BANYUMAS, indiebanyumas.com– Daerah Pemilihan (Dapil) 2 Banyumas dikenal dalam setiap gelaran Pemilu sebagai Dapil ‘Neraka’. Pertarungan antar Caleg baik internal maupun antar partai selalu ramai pada akhir perhitungan suara Pemilu Legislatif di sana.
Khusus untuk perolehan caleg PDIP, dari data yang masuk 57,35% versi 17 Februari 2024 hingga pukul 19.30 WIB, sebanyak 9 Caleg saat ini rata-rata sudah mengantongi lebih dari 2000 suara.
Suara tertinggi saat ini diperoleh oleh Caleg nomor urut 2 asal Sokaraja, Ito Anjarini SSos dengan angka 6.593 suara disusul Caleg nomor 1 dari Sumbang yakni Agus Priyanggodo sebanyak 5.587 suara. Caleg nomor urut 3 Febrian Nugroho Perangin Angin SSos memperoleh suara 3.226 suara sedangkan Caleg nomor 4 Yulian Haryadi saat ini tercatat memperoleh 2.610.
Kemudian untuk Caleg Nomor urut 5 Yusuf Arinton Sasongko mengantongi 3.271 suara disusul nomor urut 6 Ayu Sulistiyorini SH sebanyak 2.776 suara. Selanjutnya untuk nomor urut 7 Himawan Damarjati SH memperoleh 4.034 suara sementara dan nomor urut 8 yakni Dwi Mukinah Erni memperoleh 2.619. Adapun Caleg nomor urut 9 yaitu dr Henri Christianto untuk sementara memperoleh suara 3.865 suara.
Dari hasil peroleh kesembilan Caleg partai berlambang banteng moncong putih tersebut, total suara peroleh partai sebesar 17.503 atau 23,94 persen. Suara itu baru dihitung dari 562 TPS dadi total 980 TPS yang ada di Dapil 2 Banyumas atau masih 57, 35 %. Artinya, suara masing-masing Caleg sebanyak 9 orang tersebut tentu saja akan mengalami kenaikan.
Adapun perolehan partai pada posisi kedua sementara diraih oleh PKB dengan jumlah total suara 9.987 atau 13,66% dan pada urutan ketiga sementara diduduki PKS dengan perolehan suara 6.610 atau 8,42 %.
Dapil Banyumas 2 sendiri terdiri dari 4 wilayah kecamatan meliputi Sumbang, Sokaraja, Kembaran, dan Baturaden. Jumlah penduduk secara keseluruhan ada 322.787 jiwa, sementara yang di perebutkan 9 kursi.
Sebagaimana diketahui, penghitungan suara oleh KPU sudah dilakukan sejak Rabu (14/2/2024). KPU menghimpun data perolehan suara dari semua TPS di seluruh Indonesia melalui aplikasi Sirekap.
Namun, banyak laporan bahwa proses pemasukan data (entry data) di aplikasi Sirekap yang dikembangkan KPU bermasalah. Secara teknis, Sirekap menggunakan teknologi AI untuk membaca pola tulisan tangan dari formulir Model C1-Plano.
Lalu, sistem Sirekap akan mengubah pola tulisan di kertas fisik menjadi data numerik digital. Namun, proses pemindaian (scan) data dari formulir Model C1-Plano banyak yang tak sesuai kenyataan lapangan.
Angga Saputra






