![]()
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas bersama pemerintah pusat mufakat menggali lebih dalam potensi Sungai Serayu. Pertama, upaya yang akan dilakukan yaitu mengemas aliran sungai terbesar di Kabupaten Banyumas itu supaya menarik perhatian pemburu lokasi tamasya. Pemerintah juga ingin agar masyarakat yang menetap di desa-desa pinggiran sungai memperoleh manfaat dari kembalinya jalur transportasi lewat air.
Saat ini sudah dua dermaga dibangun di atas aliran Sungai Serayu. Dua dermaga wisata Sungai Serayu itu terletak di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, dan Desa Papringan, Kecamatan Banyumas. Dermaga tersebut dibangun atas dukungan Direktorat Jenderal Kementerian Perhubungan Darat.
Rencananya, dua lagi dermaga yang sama bakal didirikan tahun ini. Anggaran sudah dipersiapkan dari pemerintah pusat. Lokasinya juga sudah dipetakan, di Desa Tumiyang dan Desa Sokawera. Jika tidak ada aral melintang, tahun ini empat dermaga sudah didirikan di sepanjang Sungai Serayu.
Rencana Pemkab Banyumas yang direspon baik oleh Kementrian Perhubungan Darat di Jakarta itu, jelas tak mungkin disia-siakan. Penanggungjawab di tingkat daerah yaitu Dinas Perhubungan Banyumas terus melakukan berbagai upaya supaya perencanaan yang telah mereka susun, bisa berjalan sesuai rencana. Pandemi memang masih menghantui negeri, tapi kesempatan memang jarang datang dua kali.
“Kalau menunggu pandemi selesai, kita belum tahu kapan waktunya ini akan berakhir, dan untuk itu penting sekali mengutamakan protokol kesehatan agar kegiatan tetap berjalan. Saat ini, kami sedang menyempurnakan aplikasi yang kita namai Angsamas, sebagai pintu masuk untuk mengenalkan rencana Pemkab Banyumas menggali potensi Sungai Serayu,” kata Kepala UPT Sarana dan Prasana Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banyumas, Taryono.
Angsamas merupakan akronim dari Angkutan Serayu Banyumas. Melalui aplikasi yang bisa diakses siapa saja di muka bumi, Angsamas menjadi ruang sosialisasi sebelum seluruh sarana pendukung di Sungai Serayu selesai dibangun. Terutama adalah bangunan dermaga utama yang titiknya sudah ditentukan paling strategis, di Kedunguter, Banyumas.
Kata Taryono, usai lebaran sekitar awal bulan Juni Dishub Banyumas sudah akan melakukan trial (Percobaan) membuka akses Angsamas. Bersamaan dengan itu, jajarannya juga memulai begerak untuk lebih konsentrasi sebelum dua dermaga didirikan.
“Kita sudah menyiapkan pelatihan-pelatihan untuk masyarakat yang ingin ikut bersama-sama berpatisipasi mendukung program pemerintah, khususnya untuk teknis keselamatan dalam menggunakan berbagai jenis kapal menyusuri rute sesuai jalur transportasi dari empat dermaga menuju derma utama. Sosialisasi ini juga berlaku secara nasional, karena kemungkinan juga banyak yang ingin berinventasi dari rencana pemerintah di Sungai Surayu ini,” kata Taryono.
Kepala Dishub Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadie SSos Msi menjelaskan, dermaga utama dibangun di Kedunguter karena dalam rencana menggali potensi Sungai Serayu ini, Pemkab Banyumas juga memilki dua tujuan. Selain memoles Sungai Serayu agar menarik untuk dikunjungi masyarakat sebagai tempat wisata, adanya dermaga-dermaga bahkan sampai lintas kecamtan tidak lepas dari sejarah masyarakat Banyumas tempo dulu yang menjadikan sungai sebagai jalur transportasi utama.
“Dermaga utama kenapa di Kedunguter? Ini tak lepas dari sejarah masa lalu dimana tradisi masyarakat Banyumas menjadikan sungai sebagai jalur utama transportasi. Itu terjadi sebelum ibukota Kabupaten Banyumas berpindah ke Purwokerto. Nah, saat inilah, jalur itu kembali dibuka, tetapi tak hanya untuk kepentingan transportasi masyarakat umum melaikan juga sebagai wahana wisata yang berkesinambungan dari satu desa ke desa lainnya, menuju pusat kota di Banyumas,” kata Agus ketika dirinya hadir menjadi pembicara utama dalam IndieCast di Bulus Pepe Kafe Cilongok, Kamis (6/5/2021).
Tahapan pendirian empat dermaga sampai ke dermaga utama di Kedunguter sudah melalui perhitungan matang. Pemkab Banyumas dalam dua tahun ke depan juga sedang ngebut untuk menjadikan Banyumas sebagai kawasan kota lama. Terlepas dari keberadaan tempat bersejarah disana seperti Museum Wayang, Masjid Nur Sulaiman, Taman Sari dan eks Pendopo si Panji. Di sekitar tempat-tempat yang berada di satu komplek tersebut, juga masih berdiri kokoh bangunan-bangunan kuno bergaya khas artistektur Belanda.
“Dari Kedunguter atau dermaga utama itulah, kapal transportasi berhenti untuk mengantarkan para penumpang berjalan tidak jauh dari komplek yang rencana akan dipoles menjadi kawasan kota lama, dan saat ini pun sudah dimulai programnya menyesuaikan dengan agenda jalur transportasi sungai Serayu,” kata Agus.
Dia menambahkan, nantinya bila seluruh proses untuk program ini selesai, kawasan wisata di sepanjang Sungai Serayu akan memiliki dampak bagi masarakat secara berkesinambungan. Dari sektor pemberdayaan ekonomi kerakyatan. seperti adanya sentra UMKM dan kuliner di dekat dermaga wisata Tambaknegara dan Papringan. Kemudian di dermaga selanjutnya sampai tujuan singgah ke kawasan kota lama yang sudah sejak lama memang dikenal sebagai pusat kuliner khas Banyumas.
“Belum lagi untuk karya seni batik Banyumas, serta banyak program lain ketika kawasan kota lama sudah dibangun, berkesinambungan dengan jalur transportasi yang kembali menjadi sarana utama warga masyarakat dari satu desa ke desa lain, hingga singgah ke pusat kota Banyumas,” terang Agus.
Pemkab Banyumas sebenarnya punya rencana untuk mengujicoba keberadaaan dermaga yang telah dibangun. Sayangnya, kendala yang dihadapi saat ini yaitu belum adanya perahu yang sesuai rencana, akan dipakai sebagai alat transportasi utama.
“Dermaga yang telah ada berdekatan dengan kapal-kapal kecil tradisional masyarakat di sekitar sungai, tetapi kapal itu berukuran kecil dan bukan dipakai untuk kegiatan wisata,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadie Ssos MSI.
“Anggaranya terlalu besar, kita masih menunggu untuk itu. Satu kapal butuh dana sekira Rp 2 miliar. Kapal yang akan digunakan memang tidak terlalu besar, berkapasitas 20 orang sampai 30 orang, tetapi harus punya tingkat keamanan yang tinggi serta kenyamanan yang baik, ” jelasnya.
Rencana Pemkab Banyumas menggali secara optimal Sungai Serayu sebagai ikon daerah, tidak lepas dari tujuan agar setiap wilayah di Banyumas memiliki titik ‘hidup’ dan menghidupi wilayah itu sendiri.
Kata Agus, ketika wacana pembagian wilayah menjadi tiga yaitu Banyumas Barat, Kota Purwokerto dan Banyumas, maka hanya wilayah selatan sampai ke timur yang sampai sekarang belum mengoptimalkan potensi yang telah tergali untuk menjadi penyelaras wilayah itu sendiri.
“Kita tahu di Purwokerto jelas ada sektor jasa dan perdagangan yang kuat ketika objek wisata Baturaden dikenal luas. Juga di wilayah Banyumas Barat, objek wisata berkembang pesat, sektor perdagangan juga terpusat di Pasar Ajibarang. Lalu, wilayah Banyumas dan sekitarnya yang sebenarnya punya potensi besar tetapi belum digali, Sungai Serayu serta sejarah yang puya nilai tinggi,” tutur Agus.
Penggalian potensi ini tentu tak lepas dari sejarah bahwa dulu ibukota Kebupaten Banyumas berada di Banyumas dan jalur transportasi utama adalah sungai dengan menggunakan kapal-kapal kecil. Setelah ibukota pindah ke Purwokerto, transportasi jalur sungai menjadi sepi dan Bupati berniat membangun kembali Banyumas disertai dengan rencana lain yaitu dijadikan struktur kota lama.
Hal ini sudah matang direncanakan dari jauh-jauh hari, bahkan satu dermaga sebagai terminal dari semua ‘sandaran’ itu rencananya akan dibangun pada 2022, tak jauh dari jantung kota Banyumas.
Selain direncanakan menjadi objek wisata serta ikon baru Kabupaten Banyumas, pembangunan dermaga serta pengadaan jalur transportasi sungai tentunya mengutamakan fungsi sebagai penghubung antar daerah di Banyumas, khususnya untuk wilayah yang masih sulit dilayani oleh angkutan umum disebabkan oleh faktor geografis. Diharapkan, optimalisasi ini dapat memperlancar konektivitas dan kemudahan akses transportasi dari hulu ke hilir.





