Prof Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre
Kepadamu perawan suci kekasih tuhan di Kampung Tuna Akal, surat ini kutulis dan kirimkan.
Salam takzim. Kasih. Bagaimana kabarmu? Taukah engkau bahwa Tuhan itu profan; kita yang sakral. Agama itu fana; manusia yang abadi. Waktu itu sementara; gagasan yang kekal. Maka dari itu, mari keluar dari kejahiliyahan masa lalu. Sebab masa kini tak bisa lagi ditunda. Masa depan tak bisa lagi dicegah. Keduanya segera tiba. Arahkan semua potensi kita untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan besar tersebut walau tanpa Tuhan, agama dan waktu.
Terlebih, tak ada ibadah lebih besar dari bercinta. Sebab tanpa bercinta tak ada manusia. Tanpa manusia tak ada Tuhan, agama dan waktu. Bahkan tak ada alamraya. Bidadariku, mari bercinta denganku. Yang cintanya sekeras batu akik dan sesuci air zamzam. Yang cintanya sakral bukan profan, abadi bukan fana, kekal bukan sementara. Tapi, mari ikhlas saja. Puisi tak dapat dosa. Sajak tak ada pahala. Cerpen hanya berhonor.
Seringkali, aku membaca kitab suci, tetapi engkau tak mendengarkannya. Aku mengirim kerinduan, engkau tak merasakannya. Aku menulis puisi, engkau tak membacanya. Aku mencipta karya dan prestasi, engkau tak membanggakannya.
Katamu, aku harus bertobat dahulu. Dan, masuk salafi. Baru kemudian peradaban kan menjadi.
Kasih. Aku tak tahu logika ini.
Sungguh, “there is no greater glory than to die for love,” kata Gabriel Garcia Marquez, dalam Love in the Time of Cholera, 1993.
Setrilyun kehampaan. Semilyar kesunyian. Sejuta kenestapaan. Seribu keentahan. Seratus kesialan. Sepuluh kehidupan. Satu kematian. Inilah arsitektur atom hidupku. Inilah sejarah terkiniku. Atom yang belum sempat meledak. Sejarah yang tidak sempat memuncak. Bintang yang tak sempat terang.
Hidupku tak pernah seperti matahari. Sejarahku tak bersinar sepanjang hari. Hidupku tak sama dengan angin yang terus mengembara melintasi musim dan masa. Sejarahku sederhana saja. Kesepian dan kesunyian sepanjang musim bermekaran bunga. Hidup yang singkat, indah dan pasti dilupa seluruh makhluk hidup di sekitarku.
Tak ada tanaman dan pohon bunga di dunia ini yang abadi. Baik bunga deposito ataupun edellweis dari dataran dan puncak gunung tinggi. Semua berakhir, berganti dan terus berganti. Tak ada kemarau sepanjang tahun. Tak ada hujan seluruh waktu. Tapi hidupku kini sempurna dalam tangis keabadian.
Kini, apa karena menginginkan pelangi, aku harus rela untuk bertahan dalam hujan? Hanya tuhan hantu dan hutan yang tahu. Sebab, untuk yang keseratus kali, kau pilih membisu. Kau memilih hidup dan mati bukan dengan mendengar suara hati.
Kasih, tahukah bahwa tugas kita hanyalah merebut masa depan, walaupun masa depan menolak untuk tunduk pada keinginan hari ini. Kita harus berikhtiar agar memiliki kenangan yang dapat disebut dengan manis pada masa datang, lalu berjuang agar hari-hari yang dijalani, dapat memisahkan diri dari kepedihan dan paria yang berkepanjangan.
Padahal, jika dan jika kau tahu bahwa ilmu dunia membuatmu semakin merasa kuasa. Sedang ilmu akhirat, membuatmu merasa tak berdaya. Maka, semakin kaya harta, semakin bangga. Padahal, semakin kaya harta, semakin dekat ke neraka. Semakin paras rupawan, semakin mendapat pujian. Padahal, semakin rupawan, semakin besar pertanggung jawaban.
Apa duli tuan putri dengan ilmu dunia dan ilmu tuhani?
Kasih. Mari melantur sebentar. Pada tanggal 17/08/1945, kita tumbangkan kolonialisme dan fasisme. Pada tanggal 20/05/1998, kita tumbangkan otoritarianisme dan militerisme. Tugas kita selanjutnya adalah menumbangkan kapitalisme dan neoliberalisme.
Sungguh. Yang bisa melakukan itu hanya kaum muda. Bukan NU dan bukan Muhammadiyah. Sebab yang satu sibuk berdoa (mengemis) dan satunya sibuk bercerita (mengkhayal). Dua ormas besar islam itu kini bukan kekayaan tapi beban. Kerjanya sudah mirip dengan parpol: memproduksi para koruptor. Bukan menggerakan revolusi.
So, wahai kaum muda, hanya di tangan kalianlah musuh kapitalisme dan neoliberalisme bisa ditumbangkan. Tancapkan belati tepat di ulu hati mereka agar Indonesia merdeka kembali untuk ketiga kalinya.
Kasih, kini, mutanku dua: Aksara dan Bintang. Maka kembali kutanya padamu, “maukah kau rubah hidupku jadi perayaan syorga?” Sebab hanya engkau dan engkaulah yang bisa dan kumimpikan jadi belahan jiwa. Bidadariku. Permaisuriku.(*)








