Purbalingga – Sejak satu tahun terakhir petani yang berada di bawah lereng Gunung Slamet, berhasil mengekspor buncis jenis baby kenya ke Singapura.
Salah satunya petani asal Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, bernama Rasmini.
Kepada RRI Rasmini mengatakan dirinya mempunyai lahan 1.600 meter persegi di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja.
Sejak adanya informasi, sejumlah petani menanam buncis baby kenya, untuk pasar ekspor sehingga beralih dari menaman buncis biasa ke baby kenya.
Selain mudah perawatan, juga harga cukup stabil yakni Rp10 ribu perkilogram, bila dibandingkan harga buncis biasa Rabu (25/8/2021) hargannya berkisar Rp1.500 perkilogram.
Diterangkan oleh Rasmini, untuk sekali tanam dirinya bisa menanen hingga 18 kali, atau dalam sehari bisa panen 20 Kg. Hasil panen tersebut, langsung dibeli oleh Koperasi setempat yang membeli hasil seluruh panen petani.
” Perawatan juga sangat mudah, cukup ibu- ibu saja bisa melaksanakan. Karena tidak perlu tempat merambat, harganya juga stabil,” kata Rasmini.
Sementara itu, Kades Kutabawa Budiyono mengatakan di desanya terdapat 4 ribu hektar lahan pertanian, 140 hektar diantaranya ditanami buncis.
Namun untuk petani yang menanam buncis jenis baby kenya belum banyak, masih puluhan orang dengan luasan tanam masih belasan hektar.
Sehingga Pemerintah Desa saat ini, sedang menjajaki kerjasama dengan Koperasi Petani agar ada perjanjian tertulis, mengenai pembelian buncis untuk pasar Singapura.
” Kami akan jajaki kerjasama dengan Koperasi, agar ada perjanjian tertulis. Sehingga petani tidak rugi, ada kepastian mereka terus membeli hasil panen petani,” kata Budiyono.
Beberapa waktu lalu Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, melakukan kunjungan ke lahan pertanian buncis baby kenya yang ada di Kutabawa. Teten mendorong agar ada skema bisnis yang saling menguntungkan, antara Koperasi dengan petani.
Saat ini rata- rata buncis baby kenya produksi petani lereng Gunung Slamet yang diekspor, mencapai 1ton setiap hari. (RA).






