Hujan mengguyur Seattle seperti biasa. Di kota yang dijuluki Emerald City itu, lahirlah sebuah genre yang mengubah wajah musik rock dunia: grunge. Tiga kord gitar berdengung dengan distorsi kotor, lirik penuh kepedihan, dan sikap panggung yang anti-kemapanan. Itulah resep sederhana yang justru meledak di era 1990-an.
Namun di Indonesia, ada satu nama yang melambung jauh di atas yang lain: Nirvana. Di kalangan penikmat grunge Tanah Air, band bentukan Kurt Cobain ini bukan sekadar grup musik, melainkan ikon. Sementara Pearl Jam dan Soundgarden juga dikenal, popularitas Nirvana seakan berada di liga sendiri.
Hasil pencarian di Google membuktikan: Nirvana mencatatkan 10,4 juta hasil, sementara Pearl Jam 2,3 juta dan Soundgarden hanya 480 ribu. Tapi jangan salah—ketika bicara soal musisi, ceritanya berbeda. Chris Cornell justru unggul dengan 22,2 juta hasil pencarian, mengalahkan Kurt Cobain yang 11,4 juta, dan Eddie Vedder yang 501 ribu.
Mengapa bisa begitu? Chris Cornell tetap berkarya hingga akhir hayatnya. Bersama Soundgarden ia merilis King Animal (2013), lalu bersama Audioslave ia meraih panggung global. Belum lagi lagu tema James Bond, You Know My Name, yang melekat abadi.
Dari Kota Hujan ke Seluruh Dunia
Seattle dan Bogor punya kesamaan: hujan turun hampir sepanjang tahun. Tapi dari kota basah itulah lahir adegan musik yang kering akan kepalsuan. Grunge mulai menggeliat sejak pertengahan 1980-an, dipelopori band-band seperti Green River, Mudhoney, dan Soundgarden. Ciri khasnya? Gitar sederhana, distorsi tebal, perpaduan punk, metal, dan indie rock.

Tidak semua personel band besar Seattle lahir di sana. Eddie Vedder, misalnya, berasal dari San Diego. Ia sampai ke Seattle lewat kaset demo yang dikirim Jeff Ament, Stone Gossard, dan Mike McCready—personel yang kelak menjadi tulang punggung Pearl Jam. Kaset itu sampai ke tangan Eddie berkat mantan drummer RHCP, Jack Irons. Eddie pun menulis lirik, merekam suaranya, mengirim kembali ke Seattle, dan sejarah pun tercipta.
Bahkan Duff McKagan, bassis Guns N’ Roses, juga putra Seattle. Sebelum grunge meledak, Duff bermain di skena punk kota tersebut.
Nirvana: Bintang yang Padam Terlalu Cepat

Kisah Nirvana dimulai di Aberdeen, sekitar 100 mil dari Seattle. Kurt Cobain (vokal, gitar) dan Krist Novoselic (bass) pertama kali bertemu pada 1985. Nama band berganti dari Stiff Woodies, Skid Row, hingga akhirnya menjadi Nirvana pada 1987. Drumer Chad Channing ikut serta, namun formasi legendaris baru terbentuk setelah Dave Grohl bergabung pada 1990.
Album Bleach (1989) hanya dibuat dengan modal 600 dolar, tapi terjual 35 ribu kopi. Kesuksesan sejati datang lewat Nevermind (1991). Single Smells Like Teen Spirit menghantam radio-radio dunia, menggeser album Dangerous milik Michael Jackson dari puncak tangga lagu. Nirvana menjadi band terbesar di planet ini dalam sekejap.
Namun ketenaran justru menghancurkan Cobain. Depresi, kecanduan heroin, dan tekanan hidup membuatnya menarik pelatuk pistol di rumahnya di Seattle pada 5 April 1994. Ia meninggal di usia 27 tahun—bergabung dengan “Klub 27” bersama Jim Morrison, Janis Joplin, dan Jimi Hendrix.
Setelah kepergian Kurt, Dave Grohl membentuk Foo Fighters dan menjadi salah satu rockstar terbesar generasi berikutnya. Krist Novoselic beralih ke politik. Sementara nama Nirvana tetap abadi, terutama di hati para remaja Indonesia yang masih mengenakan kaos wajah Cobain hingga kini.
Grunge di Indonesia: Tiga Kord dan Kemeja Flanel

Mengapa grunge begitu lekat di Indonesia? Jawabannya sederhana: ekonomis. Cukup dengan tiga kord gitar, sebuah lagu grunge bisa lahir. Gaya berpakaiannya pun murah: jeans belel, kaos oblong, kemeja flanel, dan sepatu Converse. Tidak heran, di pentas-pentas seni sekolah menengah tahun 1990-an hingga awal 2000-an, lagu-lagu ala Seattle selalu bergema.
Meski invasi nu metal (Limp Bizkit, Linkin Park) dan garage rock (The Strokes) sempat menggeser, grunge tidak pernah benar-benar mati. Pearl Jam masih merilis Lightning Bolt pada 2013. Soundgarden juga aktif hingga kematian Chris Cornell pada 2017.
Tapi tetap, Nirvana adalah yang paling “menggurita”. Bahkan 30 tahun setelah Nevermind, anak-anak muda masih hafal lirik Come As You Are. Mereka tahu persis bagaimana Kurt mengakhiri hidupnya, tapi mungkin tidak terlalu mengenal Chris Cornell atau Eddie Vedder.
Catatan Akhir: Lebih dari Sekadar Genre

Para pelopor grunge sendiri enggan disebut sebagai pelopor. Kurt Cobain pernah berkata bahwa musiknya hanyalah “punk yang miskin konsep.” Mereka menunjuk Neil Young sebagai Godfather of Grunge. Tapi bagi jutaan pendengar di Indonesia, label itu tak penting.
Yang tersisa adalah lagu-lagu yang mengiringi masa remaja, rasa marah yang tersalurkan melalui distorsi, dan rasa kehilangan yang abadi. Nirvana mungkin sudah bubar, Kurt sudah tiada, tapi gema tiga kord dari Seattle itu dengan segala kotor dan jujurnya tak akan pernah benar-benar padam.
Angga Saputra
Sumber: Berbagai artikel daring dan data Google Search








