Sore itu, halaman luar Rumah Tahanan Negara (Rutan) Banyumas tidak seperti biasanya. Alunan musik religi menggema lembut, mengubah kawasan yang identik dengan jeruji besi menjadi panggung penuh haru dan inspirasi, Senin (2/3/2025).
Empat warga binaan yang tergabung dalam Rubamas Band tampil dalam format akustik di hadapan masyarakat umum. Mereka membawakan lagu-lagu religi bukan sekadar hiburan, melainkan refleksi perjalanan batin dan tekad untuk berubah.
Kegiatan bertajuk “Akustik Sore Menginspirasi” ini merupakan bagian dari program AKSI Rubamas Berbagi Kasih dan Inspiratif sebuah ruang ekspresi bagi warga binaan untuk menunjukkan hasil pembinaan kepribadian yang selama ini dijalankan di dalam rutan.
Bukan Sekadar Hiburan, tapi Bukti Perubahan
Kepala Rutan Banyumas, Sigit Purwanto, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata proses pembinaan yang berjalan sungguh-sungguh di balik tembok rutan.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa di balik tembok rutan, ada proses pembinaan yang sungguh-sungguh. Warga binaan bukan hanya menjalani hukuman, tetapi juga menjalani proses perbaikan diri. Musik hari ini adalah bukti nyata perubahan itu,” ujar Sigit dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana mempersiapkan warga binaan dalam proses reintegrasi sosial. “Agar mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan identitas baru yang lebih positif,” imbuhnya.
Suasana semakin mengharukan saat sesi talkshow dimulai. FT (25), salah satu personel Rubamas Band, membagikan kisahnya dengan suara bergetar. Ia menceritakan bagaimana pembinaan kepribadian di dalam rutan mengubah hidupnya.
“Dulu saya tidak pernah berpikir bisa berdiri di depan masyarakat seperti ini. Di dalam rutan, saya belajar arti disiplin, tanggung jawab, dan menghargai kesempatan. Musik menjadi jalan bagi saya untuk memperbaiki diri,” tuturnya.
Pernyataan jujur itu disambut tepuk tangan hangat dari para pengunjung yang tampak terharu.
Pembina Kepribadian Rutan Banyumas, Dwi Waluyo, menjelaskan bahwa proses pembinaan dilakukan secara konsisten melalui pendekatan spiritual, konseling, hingga pengembangan bakat.
“Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun mental dan karakter. Ketika warga binaan menemukan potensi dirinya, rasa percaya diri tumbuh. Itulah modal utama untuk kembali ke masyarakat,” jelas Dwi.
Kolaborasi dengan Komunitas, Ratusan Takjil Dibagikan
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan kolaborasi bersama komunitas Operasi Lapar, yang selama ini dikenal rutin menyiapkan ratusan paket takjil untuk dibagikan kepada masyarakat umum.

Koordinator Operasi Lapar, Mas AL, menyampaikan rasa bangganya dapat bersinergi dalam kegiatan tersebut.
“Berbagi itu tentang menyentuh hati. Hari ini bukan hanya berbagi takjil, tapi berbagi semangat perubahan. Kami melihat langsung bagaimana warga binaan dibina dan diberi ruang untuk berkembang,” ungkapnya.
Ratusan paket takjil dibagikan kepada pengunjung alun-alun dan keluarga warga binaan, menambah hangat suasana sore yang syahdu itu.
Mengubah Stigma Negatif
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang berhenti untuk menyaksikan pertunjukan, mengabadikan momen, hingga berdialog langsung dengan petugas mengenai program pembinaan di Rutan Banyumas. Petugas pun memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan program pembinaan kemandirian dan kepribadian sebagai bentuk transparansi sekaligus edukasi publik.
Kegiatan ini menjadi jembatan untuk mengubah stigma negatif terhadap warga binaan. Bahwa di balik kesalahan masa lalu, selalu ada kesempatan untuk bangkit.
Sigit Purwanto menutup kegiatan dengan pesan penuh makna, “Kami percaya setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tugas kami adalah memastikan kesempatan itu diisi dengan pembinaan yang nyata. Semoga sore ini menjadi pengingat bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.”
Melalui AKSI Rubamas Berbagi Kasih dan Inspiratif, Rutan Banyumas tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menanamkan harapan bahwa dari tempat pembinaan, dapat lahir pribadi-pribadi yang siap kembali, berkarya, dan memberi manfaat bagi masyarakat. (Angga Saputra)








