Di sebuah kontrakan sederhana di kawasan Wehalim, Bandar Lampung, hidup seorang pria yang dulu pernah menjadi mesin rekrutmen terbaik bagi organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Namanya Ken Setiawan. Kini, dinding kontrakannya mungkin tak menampilkan atribut keagamaan yang keras, melainkan tumpukan buku dan catatan tentang dialog lintas iman. Di sinilah, dari kesederhanaan, ia membangun gerakan melawan radikalisme yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Ken Setiawan bukanlah sosok asing di kalangan pemerhati deradikalisasi. Namanya dikenal sebagai pendiri NII Crisis Center atau Pusat Rehabilitasi Korban NII, sebuah lembaga yang ia dirikan untuk membantu para mantan anggota kelompok radikal kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perjalanannya dari seorang yang meyakini Pancasila sebagai “togut” (berhala) hingga menjadi pengkhotbah toleransi adalah sebuah kisah yang sarat makna tentang pertobatan ideologis dan penemuan spiritualitas yang hakiki.
Masa Lalu yang Disesali
Ada penyesalan mendalam yang membekas di diri Ken. Bukan sekadar karena ia pernah “buang waktu, tenaga, dan materi,” tetapi karena ia sadar telah menggunakan agama untuk membangun kebencian. Di masa lalu, agama membuatnya menjadi pribadi yang pemarah. Ia mengakui bahwa pemahamannya dulu sempit; ia menafsirkan kitab suci dengan ego dan hawa nafsu, melahirkan sikap eksklusif yang menolak perbedaan.
Namun, dari dasar penyesalan itulah ia menemukan titik balik. Pengalaman kelamnya di dalam kelompok radikal justru menjadi jalan baginya untuk menemukan makna cinta dalam keberagaman.
“Agama dulu membuat saya jadi pemarah, tapi kini agama mengantarkan pada semangat hidup untuk bangkit dan berusaha menjadi bermanfaat untuk sesama,” ujar Ken.
Kini Menjadi Jembatan Lintas Iman
Saat ini, nama Ken Setiawan bukan hanya dikenal di kalangan internal Islam. Ia telah menjadi figur pejuang toleransi yang membuka ruang dialog. Ia kerap diundang sebagai narasumber dalam diskusi lintas agama, mulai dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan.
Ia tak hanya berbicara tentang deradikalisasi, tetapi juga merangkul semua pihak untuk duduk bersama. Pengalaman pahitnya di masa lalu memberinya kredibilitas unik; ia adalah bukti hidup bahwa seseorang dapat berubah, dan bahwa agama sejatinya bukan alat pemecah belah.
Pengalaman transformatifnya itu ia abadikan dalam sebuah buku berjudul “Tuhan Kita Sama”. Buku tersebut menjadi semacam manifesto spiritualnya, yang mengajak pembaca untuk melihat esensi ketuhanan di balik tembok-tembok sektarian.
Memaknai Ulang Pancasila
Salah satu perubahan paling fundamental dalam diri Ken adalah sikapnya terhadap Pancasila. Dulu, ia bersama kelompoknya menganggap Pancasila sebagai “togut” atau berhala yang harus ditolak dan diingkari. Kini, ia menjadi salah satu pengkampanye Pancasila yang paling vokal.
Ia menafsirkan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan cara yang sangat kontemporer. Menurut Ken, sila ini bukan sekadar pengakuan bahwa ada satu Tuhan. “Sila pertama adalah ikrar setia cinta kita kepada Tuhan dan ikrar setia kita kepada tanah air tumpah darah Indonesia,” tegasnya.
Baginya, sila pertama mengandung konsekuensi logis: jika kita mencintai Tuhan, maka kita harus mencintai seluruh ciptaan-Nya, termasuk tanah air dan segenap anak bangsa yang berbeda. Ia menambahkan, perbedaan yang ada di Indonesia adalah takdir ilahi untuk saling mengenal (li-ta’arafu) dan bekerja sama dalam kebaikan, bukan untuk saling memusuhi.
“Jika sila pertama dipahami dan diimplementasikan, maka akan mendapatkan bonus sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab,” jelasnya. Bonus itu akan terus berantai; lahir persatuan, tercipta ruang musyawarah, dan pada akhirnya seluruh rakyat Indonesia akan mendapatkan bonus tertinggi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menafsir Ulang Rukun Islam: Dari Ritual Menjadi Strategi
Yang menarik dari pemikiran Ken Setiawan adalah cara pandangnya yang kritis namun spiritual terhadap ajaran Islam. Ia melihat rukun Islam bukan sekadar rangkaian ritual ibadah individual untuk “connecting” dengan Tuhan, tetapi sebagai sebuah strategi perjuangan yang revolusioner.
Ken memberikan tafsir sosial-politik terhadap lima rukun Islam:
1. Syahadat adalah sumpah terbuka, deklarasi loyalitas kepada kepemimpinan baru yang pro-rakyat (Nabi Muhammad) sebagai perlawanan terhadap sistem Quraisy yang zolim.
2. Sholat Berjamaah adalah kampanye massal dan organisasi masyarakat, sebuah alat komunikasi dan pengorganisasian yang menghapus kasta sosial, dilakukan lima kali sehari.
3. Zakat adalah distribusi pajak kekayaan untuk kesejahteraan rakyat, sebuah kewajiban kelas atas untuk membantu kelas bawah.
4. Puasa adalah latihan solidaritas kelas. “Lapar dan haus bukan karena tidak punya makanan, tapi justru memberikan jatah sarapan dan makan siang kita kepada saudara kita yang membutuhkan. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalis,” urainya.
5. Haji adalah kongres akbar lintas suku dan bangsa. Simbol kesetaraan manusia di hadapan Tuhan sekaligus forum perjuangan bersama melawan penindasan.
“Oleh sebab itu, dalam rukun Islam jelas menyimpan sebuah strategi yang mutakhir, bagaimana Islam bangkit menyatukan umatnya dalam satu misi keimanan yang sama,” kata Ken.
Menyudahi Debat dan Merangkul Musuh Bersama
Dengan pemahaman ini, Ken mengajak umat beragama untuk berhenti dari perdebatan sengit tentang klaim kebenaran masing-masing. Ia menekankan bahwa Islam bukanlah agama baru yang muncul tiba-tiba, melainkan rekonstruksi dari ajaran tauhid yang dibawa oleh para nabi sebelumnya, termasuk Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa.
Bagi Ken, ajaran para nabi pada hakikatnya adalah peta perjuangan untuk bangkit melawan penindasan. “Maka musuh para nabi terdahulu bukanlah perbedaan agama, tapi para penguasa yang zolim dan menindas,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Ken menyampaikan harapannya. Ia ingin masyarakat Indonesia dapat bergandengan tangan, melampaui sekat agama dan latar belakang, untuk bersama-sama memperjuangkan keadilan.
“Saatnya kita bersatu, agar kita dapat hidup sejahtera, rukun, aman, dan damai meski berbeda latar belakang agama,” pungkasnya.
Dari kontrakan sederhana di Bandar Lampung, Ken Setiawan membuktikan bahwa seseorang dapat menemukan jalan pulang. Bahwa Tuhan yang ia cari melalui jalan radikalisme ternyata justru ia temukan dalam kedamaian, dialog, dan keberagaman Indonesia.
Angga Saputra







