Prof M. Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara
Bangsa Muslim. Inilah takdir kita hari ini. Tetapi, jujur saja, secara umum ummat kita miskin (kapital dan intelektual). Tetapi, dalam kemiskinan itu, sayangnya kita masih terus menghidupi fase delusion of grandeur (khayalan kesempurnaan). Itu cuma mimpi-mimpi kaum jahiliyah yang anti nalar, minus tekhnologi dan defisit produksi.
Menghadapi itu semua, ada baiknya kita melakukan refleksi dan proyeksi. Refleksinya, bahwa mentransformasikan ummat; membuat agama sebagai driving force; membuat mentalnya kuat dan unggul, adalah membuat peradaban bangsa kita unggul. Juga berlaku sebaliknya. Gagal kita membuat agama subtantif dan daya dorong kemajuan peradaban, gagalah kita dalam berbangsa.
Sedangkan proyeksinya, kita bisa melakukan empat hal. 1)Mempertanyakan apakah semua teori Islam bersifat menyeluruh. Misalnya, apakah islam di masa lalu dan di daerah Arab sana harus sama dengan di sini dan masa kini. 2)Melakukan indonesianisasi Islam. Yaitu merumuskan preskripsi spesifik terhadap islam agar mampu menjawab problem hari ini dan ke depan biar tepat guna.
3)Menempatkan islam sebagai teori terbuka terhadap falsifikasi dan uji di lapangan. Sebab yang final hanya Tuhan; agama dan perangkat pernik-perniknya bersifat koma, bukan titik. 4)Membuka diri terhapap iptek agar melahirkan hibridasi dan konvergensi. Lahirlah gerak merevolusi agama yang bertradisi iptek: adaptif dan inovatif.
Ini penting. Sebab jika islam ditempatkan sebagai ilusi, hasilnya seperti hari ini. Festivalnya marak, subtansinya punah. Penuh arak-arakan minus barisan. Saleh ritual, bakhil sosial. Mudah dijajah dan tak produktif sehingga jadi begundal kolonial.
Jadi, islam kita harusnya bagaimana? Adalah islam yang terus menjadi, menuju, menyempurna dalam tugas-tugas suci dan raksasa. Islam kita mestinya jadi momentum ummat bersama: memanusiakan manusia. Sebab, hidup dan mati secara keseluruhan adalah energi: cerita dan kisah yang dapat dibagi demi prestasi dan saling empati.
Setidaknya, jika kita telaah 30 pemikiran yang telah tersaji di bulan Ramadan ini, ada empat rekomendasi agar agama (Islam) jadi inspirasi dan daya dorong kemajuan peradaban serta semesta.
Pertama, jalan oksidentalisme. Setidaknya jalan ini ditawarkan oleh Hasan Hanafi, Maryam Jameelah, Ali Syariati, Farid Esak dan Iqbal.
Kedua, jalan perubahan cara berpikir. Setidaknya jalan ini digeluti oleh Harun Nasution, Karen Armstrong, Houroni, Gibb, Schacht, Arkoun dan Ismail Faruqi.
Ketiga, jalan neomodernisme. Setidaknya metoda ini ditempuh oleh Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Syahrur, Tibbi, Hodson, Bellah dan Yunus.
Keempat, jalan postradisionalisme. Beberapa yang menapaki madzab ini adalah Abdurrahman Wahid, Qodri Azizy, Husein Nasr, Khomaini, Rumi, Asghar Ali, Nashir Hamid, Schimmel, Aljabiri dan Jalaluddin Rakhmat.
Tentu saja tiap pakar itu telah mengusahakannya sehingga mendapatkan momentum. Mereka telah memaknainya pada setiap kejadian. Antar satu tapal dengan kreasi berikutnya. Terlebih, mereka tak pernah benar-benar hidup dan tak pernah benar-benar mati. Itulah mengapa idenya, gagasannya dan warisannya hidup abadi.
Bagi mereka, hidup dan mati hanya pergiliran yang menentukan: akan dikenang sebagai apa nantinya. Sebagai fundamentalis atau sebagai subtansialis.
Kini, mari kita ingat. Saat lahir, kita tidak tahu siapa yang riang gembira atas kelahiran kita semua. Saat mati, kita juga tidak tahu siapa yang menangis sedih atas kematian kita semua.
Dalam absurditas inilah kita memilih mewariskan islam yang membuat pemeluknya tersenyum gagah menghadapi kehidupan. Memimpikan peradaban: merayakan ilmu, iman dan amal secara resiprokal.(*)






