INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

MENTRANSFORMASIKAN UMMAT ADALAH MENTRANSFORMASIKAN BANGSA

Senin, 26 Februari 2024

 

Prof M. Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara

Bangsa Muslim. Inilah takdir kita hari ini. Tetapi, jujur saja, secara umum ummat kita miskin (kapital dan intelektual). Tetapi, dalam kemiskinan itu, sayangnya kita masih terus menghidupi fase delusion of grandeur (khayalan kesempurnaan). Itu cuma mimpi-mimpi kaum jahiliyah yang anti nalar, minus tekhnologi dan defisit produksi.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Menghadapi itu semua, ada baiknya kita melakukan refleksi dan proyeksi. Refleksinya, bahwa mentransformasikan ummat; membuat agama sebagai driving force; membuat mentalnya kuat dan unggul, adalah membuat peradaban bangsa kita unggul. Juga berlaku sebaliknya. Gagal kita membuat agama subtantif dan daya dorong kemajuan peradaban, gagalah kita dalam berbangsa.

Sedangkan proyeksinya, kita bisa melakukan empat hal. 1)Mempertanyakan apakah semua teori Islam bersifat menyeluruh. Misalnya, apakah islam di masa lalu dan di daerah Arab sana harus sama dengan di sini dan masa kini. 2)Melakukan indonesianisasi Islam. Yaitu merumuskan preskripsi spesifik terhadap islam agar mampu menjawab problem hari ini dan ke depan biar tepat guna.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

3)Menempatkan islam sebagai teori terbuka terhadap falsifikasi dan uji di lapangan. Sebab yang final hanya Tuhan; agama dan perangkat pernik-perniknya bersifat koma, bukan titik. 4)Membuka diri terhapap iptek agar melahirkan hibridasi dan konvergensi. Lahirlah gerak merevolusi agama yang bertradisi iptek: adaptif dan inovatif.

Ini penting. Sebab jika islam ditempatkan sebagai ilusi, hasilnya seperti hari ini. Festivalnya marak, subtansinya punah. Penuh arak-arakan minus barisan. Saleh ritual, bakhil sosial. Mudah dijajah dan tak produktif sehingga jadi begundal kolonial.

Jadi, islam kita harusnya bagaimana? Adalah islam yang terus menjadi, menuju, menyempurna dalam tugas-tugas suci dan raksasa. Islam kita mestinya jadi momentum ummat bersama: memanusiakan manusia. Sebab, hidup dan mati secara keseluruhan adalah energi: cerita dan kisah yang dapat dibagi demi prestasi dan saling empati.

Setidaknya, jika kita telaah 30 pemikiran yang telah tersaji di bulan Ramadan ini, ada empat rekomendasi agar agama (Islam) jadi inspirasi dan daya dorong kemajuan peradaban serta semesta.

Pertama, jalan oksidentalisme. Setidaknya jalan ini ditawarkan oleh Hasan Hanafi, Maryam Jameelah, Ali Syariati, Farid Esak dan Iqbal.

Kedua, jalan perubahan cara berpikir. Setidaknya jalan ini digeluti oleh Harun Nasution, Karen Armstrong, Houroni, Gibb, Schacht, Arkoun dan Ismail Faruqi.

Ketiga, jalan neomodernisme. Setidaknya metoda ini ditempuh oleh Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Syahrur, Tibbi, Hodson, Bellah dan Yunus.

Keempat, jalan postradisionalisme. Beberapa yang menapaki madzab ini adalah Abdurrahman Wahid, Qodri Azizy, Husein Nasr, Khomaini, Rumi, Asghar Ali, Nashir Hamid, Schimmel, Aljabiri dan Jalaluddin Rakhmat.

Tentu saja tiap pakar itu telah mengusahakannya sehingga mendapatkan momentum. Mereka telah memaknainya pada setiap kejadian. Antar satu tapal dengan kreasi berikutnya. Terlebih, mereka tak pernah benar-benar hidup dan tak pernah benar-benar mati. Itulah mengapa idenya, gagasannya dan warisannya hidup abadi.

Bagi mereka, hidup dan mati hanya pergiliran yang menentukan: akan dikenang sebagai apa nantinya. Sebagai fundamentalis atau sebagai subtansialis.

Kini, mari kita ingat. Saat lahir, kita tidak tahu siapa yang riang gembira atas kelahiran kita semua. Saat mati, kita juga tidak tahu siapa yang menangis sedih atas kematian kita semua.

Dalam absurditas inilah kita memilih mewariskan islam yang membuat pemeluknya tersenyum gagah menghadapi kehidupan. Memimpikan peradaban: merayakan ilmu, iman dan amal secara resiprokal.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

BEYOND RELIGIONS

Selanjutnya

AZALEAK QIRENAK BETRISYAK

TERBARU

Pemprov Jateng Dekatkan Layanan Publik Lewat Program Ngopeni Omah Ngelakoni Sesarengan

Pemprov Jateng Dekatkan Layanan Publik Lewat Program Ngopeni Omah Ngelakoni Sesarengan

Sabtu, 14 Februari 2026

Save Slamet Tolak Ekspansi Perumdam Tirta Perwira ke  Wilayah Banyumas

Save Slamet Tolak Ekspansi Perumdam Tirta Perwira ke Wilayah Banyumas

Sabtu, 14 Februari 2026

Putri Advokat Kondang di Banyumas Gelar Resepsi Bertema Pengadilan, Tamu Serasa Hadiri Sidang

Putri Advokat Kondang di Banyumas Gelar Resepsi Bertema Pengadilan, Tamu Serasa Hadiri Sidang

Sabtu, 14 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Polemik Hadiah Jalan Sehat HUT ke-80 RI Tuntas, EO Pastikan Mobil & Umroh Terbayar

Polemik Hadiah Jalan Sehat HUT ke-80 RI Tuntas, EO Pastikan Mobil & Umroh Terbayar

Jumat, 13 Februari 2026

Selanjutnya

AZALEAK QIRENAK BETRISYAK

PKS Pastikan Raih Satu Kursi DPR RI di Dapil Jateng VIII

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com