NASIONAL – Aula Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) menjadi saksi diskusi intelektual bertajuk “Kelas Jenius Pemikiran Jenderal Besar AH Nasution tentang Kepemimpinan Indonesia dan National Security Council” pada Sabtu, 15 Februari 2025 kemarin.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Nusantara Centre (YMNK – Yayasan Membangun Nusantara Kita) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta serta mendapat dukungan dari Yayasan Rabu Biru Indonesia.
Seminar yang dipandu oleh Prof. Yudhie Haryono dan M. Hatta Taliwang ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten. Di antaranya, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin, M.Sc., M.Eng. (Rektor UICI); Marsma TNI Dr. B.D.O. Siagian, S.E., M.Si.(Han) (WANTANNAS); Dr. Mulyadi Opu Andi Tadampali, S.Sos., M.Si. (akademisi UI); serta Mayjen TNI Assc. Prof. Dr. Budi Pramono, S.IP., M.M., M.A., GSC., CIQaR., CIQnR., MOS., MCE., CIMMR. (staf ahli KSAD). Mayor Jenderal TNI (Purn.) Kivlan Zen, S.I.P., M.Si., juga hadir untuk berbagi pengalaman pribadinya tentang sosok AH Nasution.
Pak Nas: Guru, Bukan Politisi
Sebagai tokoh yang turut mengawal lahirnya Republik Indonesia, Jenderal Besar AH Nasution bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga pemikir strategis. Prof. Laode Masihu Kamaluddin menegaskan bahwa Nasution adalah negarawan sejati, bukan politisi.
“Ideologi Pak Nas adalah pendidikan. Beliau berlatar belakang sebagai guru, mirip dengan Jenderal Soedirman,” ujar Prof. Laode.
Nasution memandang kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan, melainkan penguatan sumber daya manusia sebagai pilar utama pertahanan negara. Pemikirannya tentang kepemimpinan dan keamanan nasional tetap relevan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Urgensi Dewan Keamanan Nasional
Marsma Oktav Siagian menyoroti pentingnya National Security Council (NSC) bagi Indonesia, mengingat luasnya wilayah negara ini yang setara dengan 33 negara di Eropa.
“Bahkan negara kecil seperti Brunei Darussalam dan Timor Leste sudah memiliki NSC. Mengapa kita belum?” ujarnya.
Menurutnya, pembentukan NSC akan membantu Indonesia dalam merancang strategi keamanan yang lebih terstruktur, khususnya dalam menghadapi tantangan geopolitik global dan ancaman domestik.
Siagian juga memaparkan konsep keamanan nasional ala Pak Nas, yang tidak hanya berfokus pada pertahanan militer, tetapi juga stabilitas politik dan sosial-ekonomi. Ia menegaskan bahwa keamanan adalah tanggung jawab semua elemen bangsa agar Indonesia mampu menghadapi ancaman dari luar. Pemikiran ini tetap relevan dan layak untuk diimplementasikan.
Kisah Kivlan Zen tentang AH Nasution
Mayor Jenderal (Purn.) Kivlan Zen berbagi pengalamannya berinteraksi dengan Pak Nas. Menurutnya, Nasution adalah prajurit yang teguh memegang Sapta Marga.
“Pak Nas tidak tertarik pada politik atau kekuasaan. Fokusnya adalah menjaga stabilitas negara dan mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Kivlan.
Ia menambahkan, integritas dan kesederhanaan merupakan prinsip yang selalu dijunjung Nasution. Hal ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati harus berlandaskan pada pengabdian kepada negara, bukan kepentingan pribadi.
Dwifungsi ABRI dan Tantangan Hari Ini
Dr. Mulyadi Opu Andi Tadampali membahas konsep Dwifungsi ABRI, yang digagas Nasution dan kemudian diterapkan pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.
“Dwifungsi ABRI yang dijalankan Pak Harto pada era Orde Baru sebenarnya berasal dari pemikiran jenius Pak Nas. Namun, konsep ini sering disalahpahami sebagai Kekaryaan ABRI,” jelasnya.
Ia juga menarik benang merah antara kondisi politik, hukum, dan ekonomi Indonesia saat ini dengan masa ketika Nasution masih aktif. “Jika Pak Nas masih hidup, mungkin beliau akan melakukan tindakan serupa dengan tahun 1952, ketika menentang campur tangan sipil dalam urusan militer,” tambahnya.
Pada tahun 1952, sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Nasution memimpin demonstrasi di depan Istana Merdeka. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap campur tangan sipil dalam militer, bahkan moncong meriam sempat diarahkan ke Istana oleh Kemal Idris, salah satu panglima daerah di bawah komando Nasution.
Pengabdian Seorang Prajurit
Seminar ditutup dengan pemaparan Mayjen TNI Budi Pramono, yang menyoroti karakter optimis dan dedikasi tinggi Nasution terhadap negara. Ia mengutip salah satu pernyataan Pak Nas yang mencerminkan prinsip hidupnya sebagai seorang prajurit:
“Tingkat pengabdian serdadu adalah pada kebenaran yang bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Seminar ini bukan sekadar diskusi, tetapi juga momen bagi generasi muda untuk memahami pemikiran seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Dengan menggali kembali gagasan AH Nasution, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin baru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas serta keteguhan dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pemikiran mengenai kepemimpinan, keamanan nasional, dan integritas menjadi sangat penting untuk diwariskan kepada generasi muda. Kita berharap Nusantara Centre dan para mitra terus menginspirasi generasi muda melalui “Kelas Jenius” seperti ini. Semoga.(*).
Riskal Arief
Peneliti Nusantara Centre









