BANYUMAS – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Banser Banyumas mengingatkan bahaya aktivitas tambang di kawasan lereng gunung. Penolakan masyarakat terhadap rencana tambang granit di Baseh, Kedungbanteng, serta galian C di Gandatapa, Sumbang, disebut sebagai alarm ekologis yang tidak boleh diabaikan.
Ketua PC GP Ansor Banyumas, Rachmat Kurniawan, menegaskan bahwa respons warga bukan sekadar dinamika sosial, melainkan ekspresi kegelisahan kolektif atas ancaman kerusakan lingkungan.
Kawasan Sensitif Ekologis
Menurut Rachmat, daerah Sumbang, Baturraden, dan Kedungbanteng merupakan kawasan sensitif secara ekologis: resapan air, penyangga bencana, dan sumber kehidupan bagi ribuan warga.
“Tambang yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan dapat memicu degradasi lahan, sedimentasi sungai, hingga risiko bencana baru,” ujarnya.
GP Ansor menegaskan tidak anti pembangunan. Namun, pembangunan yang mengorbankan keselamatan ekologis akan menjadi beban sosial, ekonomi, bahkan moral.
“Kebijakan tambang harus melalui kajian jujur, partisipatif, dan berbasis data, bukan semata kepentingan sesaat,” tegasnya.
Belajar dari Bencana Sumatra
Rachmat menyoroti rentetan bencana di Sumatra seperti banjir besar, longsor, dan kerusakan infrastruktur. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi cermin agar Banyumas tidak mengulang kesalahan dengan membiarkan eksploitasi ruang tanpa kendali.
“Krisis ekologis bukan lagi di atas kertas, tapi sudah menjadi kenyataan pahit,” katanya.
Ajakan Kolaborasi
GP Ansor Banyumas mengajak pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, hingga generasi muda untuk menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi kesejahteraan.
“Alam adalah amanah Tuhan. Kesadaran ekologis bukan hanya urusan sains, tetapi juga iman dan tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Rachmat.
Ansor Banser Banyumas berharap peristiwa bencana di daerah lain menjadi refleksi bersama agar Banyumas tetap aman, lestari, dan layak diwariskan kepada generasi mendatang. (Angga Saputra)









