Ketika mendengar nama Pink Floyd, publik musik dunia seolah langsung terlempar pada deretan karya monumental seperti Wish You Were Here, The Dark Side of the Moon, hingga The Wall. Band rock progresif asal Inggris ini dikenal dengan eksplorasi psychedelic yang khas, sebuah warna musikal yang membuat mereka kerap diperdebatkan, termasuk soal stereotip “band narkoba” yang melekat di era 1960-an.
Digawangi Roger Waters, David Gilmour, Richard Wright, dan Nick Mason, Pink Floyd diakui sebagai salah satu musisi terbaik sepanjang masa oleh Rolling Stone. Sepanjang kariernya, mereka merilis 15 album studio dan menancapkan pengaruh kuat dalam sejarah musik dunia.
Album Penuh Dedikasi
Album Wish You Were Here dirilis pada 12 September 1975 dan hanya butuh waktu kurang dari dua pekan untuk memuncaki tangga lagu Amerika Serikat. Album ini kerap disebut sebagai salah satu karya paling emosional Pink Floyd sebagai sebuah refleksi mendalam atas kehilangan dan keterasingan.
Di balik kesuksesan tersebut, tersimpan sosok penting yang tak lagi berada di dalam band: Syd Barrett. Barrett adalah pendiri sekaligus jiwa awal Pink Floyd. Talenta brilian yang di kemudian hari harus meninggalkan band akibat gangguan mental yang diperparah penggunaan LSD.
Nick Mason pernah menyatakan dalam sebuah konser tur Nick Mason’s Saucerful of Secrets di Seattle bahwa tanpa Syd, Pink Floyd tak akan pernah ada. Pernyataan itu menegaskan posisi Barrett sebagai fondasi kreatif band di masa awal.
Jejak Syd di Awal Karier

Album perdana Pink Floyd, The Piper at the Gates of Dawn (1967), didominasi karya Barrett. Ia menjadi penulis lagu utama sekaligus vokalis. Eksplorasi gitarnya, termasuk dalam lagu Interstellar Overdrive, memperlihatkan pendekatan sonikal eksperimental yang kemudian menjadi ciri khas Pink Floyd.
Pengaruh Barrett bahkan diakui musisi besar seperti Paul McCartney dan Pete Townshend. Namun kebersamaannya dengan Pink Floyd berlangsung singkat. Pada Maret 1968, di tengah popularitas yang menanjak, Barrett resmi dikeluarkan dari band karena kondisi mentalnya yang kian memburuk.
Inspirasi di Balik Album-Album Besar
Meski hanya terlibat dalam satu album studio, pengaruh Barrett terasa kuat dalam tiga karya terbesar Pink Floyd: The Dark Side of the Moon (1973), Wish You Were Here (1975), dan The Wall (1979). Roger Waters mengakui bahwa kegeniusan sekaligus tragedi hidup Barrett menjadi inspirasi tematik dalam album-album tersebut.
Lagu Shine On You Crazy Diamond secara eksplisit didedikasikan untuk Barrett. Sementara lagu Wish You Were Here menjadi refleksi personal Waters atas kehilangan sahabat masa kecilnya itu.
Salah satu momen paling emosional terjadi pada 5 Juni 1975 di Abbey Road Studios. Saat Pink Floyd merekam Shine On You Crazy Diamond, seorang pria botak dan bertubuh tambun tiba-tiba masuk ke studio. Para personel tak segera menyadari bahwa pria itu adalah Syd Barrett. Setelah ia pergi, pihak manajemen memberi tahu bahwa sosok tersebut memang Barrett. Peristiwa itu membuat Waters terpukul dan diyakini menjadi pemicu lahirnya lagu Wish You Were Here.
Album tentang Kehilangan dan Keterasingan
Proses rekaman Wish You Were Here sendiri diwarnai perasaan terputus di antara para personel. Meski berada dalam satu ruangan, masing-masing merasa terasing. Album ini bukan hanya tentang kehilangan Barrett, tetapi juga tentang kehampaan dan krisis identitas yang dialami band di tengah industri musik yang kian komersial.
Permainan gitar melankolis David Gilmour, aransemen keyboard atmosferik Richard Wright, ketukan drum sederhana namun presisi dari Nick Mason, serta lirik reflektif Roger Waters membentuk harmoni yang hingga kini masih memikat lintas generasi.
Timeless atau Abadi?
Di tengah perubahan tren musik global, karya Pink Floyd tetap relevan. Lagu-lagu mereka masih diputar di berbagai platform digital dan dinikmati generasi muda, termasuk generasi Z. Fenomena ini menegaskan satu hal: Pink Floyd adalah band yang melampaui zamannya.
Apakah istilah yang tepat adalah timeless atau abadi? Apa pun sebutannya, maknanya tetap sama. Pink Floyd bukan sekadar legenda rock progresif—mereka adalah penanda zaman yang jejaknya terus hidup dalam sejarah musik dunia.
Angga Saputra (Dari berbagai sumber)








