BANYUMAS – Ratusan massa dari aliansi masyarakat peduli lingkungan mendesak penutupan aktivitas tambang di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Senin (19/1/2026). Aksi ini dipicu kerusakan parah Jalan Baturraden Timur akibat puluhan truk tambang bermuatan berlebih dan melaju ugal-ugalan.
Koordinator aksi, Fajar Kurniawan, menyatakan aktivitas angkutan tambang telah lama meresahkan warga. “Dump truk pengangkut tambang ini bolak-balik dengan muatan berat dan ugal-ugalan. Kami akan mengawal terus agar tambang ini ditutup,” tegasnya di lokasi demonstrasi.
Menurut Fajar, dalam sehari 50–70 truk melintas dari lokasi tambang, membahayakan keselamatan dan merugikan ribuan pengguna jalan. “Jalan rusak, yang terdampak masyarakat. Perbaikannya pakai dana negara. Ini jelas merugikan kita dan negara,” ujarnya.
Aliansi yang terdiri dari aktivis, ormas, dan warga terdampak menilai aktivitas tambang galian C di lokasi tersebut telah melampaui batas toleransi. Meski disebut berizin lengkap, Fajar menegaskan izin dapat dievaluasi jika terbukti menimbulkan dampak serius.
“Kami akan bentuk satgas bersama, bantu kepolisian dan Dishub. Kalau ada truk tambang yang langgar tonase, akan kami cegat dan tertibkan,” tambahnya.
Pemdes Gandatapa Dukung Aspirasi Warga
Kepala Desa Gandatapa, Sidit Suko Wahyu Pambudi, menyatakan pemerintah desa telah menggelar musyawarah dengan warga pada 16 Januari 2026, yang menghasilkan dukungan penuh terhadap aspirasi penutupan tambang.
“Kami dari Pemdes Gandatapa mendukung aspirasi warga. Hasil musyawarah sudah ditandatangani perwakilan RT dan RW. Aspirasi ini akan kami sampaikan dan kawal ke pihak provinsi dan instansi terkait,” jelas Didit.
Meski tidak memiliki kewenangan langsung untuk menutup tambang, Pemdes berkomitmen mendampingi masyarakat dalam memperjuangkan lingkungan dan keselamatan warga, serta mendorong razia terhadap truk tambang yang melanggar.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah dan provinsi untuk segera mengevaluasi aktivitas tambang galian C di Gandatapa, yang dinilai telah mengorbankan keselamatan publik dan infrastruktur jalan. (Angga Saputra)


