Prof Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara
Besok datang May Day atau Hari Buruh Sedunia. Ultah yang jatuh pada tiap tanggal 1 Mei. Gerakan buruh ini berawal dari abad ke-19 di Amerika Serikat, di mana para buruh menuntut hak-haknya, saham, kemerdekaan berserikat dan peri kemanusiaan.
Pertanyaannya kini, di manakah buruh saat 1 persen elit bisa menguasai 53 persen kekayaan kita? Di manakah rakyat saat 15 perusahaan asing menguasai 7500 Triliun tabungan rakyat di bank-bank?
Dan di manakah kaum idealis saat begundal 20 konglomerat menguasai 55 persen tanah-tanah rakyat? Di manakah mereka saat banjir buruh asing? Di mana mereka saat krisis ekonomi berulang terjadi?
Inilah kondisi arsitektur ekonomi kita mutakhir. Lewat sogok, paksa, bedil, kertas (UU) dan jebakan hutang, para konglomerasi asing makin gigantik. Tentu setelah mereka orgasme pasca menyetubuhi para penguasa.
Pesta, golf, perzinahan adalah aksioma konglomerasi dengan penguasa kita. Maka selingkuh, narkoba, lendir, judi dan korupsi jadi menu empat sehat lima paripurnanya.
Kini kartelis, oligarkis, kleptokratis dan predatoris makin jadi aksiologi ekonomi kita. Kini apa yang haram sudah jadi halal. Apa yang tabu sudah jadi niscaya. Apa yang menjijikan sudah mempesona. Tak percaya?
Lihat penguasaan sektor Kebun Sawit saja. Konglo Salim Grup kuasai 500.000 hektar, Sinar Mas 650.000 hektar, Astra 600.000 hektar. Total konglo ini kuasai lebih 2 juta hektar kebun di mana hasil penjualannya selama 25-30 disimpan di luar negeri.
Lalu, kini mereka melakukan transfer pricing-transit export-afiliated company. Aksinya, pabrik pengolahan produk turunan hasil kebun tidak dibangun di Indonesia sehingga harga produk kebun ditentukan sendiri.
Setelah menumpuk kartel dan klepto uang hasil kebun, mereka tarik kembali untuk takeover lahan PTPN. 1-5 tahun ke depan sekitar 2.5 juta hektar lahan milik PTPN harus direplanting. PTPN tak punya uang, lalu mereka masuk. Lalu, kuasai tanah sebagai harta paling berharga sekaligus jadi kartel sawit nomor 1 di dunia sambil mengatur harga di pasar CPO& turunannya yang luar biasa besar uangnya.
Buruh sawitnya gigit jari: tetap miskin. Indonesia tidak banjir uang: tetapi cari utangan ke mana-mana. APBN kini kosong!
Maka, dalam logika neoliberal, buruh adalah deret ukur, bukan asset. Dalam rezim finansial, buruh adalah alat produksi, bukan manusia. Derajat mereka lebih rendah dari uang dan angka-angka inflasi.
Sesungguhnya, dalam negara merdeka mereka subjek. Mereka penentu. Mereka produsen. Mereka manusia. Jika kini mereka paria karena jadi deret ukur, alat produksi dan objek maka sesungguhnya “negara ini belum merdeka.”
Mereka dijajah oleh teman sendiri yang sedang berkuasa. Satu kuasa kapital serakah berwajah pasar.
Padahal, tak ada demokrasi dalam demokrasi pasar. Yang ada hanya mobokrasi. Tak ada ekonomi dalam ekonomi pasar. Yang ada hanya ekonometrika.
Dalam mobokrasi dan ekonometrika, buruh hanya ada jika mampu bayar. They pay, they there. Tapi bagaimana mau bayar jika harga sembako lebih cepat larinya dari UMR?
KINI, tak ada jalan lain bagi kalian kecuali mati syahid atau rebut kuasa negara. Terlalu bodoh jika cita-cita kemerdekaan ditunggu. Apalagi diserahkan perebutannya ke orang dan organ lain. Tidak ada sejarahnya kemerdekaan direbut oleh parpol dan agensi asing.
So, konsolidasikan terus. Bekali pikiran cerdas. Pupuk keberanian. Ambil kuasa negara. Jadilah subjek. Sebab antara kalian dan penjajah sama-sama manusia. Yang membedakan adalah kalian punya hati dan konstitusi. Sementara penjajah hanya punya keserakahan dan jiwa kegelapan.
Ingat, jika sakit jantung, bukan minyak kayu putih obatnya. Jika negara sakit, bukan parpol obatnya. Yang tepat, diagnosa dan tindakan medisnya adalah operasi negara di jantungnya.
Jadilah kalian buruh-buruh itu: “dokter bangsa.” Dokter yang mengobati sakit mental, sakit nalar, sakit agama dan sakit tindakan seluruh elite negara kini.
Kalau bukan kalian, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, lalu kapan? Pimpinlah revolusi ini.(*)





