![]()
Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
(1)
Akhir Ramadhan semakin sedikit yang dzikrullah(mengingat dan berpikir kasih sayang dan rahmat Allah sehingga bersyukur) baik lisan maupun diam dalam batin.Beralih fokus pada perayaan lebaran sehingga hati dan pikiran gaduh riuh, penuh kebisingan. Pikiran penuh jerat tradisi. Makanan enak, kue kering, baju baru,bertemu bani, bertemu reuni, silaturahmi itu ini. Dan lisan pun melafalkan kata yang aneh.. te ha er te ha er te ha er datanglah….
Begitulah yang terjadi. Perang melawan pikiran dan keinginan diri memang tak pernah rampung. Memang sulit,setidaknya setelah puasa idealnya pikiran dan keinginan juga tubuh menjadi lebih ramping.
(2)
Berapa acara buber yang telah diagendakan? Untuk tujuan apa sebenarnya ada acara seperti itu? Bukankah setiap orang yang puasa Ramadhan semuanya selalu buka bersama setiap waktu magrib tiba? Akankah ada kreativitas baru urusan waktu makan di bulan Ramadhan ini dengan acara bertajuk maksaber (makan sahur bersama)? Semakin banyak kreativitas baru yang dilakukan manusia untuk kemudian saling mengunggulkan idea kreatifnya dan menyalahkan orang lain yang tidak setuju dengan idenya. Semua pihak berusaha agar diakui sebagai yang terbaik dan terbenar. Ribut soal kecil yang kurang utama hingga soal yang besar dan utama dilupakan.
Begitulah hidup.
(3)
Iya, bahkan untuk tatanan baku yang jelas mengacu pada Dhawuhnya Kanjeng Nabi Muhammad pun sudah banyak yang tergeser. Sesama muslim jika bertemu tidak yakin lagi berjabat tangan. Saling membagi senyum pun terhalang, senyum tak terlihat mata. Wajah 3/4 nya tertutup,jika lama tak bertemu seringkali jadi pangling Anjuran agar barisan lurus dan rapat dalam shalat jamaah sekarang tak berkumandang. Berbagi rasa dan berkumpul dalam majlis apa saja tak baik jika terlalu lama dan banyak orangnya. Majlis ilmu jarak jauh dan virtual saja. Semua wajib jaga jarak dan waspada terhadap diri sendiri atau orang lain sebagai pembawa virus pagebluk Virus itu telah menjadi sebab pageblek
Iya, ruwet.
(4)
Covid +iyah= Covidiyah = para pengikut Covid.
Tentu ada yang ikut secara sukarela maupun ikut secara terpaksa.
Bukti bahwa terus menerus sepanjang jaman, ada benturan antara tradisi keyakinan dan tradisi pikiran. Mestinya ilmu pengetahuan yang komprehensif dapat menjadikan simpul yang mengikatkan dan melepaskan. Simpul hidup biasa disebut tali wangsul Wangsul kemanakah gerangan setiap pendatang dan pejalan ini?
Innalillahi wa inailaihi rojiun
Ajibarang, 3 Mei 2021





