INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

JEJAK JAHAT EKONOMI KOLONIAL

KKN HUTAN KITA

Prof Yudhie Haryono PhD

Selasa, 10 Februari 2026

Prof. Yudhie Haryono PhD
CEO Nusantara Centre

Sejak 1830, kata Jan Luiten Van Zanden, kolonialis Belanda telah membuat hukum ketertiban yang mengharuskan pribumi banyak anak. Pertumbuhan penduduk ini penting sebagai sumber tenaga kerja tanam paksa. Akibatnya, nusantara menjadi negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia dan menjadi lumbung tenaga kerja (paksa) dan murah bagi negara-negara lain di dunia.

Alhasil, nusantara kemudian terjebak dalam lingkaran modal manusia rendah; pernikahan dini; peranakan banyak; kualitas turunan rendah; investasi tenaga kerja rendah. Kini, warisan metoda keren ini disebut “bonus demografi.”

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Di ujungnya, muncul canda ekonomi: “negara pancasila, warganya main sampai lupa makan. Di negara drakula, warganya cari makan sampai lupa main.”

Padahal, seluruh studi-studi postkolonial menyebutkan bahwa makin banyak penduduk, makin cepat rusak infrastruktur, makin sulit sehat, makin sedikit makanan dan makin pendek ingatan. Akibatnya orang berbodong-bondong kerja apa saja (walau murah dan terpaksa) demi makan sebisanya.

Kita sadar bahwa kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu negara atas negara lain dengan maksud untuk memperluas negara penjajah. Sedangkan imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan untuk menjajah negara lain untuk mendapat kekuasaan dan keuntungan yang berlipat. Tetapi, kolonialisme dan imperialisme punya epistema yang sebangun: nafsu serakah.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Kolonialisme purba dan imperialisme lama dikenali sebagai cara merampok dan menternak 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Pola sebaran penjahan purba itu menduduki lalu merampas geoekonomi sebuah teritori bangsa berpola konvensional via militer dan pecah belah plus adu domba (divide et impera).

Apa hasil dari kolonialisme purba bagi kita? Kemiskinan material, krisis spiritual dan penyakit mental begitu menggurita. Rakyat menjadi miskin, bodoh, multifokus dan limbo. Bagi mereka sulit berobat jika tak berduit dan tidak bisa bersekolah kalau tidak berharta. Maka, bunuh diri dianggap sebagai solusi akhir setiap penyakit akut itu hadir di keseharian mereka.

Tentu saja, para penjajah purba ini juga melakukan kampanye keunggulan ras dan budaya mereka sekaligus menyusun seruan berkebalikan untuk terjajah. Mereka membuat mitos terjajah sebagai para pemalas, pembrontak, tukang onar, pemabuk, pemadat, pencuri dll.

Tentu, mitos tersebut ikut melegalkan dan melanggengkan kolonialisme purba. Dengan mitos dan stereotip yang buruk rupa, para penjajah merasa berhak mengatur, mengontrol, dan menjajah sepuas-puasnya sampai sehancur-hancurnya.

Kita sadar bahwa kehancuran peradaban karena bencana alam memakan satu sampai lima generasi (1-5). Sedang kehancuran peradaban karena konflik internal atau paregreg memakan lima sampai sepuluh (5-10). Memuncaki dari yang dua, kehancuran peradaban karena penjajahan memakan sepuluh sampai lima belas generasi (10-15).

Kita hancur karena tiga hal sekaligus: bencana alam, konflik internal (paregreg) dan penjajahan. Ini problem besar yang kita alami. Maha dahsyat kerusakannya.

Karena itu, untuk mengembalikan kejayaannya, kita butuh kejeniusan semesta berkelas jagad dewa batara dan tentu restu alam raya.

Kejeniusan ini cirinya lima: 1)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari elite busuk (asong); 2)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari konglomerasi busuk (aseng); 3)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari penjajah busuk (asing); 4)Kemampuan mengembalikan martabat Indonesia di percaturan dunia; 5)Kemampuan memastikan tertradisinya kurikulum Pancasila di semua lini.

Lima ciri jenius ini yang harus kita temukan kini demi janji proklamasi. Tanpanya, ekopol kita hidup segan mati tak berani.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Sekda Banyumas Sarankan Pemenang Honda Brio Laporkan EO ke Polisi

Rangkaian Kegiatan HUT Banyumas 2026

TERBARU

KKN HUTAN KITA

JEJAK JAHAT EKONOMI KOLONIAL

Selasa, 10 Februari 2026

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Sarankan Pemenang Honda Brio Laporkan EO ke Polisi

Selasa, 10 Februari 2026

Lima Bulan Berlalu, Hadiah Honda Brio Jalan Sehat HUT RI di Banyumas Tak Kunjung Diterima Pemenang

Lima Bulan Berlalu, Hadiah Honda Brio Jalan Sehat HUT RI di Banyumas Tak Kunjung Diterima Pemenang

Selasa, 10 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

Senin, 2 Februari 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com