INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Sang Maestro Lengger Narsih dan Warisan Ketubuhan yang Tak Lekang

Sang Maestro Lengger Narsih dan Warisan Ketubuhan yang Tak Lekang

Di atas panggung, Biyung Narsih menghadirkan Lengger sebagai bagian dari tradisi dan ritus masyarakat agraris Banyumas. (Foto: Dok. BAS)

Minggu, 1 November 2026

Lebih dari 55 tahun perjalanan Maestro Lengger Narsih tidak hanya meninggalkan jejak di atas panggung, tetapi juga menyimpan pengetahuan, pengalaman, dan warisan ketubuhan seni tradisi Banyumasan. Jejak panjang itu dihadirkan kembali melalui pameran arsip DHAROHARA: Jejak-Jejak Ketubuhan Banyumasan.

Pameran yang digelar Banyumas Adhigana Stage (BAS) ini berlangsung pada 24 Oktober 2026, pukul 15.00–23.00 WIB, di halaman belakang Taman Sari, kawasan Kota Lama Banyumas. DHAROHARA menjadi bagian dari rangkaian program Ketubuhan Banyumasan dalam BAS.

Melalui pameran ini, BAS menghadirkan arsip bukan sekadar sebagai kumpulan benda. Arsip menjadi medium untuk membaca kembali perjalanan hidup, pengetahuan ketubuhan, dan warisan budaya yang tumbuh melalui praktik kesenian.

Sosok yang menjadi pusat sajian adalah Narsihati, akrab disapa Biyung Narsih atau Mbok Narsih. Selama lebih dari 55 tahun, ia mengabdikan diri pada seni tradisi dan menjadi bagian penting perjalanan kesenian Lengger serta musik Calung Banyumasan.

Dari Pegalongan ke Panggung Lengger

Maestro Lengger, Narsih.

Lahir dan tumbuh di Desa Pegalongan, Banyumas, perjalanan kesenian Biyung Narsih dimulai sejak usia tujuh tahun. Ia menapaki dunia seni melalui tradisi mbarang dan midhang, berjalan dari satu desa ke desa lain untuk menari dan menghibur masyarakat.

Pengalaman panjang itu menempa keterampilan, ketangguhan, dan kepekaan terhadap kehidupan masyarakat. Karakter penampilannya pun terbentuk dari proses tersebut.

Di atas panggung, Biyung Narsih menghadirkan Lengger yang hidup, lincah, dan penuh ekspresi. Ia menguasai ragam gerak tari, termasuk sendhetan lumpatan, sekaligus memiliki kemampuan nyinden dengan karakter vokal Banyumasan yang khas.

Kepiawaiannya berinteraksi dengan penonton melalui dialog spontan dan humor menjadikan pertunjukannya lebih dari sekadar tontonan. Kedekatan dan komunikasi yang terbangun antara penari dan masyarakat menjadi bagian penting dari kekuatan pertunjukannya.

Lengger dan Ritus Baritan

Bagi Biyung Narsih, Lengger tidak berhenti pada aspek pertunjukan. Kesenian ini juga memiliki keterhubungan dengan tradisi dan ritus masyarakat agraris Banyumas, salah satunya Ritus Baritan.

Dalam konteks tersebut, kesenian hadir sebagai bagian dari praktik budaya yang berkaitan dengan doa, harapan akan keselamatan, kesuburan tanah, dan keberhasilan panen. Pengetahuan yang diwariskan melalui tubuh, suara, dan pengalaman Biyung Narsih menyimpan jejak hubungan antara seni, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat.

Dedikasinya berlanjut melalui Sanggar Ngudi Luwesing Salira, ruang belajar dan pewarisan pengetahuan seni tradisi kepada generasi muda. Di sana, upaya menjaga Lengger dan Calung Banyumasan dilakukan melalui latihan keterampilan sekaligus keberlanjutan pengalaman dan pengetahuan yang tumbuh dari praktik berkesenian.

Pengabdian panjang itu mendapat pengakuan melalui penghargaan sebagai Maestro Banyumas. Perjalanan hidup dan nilai-nilai yang diperjuangkannya juga diabadikan melalui pertunjukan teater tari Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan serta film dokumenter biografi URUP: Uriping Maestro Lengger Narsih.

Arsip sebagai Medium Membaca Perjalanan

Dalam DHAROHARA, perjalanan itu dihadirkan melalui benda-benda yang menjadi bagian dari inventaris pribadi Maestro Lengger Narsih. Koleksi yang dipamerkan meliputi perlengkapan tari, busana, aksesori, serta dokumentasi personal.

Perlengkapan tari dan busana yang ditampilkan terdiri atas sampur atau selendang Lengger, sanggul tekuk, mekak atau kemben, ilat-ilat atau kain penutup dada, slebeg sebagai ikat pengencang perut, kain batik, dan rok songket. Koleksi aksesori mencakup cunduk, sirkam, dan jamang.

Pameran ini juga menghadirkan foto-foto Biyung Narsih pada masa muda, dokumentasi karya-karyanya, potret bersama kerabat, serta sesajen Lengger. Setiap benda menyimpan keterhubungan dengan tubuh dan praktik kesenian yang dijalani Biyung Narsih selama puluhan tahun.

Busana dan aksesori menjadi bagian dari pengalaman tubuh ketika menari, sedangkan foto dan dokumentasi merekam potongan perjalanan yang membentuk sejarah personal sekaligus jejak kebudayaan. Arsip dalam DHAROHARA pun membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenali proses, nilai, dan pengetahuan yang hidup di balik kesenian Lengger.

Pameran arsip DHAROHARA turut dihadiri Andy F. Noya selaku Penasihat BAS beserta istri, Prof. Condro, Subarkah, serta sejumlah budayawan, seniman, dan akademisi dari berbagai wilayah Banyumasan. Para tamu dapat melihat langsung berbagai arsip yang merekam perjalanan panjang kesenimanan Maestro Lengger Narsih.

Menurut Andy F. Noya, perjalanan panjang Biyung Narsih dalam dunia Lengger tercermin melalui berbagai arsip yang dipamerkan. Baginya, keberadaan sosok seperti Biyung Narsih merupakan kebanggaan bagi Banyumas Raya.

“Biyung Narsih sudah menempuh perjalanan panjang dalam dunia Lengger. Melihat berbagai arsip yang dipajang di sini, saya merasa sangat bangga bahwa di wilayah Banyumas Raya kita memiliki figur seperti beliau. Tidak hanya mampu menari Lengger, tetapi juga mampu merawat Lengger,” ungkap Andy F. Noya.

Pernyataan itu menegaskan perjalanan seorang maestro tidak hanya diukur dari kemampuan mempertunjukkan kesenian. Dedikasi dalam menjaga pengetahuan, menjalankan praktik kesenian, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya juga menjadi ukuran.

Lukisan “Tubuh Lengger” dan Pendampingan Maestro

Sajian arsip ini turut dilengkapi lukisan berjudul “Tubuh Lengger”, persembahan Kie Art Projects yang diciptakan secara langsung melalui proses live painting oleh Darmawan, seniman asal Purbalingga. Karya tersebut menghadirkan interpretasi visual atas tubuh Lengger sebagai ekspresi seni sekaligus ruang pengetahuan budaya Banyumasan.

Kehadiran lukisan itu mempertemukan arsip, seni rupa, dan praktik ketubuhan dalam satu rangkaian artistik. Cara pandang terhadap tubuh sebagai pembawa pengalaman dan ingatan budaya pun diperluas.

Dalam kesempatan tersebut, para tamu didampingi langsung oleh Biyung Narsih selaku Maestro Ketubuhan BAS. Penyusunan dan pengelolaan seluruh arsip dilakukan Anjar Tri Laksana selaku bagian artistik BAS bersama Anisa Rakhma sebagai pendamping Maestro Lengger Narsih.

Proses itu menjadi bagian penting dalam menghadirkan koleksi secara terstruktur. Setiap benda dan dokumentasi dapat dibaca dalam keterkaitannya dengan perjalanan hidup serta praktik kesenimanan Biyung Narsih.

Melalui DHAROHARA, BAS menghadirkan perspektif bahwa keberlanjutan seni tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukan. Pengalaman, pengetahuan, benda, dan ingatan para pelakunya juga perlu didokumentasikan agar tidak terputus oleh pergantian generasi.

Sebab, ketika seorang maestro mewariskan kesenian, yang diteruskan bukan hanya gerak tari dan irama musik. Ada ingatan tentang identitas, kehidupan, dan kebudayaan masyarakat yang melahirkannya.

Angga Saputra 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

SKETSA JAGAT PAKELIRAN 

Selanjutnya

KORMI Banyumas Massalkan Olahraga lewat Senam Bersama

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

KAI Buka Pemesanan Tiket Keberangkatan 1 Desember 2026, Ini Caranya

KAI Buka Pemesanan Tiket Keberangkatan 1 Desember 2026, Ini Caranya

Minggu, 1 November 2026

KORMI Banyumas Massalkan Olahraga lewat Senam Bersama

KORMI Banyumas Massalkan Olahraga lewat Senam Bersama

Minggu, 1 November 2026

Sang Maestro Lengger Narsih dan Warisan Ketubuhan yang Tak Lekang

Sang Maestro Lengger Narsih dan Warisan Ketubuhan yang Tak Lekang

Minggu, 1 November 2026

Selanjutnya
KORMI Banyumas Massalkan Olahraga lewat Senam Bersama

KORMI Banyumas Massalkan Olahraga lewat Senam Bersama

KAI Buka Pemesanan Tiket Keberangkatan 1 Desember 2026, Ini Caranya

KAI Buka Pemesanan Tiket Keberangkatan 1 Desember 2026, Ini Caranya

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com