DPRD Kabupaten Banyumas kini memiliki ketua baru. Agus Prianggodo, yang akrab disapa Nova, secara resmi ditetapkan sebagai Ketua DPRD untuk periode 2024–2029.
Penetapan ini diputuskan melalui Rapat Paripurna Terbuka yang digelar pada Senin (19/1/2025), dipimpin oleh Plt. Ketua DPRD Banyumas, Imam Ahfaz.
Kepemimpinan baru ini merupakan hasil pergantian menyusul berhalangannya Ketua DPRD sebelumnya, Subagyo, S.Pd., M.Si., yang tidak dapat menjalankan tugas lebih dari 30 hari karena kondisi kesehatan.
Agus Priyanggodo, adalah sosok kader ideologis PDI Perjuangan yang tumbuh dari akar rumput dan ditempa dalam dinamika politik paling keras di era Reformasi Indonesia. Perjalanan politiknya dimulai dari peran aktifnya dalam mendirikan dan membesarkan Banteng Banyumas (Bamas), wadah konsolidasi kader dan simpatisan PDIP di tingkat daerah pada masa-masa krusial perjuangan partai.
Lelaki kelahiran 25 November 1972 ini berada di barisan depan Bamas pada 1995–1996, berjuang membela kepemimpinan Megawati Soekarnoputri pasca pengambilalihan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro.
Nova terlibat langsung dalam berbagai aksi perlawanan politik terhadap kepengurusan PDI versi Soerjadi, termasuk menghadang dan menolak deklarasi PDI Soerjadi di Banyumas. Masa-masa penuh ketegangan inilah yang membentuk karakternya: tegas, militan, dan konsisten menjaga marwah demokrasi.
Pengalaman panjang di lapangan membuatnya dipercaya mengemban peran strategis di Satuan Tugas (Satgas) PDIP, sebelum akhirnya mendapat amanah lebih besar. Karier legislatifnya dimulai sebagai Anggota DPRD Banyumas, hingga kemudian dipilih dan ditetapkan oleh DPP PDIP sebagai Ketua DPRD Kabupaten Banyumas. Jabatan ini bukan sekadar puncak karier, melainkan sarana pengabdian untuk memperjuangkan aspirasi rakyat Banyumas.
Dorong Banyumas jadi Kota Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika
Di luar politik praktis, Nova dikenal memiliki visi kebangsaan yang kuat. Ia gencar mendorong Banyumas sebagai kota Pancasila dan kota Bhinneka Tunggal Ika, di mana toleransi, kebersamaan, dan keberagaman hidup secara nyata. Salah satu gagasannya adalah pentingnya ruang spiritual yang inklusif, termasuk cita-cita menghadirkan simbol kerukunan yang memuliakan nilai-nilai universal, berdampingan dengan penghormatan terhadap semua tempat ibadah.
Baginya, politik bukan soal kekuasaan, melainkan alat perjuangan ideologis untuk mewujudkan keadilan sosial, menjaga persatuan, dan merawat kebhinekaan. Rekam jejak panjangnya adalah cerminan kader partai yang setia pada sejarah, teguh pada prinsip, dan konsisten mengabdi untuk daerah dan bangsa.
Dukungan dari Tokoh Senior
Komitmen dan ketahanannya diakui oleh para tokoh senior partai. Hj. Wasitah Yusuf menegaskan bahwa PDI Perjuangan bukan partai yang mudah dijalani, dan keberanian melalui proses sulit adalah syarat utama.
“Mas Nova berani melalui proses sulit. Itu harus jadi catatan. Saya menilai secara objektif. Bahkan, apabila saya tidak suka pun, Mas Nova tetap yang harus bisa menjadi ketua berdasarkan dedikasi dan proses perjalanan Perjuangan partai,” tegas Wasitah.
Sementara itu, Suwarto, tokoh senior PDIP dan anggota DPRD Banyumas periode 1999–2004, menyampaikan dukungan serupa. Ia mengapresiasi keberanian dan dedikasi Nova.
“Saya bersama beliau pernah mengalami hal pahit sebagai orang partai. Mas Nova punya keberanian luar biasa, cepat belajar, dan saya bangga,” ujar Suwarto.
Ia berharap kepemimpinan Agus Priyanggodo kelak dapat melahirkan kebijakan kolektif yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat luas di Banyumas.
Profil ini menggambarkan sosok pemimpin yang dibentuk oleh sejarah perjuangan, dipercaya oleh senior, dan berkomitmen untuk memajukan Banyumas dengan landasan ideologi yang kuat dan inklusif. (Angga Saputra)


