mempertahankan objektivitas dalam penelitiannya, meskipun ia memiliki latar belakang Kristen Maronit.

Beberapa kritikus menyebutkan bahwa Hitti cenderung memandang Islam dan Arab dari sudut pandang Barat. Ia dituduh memiliki kecenderungan untuk mengurangi peran Islam dalam membangun kebudayaan dunia.

Dalam hal usaha membandingkan (komparatif) Alquran dengan Perjanjian Baru, terlihat Hitti memiliki fanatisme terhadap agamanya sendiri, yaitu Kristen Maronit, sehingga mempengaruhi penilaiannya terhadap Islam dan Arab. Tetapi, ini masih dalam batas kewajaran dan penulis bisa menolerirnya.

Membaca karya Hitti, kita dapat berhipotesa bahwa islam itu banyak, dan jalan memahaminya begitu kaya, berserakan serta ribut dan perang antar mereka begitu nyata.

Membacanya seperti kisah embun pengetahuan yang tak memilih daun. Kebaikan iptek dan informasi datang tanpa memandang siapa yang menerimanya.

Aku membaca bukunya saat gerimis malam telah berhenti pelan-pelan, lalu suasana mistis pergi perlahan. Dunia kembali memeluk sepi dan keterkejutan. Atas revolusi pemikiran dan pengkhianatan.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Alif Satria Bahari, Penembak Muda Banyumas Melangkah ke Pelatnas Asian Games 2026

TERBARU

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI

RAMADAN INI BELAJAR DARI PHILIP K HITTI

Kamis, 19 Februari 2026

Alif Satria Bahari, Penembak Muda Banyumas Melangkah ke Pelatnas Asian Games 2026

Alif Satria Bahari, Penembak Muda Banyumas Melangkah ke Pelatnas Asian Games 2026

Kamis, 19 Februari 2026

Jam Kerja ASN Banyumas Selama Ramadan 1447 H/2026 M: Senin-Kamis hingga Pukul 14.45 WIB

Jam Kerja ASN Banyumas Selama Ramadan 1447 H/2026 M: Senin-Kamis hingga Pukul 14.45 WIB

Kamis, 19 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Prosesi Kirab Pusaka Hari Jadi Banyumas ke-455 Digelar Minggu, Ini Rutenya

Jumat, 13 Februari 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com