“Di bening malam ini, resah rintik gerimis datang…”
Siapa yang tak mengenal lirik pembuka “Dirimu” yang melegenda itu? Lagu milik Gank Pegangsaan ini bukan sekadar tembang lawas. Ia adalah memori kolektif yang melintasi generasi, dari anak muda era 70-an, 80-an, hingga mereka yang masih mendengarnya di kafe-kafe kekinian.
Di balik lagu-lagu evergreen itu, ada sebuah keluarga yang namanya tercatat emas dalam sejarah musik Indonesia: Nasution Bersaudara.
Mereka bukan sekadar musisi. Mereka adalah arsitek perubahan.
Awal Mula dari Jalan Pegangsaan
Nasution Bersaudara adalah panggilan untuk lima putra pasangan Saidi Hasjim Nasution, keluarga menengah atas yang tinggal di kawasan Pegangsaan, Jakarta. Kelima bersaudara itu adalah:
· Rada Krishnan Nasution (Keenan) – drum, vokal
· Zulham Nasution (Joe Am)
· Bachmid Gaury Nasution (Gauri) – gitar
· Aumar Naudin Nasution (Odink) – gitar
· Debi Murti Nasution (Debby) – kibor
Dari rumah di Pegangsaan itulah benih-benih musik progresif Indonesia mulai disemaikan.

1966–1974: Gipsy, God Bless, dan Gamelan Bali
Kisah bermula saat Joe Am, Keenan, dan Gauri membentuk Sabda Nada (1966) bersama tetangga. Nama kemudian berubah menjadi Gipsy, dengan formasi awal: Keenan (drum/vokal), Gauri (gitar), Onan (organ), Tammy (tiup/vokal), dan Chrisye (bass/vokal).
Gipsy dikenal berani membawakan lagu-lagu berat dari Chicago, Blood, Jimi Hendrix, hingga King Crimson. Mereka eksklusif karena bisa memainkan repertoar yang jarang dibawakan grup lain.
Tapi satu hal yang paling membedakan: Gipsy adalah pelopor fusion rock dengan gamelan Bali.
Ide ini muncul saat seniman asal Bali, I Wayan Suparta Widjaja, singgah di rumah Nasution. Keenan langsung terpikat. Gipsy mulai memadukan dentuman drum rock dengan gamelan, jauh sebelum Guruh Gipsy terbentuk.
Di awal 70-an, Gipsy bahkan sempat manggung rutin di restoran Ramayana, Amerika Serikat, atas undangan Ibnu Soetowo. Sepulangnya ke Indonesia, mereka kembali mengguncang panggung Taman Ismail Marzuki dengan kolaborasi gamelan pimpinan Syaukat Suryabrata.
Di sisi lain, adik-adik mereka, Odink dan Debby membentuk Young Gipsy. Pada 1973, keduanya justru direkrut God Bless menggantikan Deddy Stanzah dan Soman Lubis. Tak lama, Keenan menyusul untuk menggantikan Fuad Hassan yang kecelakaan.
Alhasil, pada 1974, formasi God Bless didominasi tiga orang Nasution. Sayang, perbedaan visi musik membuat mereka hengkang sebelum album perdana God Bless rilis. Tapi jejak progresif mereka sudah terlanjur membekas.
1975–1976: Guruh Gipsy dan LCLR
Pada 1975, Keenan kembali bertemu dengan Guruh Sukarno Putra yang baru dari Belanda. Ide lama menyatukan rock dan gamelan Bali kembali dihidupkan.
Lahirlah Guruh Gipsy—sebuah proyek fenomenal yang direkam di studio tercanggih masa itu, Tri Angkasa, Kebayoran Baru. Formasinya mencengangkan: Keenan (drum/vokal), Odink (gitar), Guruh (gamelan/konsep), Chrisye (bass/vokal), Abadi Soesman (kibor), dan Roni Harahap (kibor/penata musik).
Hasilnya? Sebuah album yang hingga kini dianggap sebagai revolusi musik pop Indonesia.
1977: Badai Pasti Berlalu, Nama yang Abadi
Tahun 1977 menjadi titik balik. Album Badai Pasti Berlalu digarap oleh Erros Djarot, Yockie, Chrisye, Fariz RM, Berlian Hutauruk—plus Keenan dan Debby Nasution.
Keenan dan Debby menyumbangkan lagu Khayalku, Semusim, dan Angin Malam—sebelumnya diciptakan untuk film Perkawinan Dalam Semusim. Album ini mengubah wajah pop Indonesia selamanya.
Pasca-Badai, lahirlah Gank Pegangsaan: kumpulan anak muda yang sering nongkrong di rumah Nasution. Anggotanya luar biasa: Nasution Bersaudara, Erros Djarot, Chrisye, Yockie, Fariz RM, Addie MS, dan puluhan nama besar lainnya.

1978–1980: Era Keemasan dan Badai Band
Keenan meluncurkan album solo perdana, Di Batas Angan-Angan (1978). Isinya progresif pop yang “beda dari yang lain”. Hits seperti Nuansa Bening dan Jamrud Khatulistiwa melegenda. Ada pula lagu Negeriku Cintaku—berdurasi 9 menit! (ciptaan Debby, dengan Gauri di gitar).
Sayang, dua album berikutnya (Tak Semudah Kata-Kata dan Akhir Kelana) tak setenar debutnya. Tapi Keenan tetap jadi tulang punggung album musisi lain: Chrisye, Yockie, Fariz RM, hingga Harry Sabar.
Sementara Odink sibuk dengan Prambors Band yang melahirkan Kemarau—lagu yang masih dikenang hingga kini. Debby mulai dipercaya menata musik untuk festival dan album seperti LCLR 1979.
Yang paling dahsyat di era ini: Badai Band.
Dibentuk dari orang-orang di balik album Badai Pasti Berlalu, formasi utamanya adalah Chrisye, Yockie, Roni Harahap, Odink, Keenan, dan Fariz RM. Bayangkan: double drum set (Keenan & Fariz), lebih dari 5 kibor (Yockie & Roni), plus full-set orkestra pimpinan Idris Sardi di tahun 1979 dan 1981.
Belum pernah ada yang seperti itu di Indonesia.

Badai Band 1979 (Dok. Rumah Musik Denny Sakrie)
1981–Akhir 80-an: Solo dan Eksperimen
Keenan terus berkarya dengan 7 album solo. Enam di antaranya melibatkan Odink. Warnanya beragam: dari pop progresif hingga rock.
Debby mulai lebih banyak di jalur dakwah. Odink bersama grup Cockpit tetap setia pada blues.
2007–2020: Konser, Album Akustik, dan Duka
2007: Keenan merilis album Dengarkan… Apa Yang Telah Kau Buat dan menggelar konser Nuansa Bening.
2011: Konser tribute Apa Yang Telah Kau Berikan Untuk Sesama Manusia di TIM, Jakarta.
2012: Album Akustik—lagu-lagu lama Keenan diaransemen ulang.
2014: Di Batas Angan-Angan dirilis ulang dalam format vinyl dan CD.
Tapi dua kabar duka menghantam:
· 15 September 2018: Debby Nasution meninggal dunia saat mengisi ceramah karena serangan jantung. Pada 2020, materi lagunya yang belum rilis dirilis dalam album Menanti Hari.
· 27 Februari 2020: Odink Nasution berpulang akibat gagal ginjal. Hingga akhir, ia tetap aktif bersama Cockpit dan Jakarta Blues Festival.
Warisan yang Tak Terhapus
Tidak berlebihan menyebut Nasution Bersaudara sebagai pesona musik Indonesia.
Pemikiran mereka yang visioner, memadukan rock barat dengan gamelan Bali, menciptakan aransemen futuristik di era 70-an, memberi warna yang tak dimiliki siapa pun. Permainan instrumen mereka menjadi ciri khas yang membedakan.
Buktinya? Majalah Rolling Stone Indonesia (2007) merilis daftar 150 Album Indonesia Terbaik. Tiga peringkat teratas adalah album yang melibatkan Nasution Bersaudara:
1. Badai Pasti Berlalu
2. Guruh Gipsy
3. LCLR 1978
Total, ada 6 album dalam daftar tersebut yang mencatut nama mereka.
Maka, ketika lirik “Semuram waktu yang berlalu, sedang ku masih menunggu” kembali terdengar, kita tahu: Nasution Bersaudara bukan hanya bagian dari masa lalu. Mereka adalah irama yang tak pernah benar-benar pergi.
Angga Saputra







