BANYUMAS – Forum Masyarakat Peduli Program MBG (FMP2M) mengingatkan pihak SPPG agar tidak bersikap semena-mena menyusul munculnya kasus penolakan distribusi program MBG di wilayah Sokaraja. Peringatan tersebut disampaikan FMP2M setelah terjadi polemik terkait distribusi menu MBG yang dinilai tidak berjalan sesuai jadwal, sehingga memicu penolakan di SMP Negeri 2 Sokaraja, Kecamatan Sokaraja.
Aktivis FMP2M, Henri Rusmanto, menegaskan bahwa kejadian tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara program, khususnya terkait mekanisme distribusi yang dinilai belum tertata dengan baik.
Menurutnya, distribusi yang tidak terjadwal dapat menimbulkan kebingungan di lapangan, baik bagi pihak sekolah maupun siswa sebagai penerima manfaat program.
“Jangan sampai dengan adanya kasus di Sokaraja ini kemudian pihak SPPG bersikap semena-mena. Justru ini harus menjadi bahan evaluasi agar distribusi berjalan tertib dan sesuai jadwal. Ini belum bicara soal menu yang dalam beberapa waktu ini sedang menjadi pembahasan serius dari banyaknya keluhan masyarakat,” ujarnya.
FMP2M juga mendorong agar pelaksanaan program MBG dapat dilakukan secara lebih transparan dan profesional, sehingga tujuan program untuk membantu masyarakat dapat benar-benar dirasakan oleh para penerima manfaat.
Selain itu, pihaknya berharap seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG dapat membuka ruang komunikasi dan menerima kritik sebagai bagian dari upaya perbaikan program ke depan.
Kasus penolakan distribusi MBG di Sokaraja sebelumnya sempat menjadi perhatian publik setelah beredar video yang menunjukkan kerumunan siswa di sebuah sekolah saat mobil pengangkut menu MBG datang. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh jadwal distribusi yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. (Angga Saputra)








