BANYUMAS – Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pendidikan benar-benar serius memberantas Anak Tidak Sekolah (ATS). Datanya masih tinggi: sekitar 15.000 anak terdata dalam Dapodik.
“Angka ini perhatian serius kami. Program Trilas dari Pak Bupati harus sukses. Intinya, semua anak Banyumas harus kembali sekolah atau minimal punya ijazah,” tegas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Amrin Maruf.
Data 15.000 Ternyata Perlu Disaring Ulang
Tim Penanganan ATS tingkat kabupaten langsung dibentuk. Data dari Dapodik diturunkan ke kecamatan untuk diverifikasi di lapangan.
Hasilnya menarik. Di Kecamatan Tambak, dari sekitar 400 data awal, ternyata hanya 170 anak yang benar-benar ATS. Bahkan, 120 di antaranya terkonsentrasi di satu desa: Desa Watuagung.
“Dari situ kami bisa fokus. Penanganan jadi lebih tepat sasaran,” ujar Amrin.
Apa bedanya strategi kali ini? Pemerintah tak mau menunggu di kelas. Mereka menjemput bola.
“Perang ATS. Itulah istilah kami. Masalah utama ATS adalah jarak sekolah jauh dan ekonomi. Anak-anak banyak membantu orang tua. Makanya guru atau tutor yang datang langsung ke lokasi,” jelas Amrin.
Pendekatan ini dinilai efektif, terutama di pelosok yang akses pendidikannya terbatas.
Libatkan PKBM, Sekolah Swasta, hingga TNI-Polri
Dinas Pendidikan menggandeng banyak pihak. Di Tambak, misalnya, PKBM setempat dan SMP PGRI ditunjuk untuk menangani ratusan anak. Model pembelajarannya fleksibel: ada kelas jauh dan sistem tutor keliling.
Tak hanya itu. Aparat TNI-Polri juga dilibatkan untuk membantu pendataan dan pelaporan. Kolaborasi dengan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah pun digalakkan untuk memperluas jaringan PKBM.
“Targetnya, setiap kecamatan minimal punya satu PKBM. Proses perizinan sedang kami dorong,” tambah Amrin.
Tak Hanya Anak-Anak, Warga Dewasa hingga Warga Binaan Juga Disasar
Program ini inklusif. Tak hanya anak usia sekolah, remaja hingga warga dewasa yang belum punya ijazah juga jadi sasaran. Bahkan, warga binaan di lembaga pemasyarakatan juga mendapat peluang pendidikan.
“Prinsipnya semua harus punya ijazah, minimal setara SMP atau SMA. Ini penting untuk masa depan mereka,” tegas Amrin.
Lanjut ke Perguruan Tinggi? Ada Beasiswa
Pemkab Banyumas tak berhenti sampai pendidikan menengah. Mereka mendorong angka partisipasi pendidikan tinggi lewat beasiswa dan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Jenderal Soedirman dan UIN Saifuddin Zuhri.
“Kami dorong mereka lanjut kuliah, termasuk lewat kelas jauh atau non-klasikal,” pungkasnya.
Dipetakan hingga Level RT/RW
Program Trilhas ini dilakukan bertahap di seluruh kecamatan. Data ATS bahkan dipetakan hingga tingkat RT/RW agar tak ada satu anak pun terlewat.
“Ini kerja besar. Tapi dengan strategi yang tepat, optimistis angka ATS di Banyumas bisa ditekan signifikan,” tutup Amrin. (Angga Saputra)







