BANYUMAS– Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan Wangon, Karsono, mengungkapkan awal mula ketegangannya dengan sejumlah perangkat desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Konflik ini menyangkut dua hal krusial: kejelasan aset tanah kas desa dan hilangnya dokumen arsip vital.
“Saya menduga ada yang tidak ingin persoalan masa lalu terbuka,” kata Karsono kepada media.
Misteri Sawah Pengganti untuk SMA Negeri
Konflik berawal saat pengelolaan SMA Negeri Wangon beralih dari kabupaten ke provinsi. Karsono kemudian menelusuri status tanah kas desa yang dulu dipakai untuk sekolah tersebut melalui mekanisme tukar guling.
“Saya menanyakan kejelasan sawah penggantinya. Hanya ada berita acara pembelian sawah atas nama Waluyo Slamet. Tapi setelah saya tanyakan langsung, ia mengaku tidak pernah memiliki apalagi menjual sawah ke desa,” jelasnya.
Arsip Desa Hilang, Pelacakan Mandek
Upaya pelacakan itu, menurut Karsono, terhambat oleh tidak lengkapnya dokumen penting desa. Dua masalah utama yang ia sebutkan:
1. Buku Leter C (data kepemilikan tanah) dikuasai salah satu perangkat sejak lama dan tak pernah ia pegang.
2. Seluruh arsip desa periode 1999-2013 hilang dan tidak ditemukan.
“Arsip desa dari tahun 1999 sampai 2013 tidak ada. Ini yang membuat saya sangat kesulitan melacak aset desa,” tegasnya.
Klarifikasi Pihak Lain Belum Diperoleh
Sementara itu, Ketua BPD berinisial KY dan perangkat desa berinisial JR yang disebut dalam pernyataan Karsono, belum dapat dikonfirmasi. Upaya PR Jateng untuk mendapatkan penjelasan berimbang masih terus dilakukan hingga berita ini diturunkan.
Ada Persoalan Lama yang Ikut Memanaskan Suasana
Karsono juga menyebutkan persoalan lain yang ikut memicu ketegangan, yaitu dugaan penyimpangan penyaluran beras untuk warga kurang mampu pada 2013. Kasus ini disebut pernah ditangani Inspektorat namun belum tuntas.
Situasi ini telah menarik perhatian warga karena menyangkut transparansi aset dan administrasi desa. Sejumlah tokoh masyarakat berharap ada klarifikasi dokumen dan penelusuran resmi oleh pihak berwenang agar konflik ini segera menemui titik terang. (Angga Saputra)


