Ketika yang dianggap najis mengajari manusia tentang kesetiaan, dan yang merasa suci justru sibuk menyembunyikan bangkai.
Penulis : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Alkisah, di suatu malam yang rembulan pun enggan tampil terlalu terang, Kerajaan Amarta menggelar pasewakan agung.
Raja mengundang seluruh penghuni negeri. Bukan hanya manusia, tetapi juga binatang. Konon, ini bagian dari program pemerataan suara dan keadilan lintas spesies.
“Pokoknya semua boleh bicara,” titah Raja. “Di negeri ini tidak boleh ada diskriminasi. Semua makhluk punya hak yang sama.”
Semar yang duduk di belakang singgasana menggumam.
“Nggih, Gusti. Semua boleh bicara. Soal didengar atau tidak, itu urusan lain.”
Petruk yang mendengar langsung menyahut, “Kalau begitu, saya usul dibuat kementerian baru, Menterinya Urusan Mendengar. Sebab selama ini yang banyak hanya kementerian Urusan Bicara.”
Semar terkekeh.
“Truk, Truk. Di negeri ini orang yang pandai bicara sering dianggap pandai bekerja. Padahal burung beo juga bisa pidato.”
Petruk tertawa. Tetapi tawanya berhenti ketika tiga tamu memasuki halaman istana.
Seekor Anjing berjalan paling depan. Langkahnya tenang. Tidak memakai jas, tidak membawa map, dan tidak memasang lencana kehormatan.
Di belakangnya berjalan Tikus dengan setelan jas hitam, sepatu mengilap, dan sebuah koper besar.
Terakhir, Kucing datang dengan dasi sutra, parfum mahal, dan senyum yang sepertinya sudah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun.
Ketiganya mendapat undangan khusus.
Mereka akan berbicara tentang satu persoalan besar: Siapakah makhluk yang paling beradab di negeri ini?
I. Anjing yang Salah Kostum
Pasewakan dimulai.
Patih membacakan agenda. Raja duduk di singgasana. Kucing dipilih sebagai moderator karena dianggap paling mampu menjaga suasana.
“Saudara-saudara sekalian,” Kucing membuka pembicaraan, “marilah kita berbicara dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan kepentingan yang sama.”
Tikus mengangguk.
“Setuju. Terutama kepentingan yang sama-sama menguntungkan.”
Anjing menggonggong kecil.
Kucing melirik.
“Maaf, Saudara Anjing. Dalam forum resmi, kita menggunakan bahasa yang santun.”
Anjing menjawab, “Saya hanya menggonggong.”
“Ya, justru itu. Bahasa Anda kurang akademis.”
Petruk menyela dari belakang.
“Lho, kalau begitu burung beo lebih layak menjadi profesor. Bisa mengulang kalimat-kalimat akademis tanpa harus memahami isinya.”
Semar menepuk paha.
“Ha-ha-ha! Jangan keras-keras, Truk. Nanti ada yang merasa tersinggung, lalu dibentuk tim klarifikasi.”
Raja kemudian bertanya kepada Anjing.
“Saudara Anjing, apa yang membuatmu merasa layak disebut makhluk beradab?”
Anjing menjawab dengan sederhana.
“Ampun, Gusti. Saya tidak tahu apakah saya beradab. Saya hanya tahu siapa yang memberi saya makan, siapa yang merawat saya, dan kepada siapa saya harus setia.”
“Apakah kau tidak pernah meninggalkan tuanmu?”
“Kalau saya pergi mencari makan, saya kembali. Kalau saya menggonggong, biasanya karena ada bahaya. Kalau saya tidak suka, saya tidak berpura-pura suka.”
Tikus berdeham.
“Jawaban yang tidak strategis.”
Kucing tersenyum.
“Saudara Anjing perlu mengikuti pelatihan komunikasi publik. Jangan semua hal disampaikan secara langsung. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu diplomasi.”
Anjing bertanya, “Diplomasi itu apa?”
Kucing menjawab, “Mengatakan iya ketika sebenarnya tidak. Mengatakan tidak ketika sebenarnya iya. Dan kalau ketahuan, mengatakan bahwa semua itu perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas.”
Semar tertawa sampai bahunya berguncang.
“Walah, walah. Ternyata diplomasi itu saudara sepupu dari kebohongan yang memakai parfum.”
II. Tikus Membawa Laporan Keberhasilan
Giliran Tikus berbicara.
Ia berdiri, membuka koper, mengeluarkan beberapa lembar laporan, lalu memasang wajah serius.
“Yang Mulia, izinkan saya melaporkan keberhasilan program pembangunan lumbung rakyat.”
Raja mengangguk.
“Bagaimana hasilnya?”
“Luar biasa, Gusti. Lumbung sudah dibangun. Dindingnya kokoh. Atapnya bagus. Catnya mengilap. Bahkan papan namanya sudah dipasang.”
“Isinya?”
Tikus terdiam sebentar.
“Untuk sementara, masih dalam proses optimalisasi.”
Anjing menggonggong.
Petruk menoleh kepada Semar.
“Romo, apa itu optimalisasi?”
Semar menjawab, “Itu istilah ketika sesuatu sudah tidak ada, tetapi orang masih ingin kelihatan bekerja.”
Petruk mengangguk-angguk.
“Oh, seperti orang yang kehilangan isi dompet, tetapi masih rajin menghitung jumlah dompetnya.”
Tikus melanjutkan presentasi.
“Memang ada sedikit pengurangan isi lumbung. Namun hal itu tidak bisa disebut kehilangan. Kami menyebutnya penyusutan yang terukur.”
Anjing menggonggong lebih keras.
“Siapa yang mengambilnya?” tanya Raja.
Tikus segera menjawab, “Kami sedang membentuk tim investigasi.”
“Siapa anggota timnya?”
“Ya, saya sendiri, Gusti.”
“Siapa yang diperiksa?”
“Saya sendiri juga.”
“Siapa yang membuat laporan?”
“Saya lagi.”
Petruk menepuk jidat.
“Hebat! Ini bukan investigasi. Ini arisan tikus!”
Semar tertawa kecil.
“Truk, jangan begitu. Bisa saja itu sistem yang sangat efisien. Pelaku, pemeriksa, dan pelapor tidak perlu berkoordinasi karena semuanya satu orang.”
Raja memandang Tikus.
“Apakah kau tidak merasa bersalah?”
Tikus menunduk.
“Yang Mulia, saya tidak bisa menjawab sebelum berkonsultasi dengan penasihat hukum.”
Semar berbisik kepada Petruk.
“Kalau hati sudah dikalahkan oleh kalkulator, biasanya nurani memang perlu didampingi pengacara.”
III. Kucing dan Seni Menjilat Tanpa Terlihat Menjilat
Sekarang giliran Kucing.
Ia maju dengan langkah anggun. Sebelum bicara, ia membungkuk kepada Raja.
“Paduka yang mulia, pemimpin yang bijaksana, cahaya negeri, pelita peradaban…”
Petruk menyela.
“Sebentar, Mpus. Itu pidato atau sedang membaca katalog penghargaan?”
Kucing pura-pura tidak mendengar.
“Menurut hemat saya, persoalan negeri ini bukan soal benar atau salah. Yang penting adalah bagaimana kita menjaga harmoni.”
Anjing bertanya, “Kalau pemimpin salah?”
“Kita harus menghormati.”
“Kalau rakyat dirugikan?”
“Kita harus memahami.”
“Kalau ada yang mengambil hak orang lain?”
“Kita harus mengedepankan asas praduga tak bersalah.”
“Kalau kau sendiri yang mengambilnya?”
Kucing tersenyum.
“Itu persoalan yang berbeda.”
Petruk langsung berdiri.
“Nah! Ini dia. Kalau orang lain salah, namanya pelanggaran. Kalau diri sendiri salah, namanya khilaf. Kalau saudara sendiri salah, namanya musibah keluarga. Kalau atasan sendiri salah, namanya dinamika kebijakan!”
Semar mengangguk.
“Dan kalau rakyat bertanya, namanya mengganggu stabilitas.”
Kucing mulai gelisah.
“Jangan terlalu hitam putih, Pak Semar. Dunia ini penuh warna.”
Semar menjawab pelan.
“Betul, Mpus. Dunia memang penuh warna. Tetapi jangan sampai warna-warni itu dipakai untuk mengecat kebusukan.”
Kucing diam.
IV. Ketika Anjing Menggonggong di Ruang Sidang
Rapat semakin panas.
Anjing kemudian mengajukan satu pertanyaan.
“Yang Mulia, bolehkah saya bertanya?”
“Silakan.”
“Jika saya dianggap najis karena aturan bersuci, mengapa manusia yang mengambil hak orang lain masih bisa dianggap terhormat hanya karena memakai pakaian bagus?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tikus menggeser kursinya.
Kucing merapikan dasi.
Raja memandang Semar.
Semar tidak segera menjawab.
Ia justru bertanya kepada Raja, “Gusti, apakah Paduka pernah melihat manusia mencuci tangan sebelum makan, tetapi lupa mencuci niat sebelum mengambil keputusan?”
Raja mengangguk pelan.
“Sering.”
“Apakah Paduka pernah melihat manusia sangat takut terkena najis, tetapi tidak takut membuat orang lain kehilangan haknya?”
“Sering juga.”
“Apakah Paduka pernah melihat orang berdoa meminta keadilan, tetapi ketika keadilan datang mengetuk pintu rumahnya sendiri, ia pura-pura tidak mendengar?”
Raja terdiam.
Petruk menambahkan, “Romo, saya juga pernah melihat orang yang rajin membersihkan halaman, tetapi membuang sampah ke halaman tetangga.”
Semar tersenyum.
“Ya, Truk. Ada orang yang bersih rumahnya karena kotorannya dipindahkan ke rumah orang lain.”
Anjing menunduk.
“Saya tidak bermaksud menghina manusia.”
Semar mendekatinya.
“Justru itu, Njing. Kau tidak sedang menghina. Kau hanya membuat manusia merasa perlu bercermin. Kadang cermin yang paling jujur memang tidak pandai berkata-kata.”
V. Keputusan Pasewakan
Raja akhirnya meminta seluruh peserta memberikan pendapat.
Tikus mengusulkan agar masalah diselesaikan melalui pembentukan panitia.
Kucing mengusulkan agar panitia dilengkapi subpanitia.
Patih mengusulkan agar hasilnya dibuat dalam bentuk laporan.
Petruk bertanya, “Lalu siapa yang akan memperbaiki lumbung?”
Semua terdiam.
Tikus mengusulkan rapat lanjutan.
Kucing menyetujui.
Patih mencatat.
Raja kemudian bertanya kepada Semar.
“Bagaimana pendapatmu, Kyai?”
Semar menghela napas.
“Gusti, menurut saya, jangan terburu-buru membuat keputusan. Kita perlu memeriksa satu hal terlebih dahulu.”
“Apa itu?”
“Siapa yang sesungguhnya menjadi tuan bagi siapa?”
Raja mengernyit.
“Maksudmu?”
Semar menunjuk Anjing, Tikus, dan Kucing.
“Anjing tahu bahwa dirinya binatang dan tidak pernah bercita-cita menjadi raja. Tikus tahu bahwa dirinya suka menggerogoti, tetapi tidak pernah membuat laporan bahwa dirinya sedang membangun lumbung. Kucing tahu bahwa dirinya suka ikan, tetapi tidak pernah berkhotbah tentang kejujuran sambil menyembunyikan tulang ikan.”
Ia berhenti sebentar.
“Manusia berbeda, Gusti. Manusia bisa melakukan kesalahan, kemudian menciptakan istilah agar kesalahan itu terdengar seperti prestasi. Bisa merugikan orang lain, kemudian membuat peraturan agar dirinya tetap terlihat benar.”
Petruk mengangguk.
“Jadi, Romo, yang paling berbahaya itu bukan tikus?”
Semar menjawab, “Bukan.”
“Terus siapa?”
“Manusia yang sudah berperilaku seperti tikus, tetapi merasa dirinya paling suci karena pandai mengutip kitab.”
Ruangan semakin sunyi.
Raja akhirnya mengetuk meja.
“Pasewakan hari ini kita tutup. Mulai sekarang, seluruh penghuni negeri harus belajar menjaga kebersihan, baik lahir maupun batin.”
Petruk berbisik, “Romo, apakah keputusan itu akan dimasukkan dalam berita acara?”
Semar menjawab, “Tentu.”
“Apakah akan dilaksanakan?”
Semar memandang langit-langit istana.
“Itu urusan lakon berikutnya.”
VI. Epilog: Wayang yang Merasa Dalang
Malam semakin larut.
Para peserta pasewakan pulang. Tikus membawa kopernya. Kucing berjalan anggun sambil sesekali menoleh ke belakang. Anjing pulang dengan langkah biasa.
Semar dan Petruk masih duduk di halaman istana.
“Romo,” kata Petruk, “sebenarnya siapa yang paling buruk di antara ketiganya?”
Semar tidak segera menjawab.
Ia mengambil sepotong singkong rebus, menggigitnya perlahan, lalu berkata:
“Truk, dalam pewayangan, semua tokoh punya watak. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang abu-abu. Tetapi yang paling sulit disembuhkan adalah tokoh yang tidak pernah merasa sedang memainkan peran.”
Petruk mengernyit.
“Maksudnya?”
“Anjing tidak pernah merasa dirinya manusia. Tikus tidak pernah mengaku sebagai penjaga lumbung. Kucing tidak pernah mengaku sebagai nabi kejujuran.”
Semar memandang Petruk.
“Tetapi manusia sering lupa bahwa dirinya juga wayang. Ia merasa paling berkuasa, paling benar, paling suci, bahkan merasa bisa mengatur seluruh lakon. Padahal, ketika kelir diturunkan, semua gelar, jabatan, dan tepuk tangan ikut menghilang.”
Petruk tertawa kecil.
“Kalau begitu, siapa dalangnya, Romo?”
Semar tersenyum.
“Itulah yang harus kau renungkan, Truk. Jangan-jangan selama ini kita sibuk menunjuk dalang di luar sana, tetapi lupa bahwa tangan kita sendiri sedang digerakkan oleh nafsu.”
Angin malam berembus.
Di kejauhan terdengar gonggongan anjing. Seekor tikus berlari melintasi halaman. Seekor kucing duduk di atas pagar, menjilati kaki depannya.
Petruk tiba-tiba bertanya lagi.
“Romo, kalau anjing itu najis, bagaimana dengan manusia yang hatinya kotor?”
Semar berdiri, menepuk sarungnya, lalu menjawab:
“Kalau anjing, cukup dibersihkan menurut tuntunan syariat. Kalau hati manusia, siapa yang bisa membersihkan selain dirinya sendiri, dengan pertolongan Gusti Allah?”
Ia melangkah pergi.
Sebelum menghilang di balik gerbang, Semar sempat menoleh.
“Dan satu lagi, Truk…”
“Apa, Romo?”
“Besok kalau ada yang mengaku paling bersih, jangan buru-buru percaya. Lihat dulu, apakah ia sedang membersihkan dirinya sendiri atau sedang menyapu kotorannya ke bawah karpet.”
Petruk tertawa.
Tetapi kali ini tawanya tidak berlangsung lama.
Sebab tiba-tiba ia teringat: selama ini ia paling gemar menertawakan tikus, mencela kucing, dan memuji kesetiaan anjing.
Belum pernah sekalipun ia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah di dalam dirinya ada sedikit tikus, sedikit kucing, atau masih tersisa seekor anjing yang setia kepada nuraninya.
Malam itu, Petruk pulang tanpa banyak bicara.
Dan kelir kehidupan tetap terbentang.
Wayang-wayang masih bergerak. Dalang masih memainkan lakon. Penonton masih bertepuk tangan.
Hanya satu yang belum jelas:
Ketika kita menertawakan tikus, jangan-jangan kita sedang menertawakan diri sendiri. Ketika kita memuji anjing, jangan-jangan kita sedang merindukan kejujuran yang sudah lama kita tinggalkan.
Goro-goro pun usai. Tetapi lakon manusia belum tentu selesai.
Ajibarang 31 Oktober 2026






