Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Diantara riuh berita media sosial tentang problematika MBG, komparasi gaji dan nasib relawan SPPG dibanding nasib guru honorer. Diantara riuhnya isu nasib guru P3K yang tak jelas dibeberapa daerah. Diantara ketidakpastian berita perang dunia dan kebijakan nasional, banyak kondisi sekolah dan isu proses pendidikan terabaikan. Misalnya dampak efisiensi anggaran dan pelaksanaan TKA seolah terlupakan dan tidak menjadi perhatian masyarakat. Sepi dan membeku.
Tidak ada yang lebih melelahkan bagi sekolah selain harus selalu siap berubah — bahkan sebelum sempat memahami perubahan sebelumnya. Setiap tahun datang dengan kata baru. Setiap kata datang dengan sistem baru.
Setiap sistem datang dengan tenggat baru.
Sekolah belajar satu hal: jangan terlalu serius memahami apa pun. Bisa jadi bulan depan sudah tidak berlaku. Maka guru mulai bekerja dengan cara berbeda. Tidak menolak. Tidak juga percaya sepenuhnya. Sekadar menjalankan.
Di ruang guru, pembicaraan berubah pelan. Bukan lagi tentang bagaimana mengajar lebih baik, tetapi bagaimana bertahan dari pembaruan berikutnya.
File disimpan dengan nama: final_revisi_fix_terbaru_benar2final.
Biasanya tidak pernah benar-benar final. Kepala sekolah menjadi penerjemah kebijakan yang bahkan pembuatnya kadang belum selesai menjelaskan. Ia berdiri di antara instruksi yang turun cepat dan kenyataan sekolah yang berjalan lambat. Bukan lambat karena malas. Lambat karena manusia membutuhkan waktu untuk mengerti. Waktu yang tidak lagi tersedia. Ada masa ketika perubahan membawa harapan. Kini perubahan lebih sering membawa kewaspadaan.
Guru belajar membaca tanda:
jika pelatihan terlalu semarak, kemungkinan kebijakan tidak panjang umur. Jika istilahnya terlalu megah, biasanya segera diganti istilah lain. Maka energi disimpan. Inovasi ditunda.
Antusiasme dipakai seperlunya.
Bukan sinis. Ini hemat harapan.
Psikologi menyebut satu kondisi ketika makhluk hidup berhenti bergerak bukan karena kalah, tetapi karena semua pilihan terasa sia-sia: freeze. Tubuh tetap ada.
Gerak tetap terjadi. Tetapi jiwa keputusan berhenti. Sekolah kita tidak runtuh. Ia tetap berjalan setiap pagi. Bel masuk tetap berbunyi. Absensi tetap diisi.
Hanya satu yang pelan-pelan hilang: keyakinan bahwa usaha hari ini masih relevan besok. Kebijakan datang seperti cuaca. Tidak selalu salah. Tidak selalu buruk.
Hanya terlalu sering berubah untuk dipercaya sebagai musim. Dan manusia tidak bisa menanam pohon di tanah yang arah anginnya diganti setiap minggu.
Akhirnya sekolah menemukan cara bertahan paling aman: cukup hidup agar tidak mati, tetapi tidak terlalu bergerak agar tidak salah arah. Dari luar terlihat stabil. Dari dalam sebenarnya beku. Kita lalu bertanya mengapa inovasi tidak tumbuh. Padahal inovasi membutuhkan satu hal sederhana: kepastian bahwa kerja keras tidak akan menjadi arsip sebelum sempat berbuah.
Tanpa itu, kreativitas berubah menjadi risiko. Dan risiko bukan sesuatu yang disukai sistem yang gemar audit. Barangkali masalah pendidikan kita bukan kekurangan gagasan. Gagasan datang terus-menerus, bahkan terlalu banyak.
Yang jarang datang adalah kesabaran untuk tinggal cukup lama bersama satu gagasan.
Negeri ini rajin mengganti arah, lalu heran mengapa perjalanan terasa tidak pernah sampai.
Sekolah akhirnya belajar diam.
Bukan karena tidak tahu jalan.
Tetapi karena kompasnya terlalu sering diganti saat mereka sedang berjalan.
Dan di negeri yang terus bergerak di atas kertas, ruang kelas memilih satu bentuk perlawanan paling sunyi: tetap ada, tetap bekerja, namun berhenti berharap terlalu jauh. Itulah cara membeku tanpa terlihat membeku.
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia







