Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Beberapa hari terakhir media sosial ramai dengan berbagai potongan video dari ruang kelas. Ada guru yang dimaki murid. Ada siswa yang merekam temannya sedang merokok di toilet sekolah. Ada juga rekaman anak-anak yang tertawa ketika temannya menangis karena dibully.
Video-video itu beredar cepat. Disertai komentar yang tidak kalah cepat. Sebagian orang menyalahkan sekolah.Sebagian menyalahkan guru.Sebagian menyalahkan kurikulum.
Tetapi jarang ada yang berhenti sejenak untuk bertanya dengan jujur: sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anak-anak kita?
Sebagai guru yang setiap hari berada di ruang kelas, saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin terasa pahit.
Anak-anak kita tidak baik-baik saja.
Dan keadaan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah disiplin atau moral.
Suatu pagi saya mencoba melakukan survei kecil di kelas sembilan. Pertanyaannya sederhana.
“Siapa yang sholat Subuh tadi pagi?”
Kelas mendadak sepi. Beberapa anak menunduk. Beberapa tersenyum kikuk. Setelah menunggu beberapa detik, dua tangan terangkat.
Saya lanjutkan.
“Siapa yang sholat lima waktu setiap hari?”
Kali ini hanya satu tangan.
Saya bertanya lagi.
“Siapa yang bapaknya sholat?”
Lima tangan.
“Siapa yang ibunya sholat?”
Sekitar sepuluh.
Menemukan fakta ini, saya tidak marah kepada anak-anak. Saya justru merasa sedang melihat potret sebuah ekosistem yang sedang rapuh. Ada rasa sedih merambati hati, menyebar ke seluruh pori-pori : merinding !
Sekolah mengajarkan agama, Pendidikan Agama Islam, dua jam seminggu. Sementara kehidupan di luar sekolah berjalan dua puluh dua jam setiap hari.
Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat di rumah, di jalan, dan di layar ponsel mereka.
Setiap Ramadan sekolah mengadakan Pesantren Ramadan. Kegiatannya rapi. Ada tadarus, ceramah, kajian, lomba islami. Dokumentasinya bahkan lebih rapi lagi. Foto kegiatan segera beredar di grup WhatsApp dengan caption penuh doa.
Namun setelah Ramadan selesai, mushola sekolah kembali lengang. Karpetnya tetap bersih. Rak Al-Qur’an tetap tersusun rapi.
Kadang saya berpikir dengan getir: mushola sekolah kita terlalu suci, karena terlalu jarang dipakai.
Pesantren Ramadan sering berakhir sebagai seremonial kesalehan musiman. Ramai beberapa hari, lalu hilang dari kebiasaan harian.
Padahal karakter tidak pernah lahir dari kegiatan yang sesaat. Ia tumbuh dari pembiasaan yang panjang, dari teladan yang terus menerus.
Pada saat yang hampir bersamaan, sekolah juga dikenalkan dengan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Jika dibaca di atas kertas, konsep ini sangat indah. Hampir seperti resep ideal membangun generasi unggul.
Tetapi kehidupan anak-anak hari ini tidak lagi hanya berada di ruang kelas. Mereka hidup di ruang digital yang jauh lebih kuat pengaruhnya.
Malam hari banyak anak tidur lewat tengah malam karena gawai. Pagi hari mereka datang ke sekolah dengan mata berat. Di kelas mereka mencoba bertahan dari kantuk sambil sesekali memeriksa notifikasi.
Dalam kondisi seperti itu, kita meminta mereka gemar belajar, rajin membaca, disiplin beribadah, dan berolahraga.
Bukan berarti itu mustahil. Tetapi jelas tidak sesederhana menempelkan poster kebiasaan di dinding kelas.
Masalahnya tidak berhenti pada karakter. Prestasi akademik kita juga belum menggembirakan. Banyak siswa SMP masih kesulitan memahami bacaan panjang. Membaca buku terasa berat, tetapi menonton video berjam-jam terasa ringan.
Anak-anak kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi kemampuan memahami informasi justru semakin tipis.
Di ruang kelas, dilingkungan sekolah dan di rumah, saya sering melihat fenomena yang menggelisahkan: anak-anak sangat cepat menggulir layar ponsel, tetapi sangat lambat menggulir halaman buku.
Padahal kemampuan membaca bukan sekadar keterampilan akademik. Ia adalah fondasi berpikir.
Tanpa literasi yang kuat, anak-anak mudah percaya pada apa saja yang viral di media sosial.
Di tengah situasi itu negara hadir dengan program Makan Bergizi Gratis. Niatnya baik. Tidak ada guru yang menolak anak-anak datang ke sekolah dengan perut kenyang.
Tetapi kadang muncul pertanyaan yang mengganggu pikiran: mengapa negara terlihat sangat serius mengurus perut anak, tetapi belum terlihat kegelisahan yang sama dalam menumbuhkan akal mereka?
Perut memang penting. Tanpa gizi anak tidak bisa belajar.
Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar tidak lahir hanya dari generasi yang kenyang. Ia lahir dari generasi yang berpikir, membaca, bertanya, dan memiliki karakter kuat.
Jika pendidikan hanya berhenti pada urusan gizi, kita mungkin menghasilkan anak-anak yang sehat secara fisik, tetapi belum tentu kuat secara intelektual.
Di sisi lain, media sosial semakin memperberat tugas guru. Setiap kesalahan kecil di kelas bisa direkam dan disebarkan. Potongan video pendek sering kali menghapus konteks yang sebenarnya.
Guru diminta mendidik dengan sabar, tetapi pada saat yang sama bekerja di bawah sorotan kamera yang tidak pernah tidur.
Sebagian orang di luar sekolah menilai pendidikan hanya dari potongan video tiga puluh detik.
Padahal kehidupan di ruang kelas jauh lebih rumit dari itu.
Guru menghadapi anak-anak yang datang dari keluarga yang beragam. Ada yang dibesarkan dengan kasih sayang. Ada yang tumbuh dalam rumah yang penuh konflik. Ada yang lebih akrab dengan ponsel daripada dengan orang tuanya.
Semua itu bertemu di satu ruang kelas yang sama.
Karena itu ketika melihat berbagai perdebatan di media sosial tentang pendidikan, saya sering merasa ada satu kalimat yang jarang diucapkan.
“Anak-anak kita tidak baik-baik saja.”
Mereka hidup di zaman yang sangat cepat berubah. Mereka dibanjiri informasi, tetapi miskin bimbingan. Mereka memiliki akses pengetahuan luas, tetapi sering kehilangan arah.
Sekolah berusaha membantu. Guru berusaha mendampingi. Tetapi pendidikan tidak mungkin berjalan sendirian.
Rumah, masyarakat, media, dan negara semuanya ikut membentuk karakter anak.
Jika ekosistem ini tidak sehat, sekolah hanya bisa menambal sebagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar.
Maka mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dari perdebatan dangkal di media sosial.
Bukan untuk saling menyalahkan.
Tetapi untuk menyadari sesuatu yang lebih mendasar: masa depan bangsa sedang duduk setiap hari di ruang kelas kita.
Dan jika kita jujur melihat kenyataan hari ini, kita harus berani mengatakan dengan hati yang agak berat—
Anak-anak kita benar-benar tidak sedang baik-baik saja.
Dan justru karena itulah, pendidikan tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai program, slogan, atau bahan konten.
Ia harus menjadi gerakan bersama untuk menyelamatkan generasi yang sedang tumbuh di tengah zaman yang terlalu bising.
Tentang Penulis:
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia








