INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

MORI ADALAH KITA

Resensi Buku#

MORI ADALAH KITA

Prof. Yudhie Haryono PhD.

Sabtu, 17 Januari 2026

Resensor: Prof. Yudhie Haryono PhD
|CEO Nusantara Centre.

Judul Asli: Kerajaan Mori Sejarah Dari Sulawesi Tengah.
Penulis: Edward L. Poelinggomang.
ISBN: 979.3731.303.
Ukuran: 14x21cm
Tebal: 280 hlm+xvi.
Harga: Rp.40.000,-
Berat: 320 g
Kulit Muka: Soft Cover
Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta.
Tahun: 2008
Bahasa: Indonesia

Sudah tengah Januari. Gerimis siang masih menderas saat kopi tubruk di kafe Dopamin tersaji. Iklim di republik memang makin tidak tak terkenali, berbeda dengan 20 tahun lalu saat kita mudah menerka kapan hari hujan dan kapan bulan kering.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Siang itu, saya meneguk kopi dan bersenda bersama kenalan baru bernama Murdan Uun Marunduh, seorang pensiunan yang berdomisili di Jakarta, tetapi berasal dari “suku mori” di kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah.

Tuan Murdan berencana membuat buku biografi raja dan tokoh pejuang yang berasal dari daerahnya. Raja ini gugur dalam perang melawan Belanda di Benteng Wulanderi tanggal 17 Agustus 1907.

Beliau adalah raja kerajaan Mori bernama Mokole Marunduh Datu Ri Tana, Mokole Wawa Inia, Raja Mori XI, 1870. Tentu, ini kisah yang unik dan menarik. Mengapa? Karena jarang kita membaca kisah raja lokal yang melawan penjajah Belanda sampai titik darah penghabisan.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Suku Mori dikenal sebagai masyarakat atau penduduk Kerajaan Mori yang wilayahnya terletak di pesisir timur Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya disekitar Teluk Tomori atau yang juga lazim disebut Teluk Tolo (diapit oleh jazirah tenggara dan jazirah timur laut pulau Sulawesi). Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan yang keren sejarahnya dan inspiratif keberadaannya.

Suku ini kemudian mendirikan kerajaan Mori (kuno) yang memiliki bahasa daerahnya sendiri~dengan dialek seperti Malio’a, Tiu dan Molongkuni, serta memiliki subsuku seperti Molongkuni, Roda, Ulu’ Uwoi, Moiki, Watu, Ngusumbatu dan Mobahono. Mereka juga memiliki pakaian khas kebesaran adat bernama “Lambu” yang kaya makna etnomatematika.

Mereka memiliki tradisi adat yang kuat, penuh warna, pluralis dalam beragama, termasuk prosesi pernikahan seperti Tole’a, dan makanan khas seperti Winalu.

Nama atau kata “Mori” mengingatkanku pada nama keluarga (suku) di Jepang dan Italia. Nama ini merupakan nama klan di Jepang, Italia dan India yang mewariskan kalimat filosofis “memento mori” yang berarti “ingatlah bahwa kita semua akan mati.” Satu frasa yang di Jawa diproyeksikan dalam kata “urip mung mampir ngombe.”

Ngombe (minum) apa? Kita akan bahas pada artikel berikutnya. Semoga pembaca tertarik mengikuti kisahnya.

Setelah meneguk kopi dan menikmati kudapan singkong, Tuan Murdan memberi hadiah dan bekal buku untuk modal menulis biografi. Bukunya berjudul “Kerajaan Mori Sejarah Dari Sulawesi Tengah.” Buku ini mengisahkan sejarah panjang Kerajaan Mori. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan yang berkembang sekitar abad ke-16 sampai runtuhnya. Lalu, dalam perjalanannya bergabung (integrasi) ke Indonesia.

Wilayah kerajaan ini sekarang menjadi kabupaten Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah. Penulisnya Edward L. Poelinggomang, sejarawan yang memang memfokuskan kajian pada sejarah lokal Sulawesi dan lainnya.

Melalui buku ini, penulis diharap menelusuri perkembangan kerajaan itu dari awal hingga kini. Tentu, ini pekerjaan mulia. Sebab, menulis sejarah itu mengurai masa lalu untuk membentuk masa depan. Juga, untuk menyerap yang baik, mendelet yang buruk.

Terlebih, pada kongres ke-2 Wita Mori di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, masyarakat Marowali secara resmi mengusulkan Raja Mori Mokole Marunduh sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Mereka berargumen bahwa usulan ini dimunculkan mengingat jasa, warisan, tradisi dan nilai-nilai baik yang ditinggalkan masih kuat mengakar di masyarakat. Terlebih, sampai saat ini belum ada Pahlawan Nasional dari Sulteng.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Pakar Hukum Tata Negara: PTDH 8 Perangkat Desa Klapagading Kulon Sah dan Mengikat, Intervensi Pemkab Keliru

Selanjutnya

Kampungku

TERBARU

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Selasa, 3 Februari 2026

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Selasa, 3 Februari 2026

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Selasa, 3 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Selasa, 3 Februari 2026

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

Senin, 2 Februari 2026

Selanjutnya
Kampungku

Kampungku

Pencarian Korban Hilang di Hutan Pekuncen Dihentikan Setelah Tujuh Hari, Korban Belum Ditemukan

Pencarian Korban Hilang di Hutan Pekuncen Dihentikan Setelah Tujuh Hari, Korban Belum Ditemukan

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com