Prof M. Yudhie Haryono PhD
Presidium Forum Negarawan
Rupanya, kisah ini pertempuran panjang. Antara bertuhan melawan beragama. Finalnya, “ketuhanan yang maha esa.” Titik. Tetapi, hidup dalam arabisme terus berlanjut. Sebuah kisah hidup dalam kepicikan aturan, keterbatasan logika, romantisme masa lalu, hitungan eskatologis, belenggu klan, serta supremasi auratisme.
Di kamar sebelah, sebaliknya. Hidup bertuhan. Hidup dalam pelukan tuhan. Kehidupan “islam” adalah konsensus, kemerdekaan, progresif, nyata, kedaulatan, serta kemandirian.
Pada tesis pertama, “setiap masalah di negara itu cukup dibicarakan (diperdebatkan), diomongkan dan diperpanjang cerita-ceritanya.” Sedang di tesis kedua, “setiap masalah dipecahkan, diselesaikan dan dicari solusinya.”
Jika itu yang terjadi, maka (menyitir ungkapan Imam Syafii), “akan banyak orang yang telah meninggal, tapi nama baik mereka tetap kekal. Dan, banyak orang yang masih hidup, tapi seakan mereka telah mati dan tak berguna. Mereka mengira keburukan dan kekafiran ada pada orang lain padahal keburukan dan kekafiran itu terdapat dalam dirinya sendiri.”
Memahami hal tersebut menjadikan kita mestinya mengerti tentang peta kehidupan. Bahwa hidup ini tidak ada yang serba kebetulan. Ada kekuatan yang menciptakan, ada tujuan, ada kehendak, ada sesuatu yang akan diraih, ada kelanjutan dalam kehidupan ini. Pengetahuan itu menjadi penting sebagai dasar untuk membangun semesta bahwa hidup ini sebenarnya memiliki arti dan juga nilai yang sedemikian mahal. Ya. Hidup ini hanya sekali, sehingga harus berarti. Bukan takfiri.
Ini genting sebab sembilan tahun terakhir, kebanyakan kaum muslim di indonesia bangga sebagai arabis yang mendaku islam. Karena itu mereka disebut “mahjubul ummah” (kaum yang tertutup akalnya: buta, tuli dan bisu) oleh para ahli agama.
Lalu, di mana kini “islam”? Mereka tak ada di televisi dan tak ada di pemerintahan bahkan juga tak ada di masjid-masjid. Mereka sekarat, punah dan mati tersapu arabisme: cungkring, jilbabos, berdoa, jual ayat, jenggotan, selebritis, poligamet dan koruptif.
Semestinya. Tentu saja, pada akhirnya sejarah agama adalah sejarah pemberontakan: bukan ritual apalagi identitas sosial. Sayangnya, yang dikurikulumkan adalah yang karitatif dan pinggiran. Dalam logika postkolonial, agama tersebut jatuh menjadi brooker dari old colonialism: membungkuk pada penjajah, mentradisikan neofundamentalis yang bersekutu dengan neofasis. Dua setan berwajah manusia duafa.
Bagi agamawan pemberontak, sangat menakjubkan jika jarinya mulai menulis. Sangat menggairahkan jika mulutnya mulai menyapa. Sangat menentramkan jika senyumnya mulai tersungging. Sangat menggentarkan jika hatinya mulai berpaling. Sangat merindukan jika jiwanya mulai membaca puisi. Sangat memukau jika pidatonya mulai berhipotesa. Jika antitesanya, agamawan tak lagi beragama.
Dus, kapankah kalian duduk dan berlari memberontak bersamaku? Runtuhkan tiran yang tuhan bersekutu! Pastikan hancurnya elite yang menyembah setan! Hanya zaman yang mampu menjawabnya. Sebab kurasa hatimu, perkataanmu, nalarmu dan tindakanmu mencintai masa lalu: amis dan luka. Mengkafirkan sesama: mengkapling sorga untuk diri sendiri.
Sungguh. Kuyakin tugas agama adalah menjawab problem manusia hari ini dan ke depan. Dan, jawaban itu bukan di masa lalu. Menjawab problem hari ini dengan masa lalu (semata) selalu dihindari para nabi. Sebab jika itu metodanya, romantisme dan bibliolatry sebutannya. Menundukkan nalar di bawah teks. Dan itu segenggam kejumudan semata. Tentu saja agama dari dulu cuma satu.
Karena agama itu cara menjawab problema kini dan nanti maka (mestinya) ia terus baru dan diperbaharui. Itulah mengapa ada banyak agama di dunia.(*)






