KEBUMEN – Jelang HUT ke-392 Kabupaten Kebumen, Bupati H Arif Sugiyanto SH mengeluarkan surat edaran nomor 443/1604.
Isinya mengimbau kepada instansi maupun masyarakat untuk tidak mengirimkan karangan bunga sebagai bentuk ucapan selamat.
Sebagai gantinya, anggaran bisa dialihkan untuk pembelian paket sembako untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sehingga cukup menarik ketika peringatan HUT ke-392 Kabupaten Kebumen tanpa kiriman karangan bunga ucapan selamat.
Karena edaran yang terlalu mepet, sebagian besar instansi sudah terlanjur memesan kepada perajin karangan bunga.
Alhasil, karangan bunga yang sudah dipesan itu tidak dikirim ke pendopo rumah dinas bupati, melainkan dipajang di kantor masing-masing.
Seperti terlihat karangan bunga ucapan hari jadi terlihat di depan kantor bank milik pemerintah di Jalan A Yani Kebumen.
Peringatan hari jadi ke-392 Kabupaten Kebumen memupuk semangat kebersamaan seluruh rakyat dengan pemerintah dalam membangun Kebumen.
Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH menyebutnya sebagai manunggaling rakyat dengan pemerintah.
Seluruh masyarakat diharapkan bersatu padu membangun Kebumen ke arah yang lebih baik.
Terlebih di masa pandemi ini, semua diharapkan bisa kembali pulih.
Dengan visi misi bupati dan wakil bupati yakni mewujudkan Kebumen yang mandiri, sejahtera dan berakhlak ini sejalan dengan kondisi pandemi saat ini.
“Bahwa kita harus kuat, kompak. Kita yakin dengan kekompakan ini, pandemi bisa kita atasi, ekonomi bisa kembali pulih,” ujar Bupati Arif Sugiyanto saat menjadi inspektur upacara peringatan hari jadi ke-392 Kebumen, Sabtu, 21 Agustus 2021.
Upacara di halaman pendopo rumah dinas Bupati Kebumen berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pendopo rumah dinas Bupati Kebumen terlihat seperti keraton, tampak lebih luas dan terbuka.
Sebagaimana semangat manunggaling rakyat dengan pemerintah, peserta upacara menghadirkan beragam elemen masyarakat seperti nelayan, tukang becak, perajin genteng, petani, budayawan, pengusaha Tiongho, TNI/Polri dan juga para pelaku UMKM.
Secara visual upacara hari jadi tahun ini seperti kembali ke Kebumen tempo dulu.
Bupati Kebumen Arif Sugiyanto mengenakan pakaian adat kanigaran yang biasa dikenakan raja Jawa termasuk oleh para adipati Kebumen tempo dulu.
Baju adat kaum bangsawan ini terdiri atas kain beludru hitam yang dilengkapi dengan kain dodot.
Walaupun awalnya hanya untuk kaum bangsawan pakaian ini diterima sebagai pakaian masarakat pada masa pemerintahan Sultan HB IX.
Wakil Bupati H Ristawati Purwaningsih SST MM dan Ketua Tim Penggerak PKK Ny Iin Windarti Arif Sugiyanto mengenakan kebaya warna gelap dengan bahan serupa dengan dihiasi jahitan benang emas pada bagian tepi-tepinya.
Sedangkan Dandim 0709, Kapolres , Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan Negeri Kebumen dan Sekda Kebumen mengenakan jawi jangkep dengan atasan beskap dengan bawahan kain jarik dengan ansesoris blangkon dan keris.
Sementara itu, para pimpinan OPD serta beberapa tamu undangan lain mengenakan pakaian adat Kebumen berupa surjan lurik sesuai dengan Peraturan Bupati Kebumen Nomor 35 tahun 2017.
Sedangkan peserta upacara seperti nelayan, tukang becak, perajin genteng, petani mengenakan pakaian layaknya profesi mereka.
Peringatan hari jadi dimeriahkan oleh pentas tarian tradisional Kebumen berupa Tari Cepet dan Tari Lawet.
Kemudian digelar jamasan atau pembersihan alat pusaka milik Pemkab Kebumen seperti keris dan tombak.
Bupati juga memberikan penghargaan kepada aparatur pemerintahan dan masyarakat sipil yang berprestasi.
Seperti kepala desa, anggota kepolisian, para nakes, penggiat sosial kemasyarakat, tokoh agama, dan kalangan politisi.
Kemudian, Pemkab memberikan bantuan sosial berupa paket sembako kepada masyarakat, bantuan perahu untuk nelayan, motor roda tiga untuk desa dan grobak sampah.
Termasuk saat hari jadi Kebumen, di Alun-alun berlangsung vaksinasi untuk masyarakat dengan 4.000 dosis berupa vaksin moderna dari TNI/Polri.
Keterlibatan Semua Pihak
Sebelumnya, bupati bersama wakil bupati juga melaksanakan tradisi ziarah ke makam para bupati Kebumen terdahulu.
Hanya yang berbeda, ziarah berlangsung pada malam hari.
Pertama Bupati ziarah ke makam Ki Ageng Brodonolo di Karangasem Desa Karangkembang, Alian.
Usai dari Ki Ageng Brodonolo, Bupati bersama rombongan melanjutkan ziarah ke makam keluarga Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek, Kebumen.
Berikutnya, Bupati melanjutkan perjalanan menuju Kotowinangun dan berizarah ke makam Kanjeng Pangeran Arya (KPA) Bumidirjo.
Bupati mengakhiri perjalanan spiritualnya dengan berziarah ke makam keluarga Aroengbinang I dan keturunannya yang ada di Dusun Kebejen, Desa Kuwarisan, Kutowinangun. Aroengbinang juga merupakan keluarga bangsawan yang pernah menjadi Bupati Kebumen.
“Karena kita tahu semua masih dalam masa pandemi Covid-19 peringatan hari jadi berlangsung secara sederhana,” kata Arif Sugiyanto.
Bupati menyampaikan bahwa semua masyarakat Kebumen bisa menggunakan pendopo ini untuk kegiatan keagamaan, seni budaya, dan kegiatan lain yang bermanfaat.
“Pendopo ini milik rakyat dan bisa digunakan untuk kegiatan kemasyarakat yang bermanfaat. Jadi jangan ragu-ragu untuk berkunjung ke pendopo. Kita jalin kebersamaan,” ucap Arif Sugiyanto.
Sementara itu, menurut penulis dan pengamat budaya Sigit Tri Prabowo, momentum hari jadi merupakan saat tepat untuk merekatkan kembali segenap warga Kebumen.
Bukan semata kerekatan teritorial namun oleh kesatuan cara pandang, visi, misi dan berbagai nilai utama yang hidup dan dihidupi oleh masyarakat Kebumen.
“Kesederapan langkah antara Bupati selaku pimpinan wilayah dengan jajaran birokrasi dan semua lapisan warga Kebumen haruslah jadi pekerjaan rumah terus menerus. Seringkali riak-riak perdebatan dan silang pendapat terjadi karena macet atau tidak akuratnya kanal informasi antarpihak, khususnya antara pengambil kebijakan dengan masyarakat,” ujarnya.
Menjadi tantangan serius bagi Bupati beserta jajarannya untuk mengevaluasi komunikasi publik yang selama ini berjalan.
Kelemahan soal komunikasi akan menjadi salah satu penghalang terwujudnya pembangunan yang partisipatif.
Perlu ruang-ruang komunikasi dan dialog yang berkualitas.
“Ini tak semata soal teknis namun juga kesediaan mendengarkan dan memahami dari semua pihak,” tandasnya.
Penulis buku “Ngomong Gombong, Remah Sejarah Kota 1830-1942” itu menambahkan bahwa hari jadi ini juga sesungguhnya bisa menjadi momen reflektif bagi unsur penyeimbang dan pengontrol eksekutif.
Legislatif sebagai pemegang mandat rakyat untuk mengawasi kinerja eksekutif mestinya bersedia lebih rendah hati dan lapang dada menilai diri, menerima dengan penuh pemakluman atas berbagai ketidakpuasan terhadap kinerja dewan.
Sorotan atas ketidaksigapan anggota dewan dalam ‘menemani’ rakyat saat berbagai masalah menghantam jangan buru-buru ditangkis dan diingkari.
Bisa saja ini (lagi-lagi) soal komunikasi yang terpotong. Minimnya kabar tentang sikap dan gerak anggota dewan membuat rakyat bertanya-tanya apa saja yang dilakukan para wakilnya.
“Memang dibutuhkan keterlibatan semua pihak untuk mewujudkan Kebumen yang diinginkan,” ujarnya.






