Banyumas – Pengusaha Banyumas yang mempunyai pangsa pasar ekspor, mengeluhkan naiknya biaya sewa peti kemas yang naik hingga tiga kali lipat. Hal ini terjadi sejak akhir 2020, hingga saat ini.
Direktur PT. Kilau Anugerah Sejati ( KAS) Edi Handoko mengatakan pabriknya berlokasi di Desa Pagaraji Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Memproduksi olahan kayu dengan pasar 100 persen ke China.
Dengan pengiriman setiap minggu, antara 5-6 peti kemas ukuran 40 feet. Namun sejak November 2020, biaya sewa peti kemas terus meningkat. Dari sebelumya US $ 400 per petikemas, saat ini menjadi US$1.300.
Selain itu juga terkadang sering mengalami penundaaan kedatangan kapal yang akan mengangkut dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang ke China, dengan waktu penundaan hingga satu pekan.
Edi Handoko Kamis (26/8/2021) menjelaskan dengan peningkatan biaya sewa, menyebabkan keuntungan berkurang cukup tajam. Namun demi pekerja yang berjumlah 200 orang, maka dilakukan berbagai upaya agar tidak rugi dan perusahaan ini tetap berjalan.
“ Saat ini kendala kita, biaya pengiriman yang tinggi. Dulu sebelum naik tajam yakni $ 400 per petikemas, saat ini menjadi US$1.300,”kata Edi.
Sementara salah satu pengusaha gula semut ( gula kelapa kristal) asal Pekuncen Banyumas Sobirin mengatakan pasar utama produknya adalah Amerika Utara dan Eropa, namun langkanya peti kemas sehingga terjadi penundaan ekspor. B
ahkan dalam satu bulan pernah menumpuk hingga 30 ton, padahal biasaya dalam satu pekan bisa mengespor gula semut 8 ton.
“ Pertama karena kelangkaan kapal, kedua kenaikan peti kemas. Sehingga barang numpuk, kami bingung bayar ke petani gula mau pakai apa,” terang Sobirin.
Pengusaha Banyumas, meminta agar Pemerintah turun tangan menyediakan peti kemas dan juga kapal kargo. Agar ekspor bisa berjalan normal, dengan harga kembali turun. (RA).






