Angga Saputra
Kepergian Donny Fattah bukan sekadar berita duka yang lewat dalam derasnya arus informasi harian. Ini semacam pemberhentian mendadak, seperti bass yang tiba-tiba mati di tengah solo gitar yang sedang melengking. Ada ruang kosong yang terbuka, dan ruang itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Dalam hiruk-pikuk pemberitaan musik Indonesia, kita terlalu sering terjebak pada apa yang permukaan: siapa yang sedang naik, album mana yang laris, atau kontroversi apa yang sedang menghangat. Tapi sesekali, kabar seperti ini memaksa kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengingat bahwa musik yang kita nikmati hari ini tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia dibangun, dirumuskan, dan diperjuangkan oleh mereka yang datang lebih dulu.
Donny Fattah adalah salah satu arsitek itu
Bersama God Bless, ia menciptakan cetak biru rock Indonesia yang hingga hari ini masih kita dengar gemanya. Bukan hanya dalam catatan sejarah tentang panggung pertama di TIM pada 1973, tapi dalam nada-nada bass yang terus dipelajari oleh generasi setelahnya. Ia termasuk dalam kategori musisi yang tidak perlu mencari sorot lampu panggung karena permainannya sendiri yang menciptakan cahaya.
Tapi di luar rekor dan diskografi, yang tertinggal dari Donny adalah cara ia hidup di antara orang-orang. Cerita tentang kehangatannya, tentang perannya sebagai promotor di masa transisi industri musik, tentang jejaknya yang berlanjut pada generasi berikutnya semua itu adalah bagian dari komposisi besar yang tidak tercatat dalam lembaran not balok.
Kami menurunkan tulisan ini bukan dalam rangka memuja atau melebihkan. Tetapi sebagai pengingat bahwa dalam musik, seperti dalam hidup, setiap nada punya bobotnya sendiri, bahkan nada-nada yang tidak paling keras sekalipun. Dan ketika nada terakhir dimainkan, yang tersisa bukanlah hening, melainkan resonansi.
Selamat beristirahat, Donny Fattah. Bass-mu tetap bergema.








