INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

APAKAH SURGA ITU SEPERTI CERITA KITAB SUCI

Jumat, 22 Desember 2023

Prof. Yudhie Haryono PhD
Rektor Universitas Nusantara

Mengingat diskusi-diskusi kita soal ilmu psikoanalisis sebagai teori yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dalam menganalisis psikologis manusia, adalah menangisi kepergianmu. Selalu kuingat engkau bilang, sambil mengutip Freud, “tingkah laku manusia itu didominasi oleh alam bawah sadar yang berisi id, ego, dan super ego. Karenanya, psikoanalisis memiliki tiga penerapan sekaligus: 1)Merupakan metode penelitian dari pikiran; 2)Merupakan ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; 3)Merupakan metode perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Kini diskusi-diskusi itu sudah tak ada. Sekitarkupun kini tinggal hewan-hewan tanpa nalar. Mereka mati sebelum mati. Seperti kini sepi sepeninggalmu ke surga. Kenapa begitu? Sebab inilah akhir id dan logos. Inilah kemenangan uang, zaman keuangan yang maha kuasa. Dan, mereka tak sempat melawannya.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Kasih. Engkau sering berkata lantang padaku, “kalau ilmumu tak berfungsi menghancurkan kemiskinan dan kesakitan warga miskin, ilmumu palsu! Jika kekuasaanmu tak berguna memastikan keadilan, kesejahteraan, keadilan sosial dan kemakmuran warga miskin, kekuasaanmu palsu!”

Agar tak palsu, katamu aku harus kritis. Kapanpun dan di manapun. Lalu, engkau mengutip fatwa Acep Iwan Saidi (2017), “Pengkritik adalah orang yang membuatmu ingat, tapi kamu selalu melupakannya. Pemuja adalah orang yang membuatmu lupa, tapi kamu selalu mengingatnya.”

Tetapi, aku terlalu sering di surga. Atau merasa, lebih tepatnya. Kata orang, “surga adalah tempat penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan karena tak ada hukum, dosa, kesedihan dan penyakit bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.”

Tuhan dipersepsikan menciptakan berbagai macam surga dengan tingkatan dan keistimewaan yang berbeda-beda. Surga sendiri berasal dari bahasa Arab al-Jannah. Artinya taman dan kebon keindahan, kesempurnaan, kedamaian.

Jika bacaan diperluas, kata surga (Sanskerta: translit atau svarga. Bahasa kawi: kahyangan atau kayangan) bermakna tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai tempat berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya.

Bahkan kisah reruntuhan kuil Ekur di Nippur, diyakini oleh orang Mesopotamia kuno sebagai “Dur-an-ki”, “tali penambat” surga dan bumi. Dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia kata svarga diserap menjadi sawarga (Sunda), suruga (Makassar), sorge (Sasak) sarugo (Minangkabau) dan swarga (Jawa). Sedangkan dalam bahasa Hokkian digunakan istilah thian.

Kata para kyai, macam surga itu banyak. Ada firdaus, adn, naim, darussalam, ma’wa, darul muqamah, maqamul amin, dan khuldi. Tetapi semua merujuk pada imaji manusia akan kenikmatan dan keadilan sosial yang tak didapatkan saat hidupnya di dunia.

Lalu, apa itu keadilan sosial? Yaitu kondisi individu dan masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan dan didapatkan oleh semua secara gratis. Tentu ini visi utopis. Karenanya, keadilan sosial selalu ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melalui pemerataan sumber daya agar kesenjangan sosial ekonomi, kemiskinan struktural dan pengangguran di tengah-tengah masyarakat dapat dihapuskan.

Jika realitas keadilan itu mengejawantah maka nilai-nilainya bisa ditengarai dengan: a)Tertradisinya perilaku adil pada semua orang sesuai hak dan kewajibannya; b)Terawatnya keseimbangan hak dan kewajiban diri sendiri; c)Suburnya sikap saling menghormati hak-hak orang lain; d)Terjaganya mentalitas memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan secara adil.

Ternyata ini konsep dari ketakberdayaan. Ternyata ini ilusi manusia, kisah, harapan, mimpi-mimpi dan ketiadaan idealitas semesta. Sekedar panacea. Tetapi, di atas segalanya, semoga engkau sudah merasakannya.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Kemensos RI Beri Bantuan Alat Kesenian dan Penguatan Ekonomi Kreatif untuk Turonggo Lawe

Selanjutnya

Kemah Bhakti Harmoni, Praktik Moderasi Beragama

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Kampung Ramadhan Z-Corner BAZNAS Banyumas Gelar Lomba Dai dan Fashion Show

Kampung Ramadhan Z-Corner BAZNAS Banyumas Gelar Lomba Dai dan Fashion Show

Kamis, 5 Maret 2026

Pemerintah Perkuat Respons Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja

Pemerintah Perkuat Respons Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja

Kamis, 5 Maret 2026

Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran

Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran

Kamis, 5 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Senin, 23 Februari 2026

Selanjutnya

Kemah Bhakti Harmoni, Praktik Moderasi Beragama

Soal Gibran Ingin Naikkan Rasio Pajak, Mahfud : Hati-hati, Rakyat Sensitif dengan Pajak

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com