Enam tahun telah berlalu sejak dunia musik kehilangan salah satu gitaris paling berpengaruh dalam sejarah rock, Eddie Van Halen. Musisi bernama lengkap Edward Lodewijk van Halen itu meninggal dunia pada 6 Oktober 2020, dalam usia 65 tahun, setelah berjuang melawan kanker.
Kepergian Eddie bukan sekadar kehilangan bagi penggemar Van Halen. Ia meninggalkan warisan musikal yang mengubah cara gitar dimainkan, terutama melalui teknik two-handed tapping yang menjadi ciri khasnya dan menginspirasi generasi gitaris di seluruh dunia.
Kabar duka tersebut disampaikan putranya, Wolfgang Van Halen, yang juga pernah menjadi pemain bas Van Halen.
“Saya tidak percaya harus menulis ini, tetapi ayah saya, Edward Lodewijk Van Halen, telah kalah dalam perjuangannya yang panjang dan sulit melawan kanker ini,” tulis Wolfgang melalui media sosial.
Wolfgang juga mengenang ayahnya sebagai sosok terbaik dalam hidupnya. Setiap momen yang mereka lalui bersama, baik di atas maupun di luar panggung, menjadi kenangan berharga yang tak tergantikan.
Ada Darah Indonesia, Melegenda di Amerika
Eddie Van Halen lahir di Amsterdam, Belanda, pada 26 Januari 1955. Ia merupakan putra Jan van Halen, seorang musisi yang memainkan klarinet dan saksofon serta menguasai piano, dan Eugenia van Halen, perempuan keturunan Indonesia-Belanda yang lahir di Rangkasbitung, Banten.
Latar belakang keluarga inilah yang membuat Eddie memiliki ikatan keturunan dengan Indonesia.
Pada 1962, ketika Eddie berusia tujuh tahun, keluarganya pindah dari Belanda ke Amerika Serikat dan menetap di Pasadena, California. Di tempat itulah perjalanan panjang Eddie dan kakaknya, Alex Van Halen, menuju dunia musik rock mulai berkembang.
Keduanya sempat belajar piano klasik sejak kecil. Namun, pengaruh musik rock Inggris kemudian mengubah arah perjalanan mereka.
Eddie awalnya bermain drum, sedangkan Alex memainkan gitar. Keduanya kemudian bertukar instrumen setelah Eddie menyadari bahwa Alex memiliki kemampuan lebih baik dalam memainkan drum.
Sejak itu, gitar menjadi instrumen yang terus diasah Eddie hingga menjadikannya salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik rock.
Van Halen dan Revolusi Permainan Gitar

Eddie bersama Alex membentuk grup musik yang kemudian dikenal dengan nama Van Halen. Bersama vokalis David Lee Roth dan pemain bas Michael Anthony, mereka membangun reputasi melalui penampilan di sejumlah klub musik di kawasan Hollywood Barat.
Album debut bertajuk Van Halen yang dirilis pada 1978 menjadi titik penting dalam perjalanan karier mereka. Salah satu nomor instrumental di dalamnya, Eruption, langsung mencuri perhatian karena menampilkan teknik permainan gitar yang saat itu terdengar revolusioner.
Dalam durasi sekitar satu menit 42 detik, Eddie memamerkan permainan cepat, harmonik yang tajam, serta teknik tapping yang memungkinkan kedua tangannya bekerja di atas fretboard untuk menghasilkan rangkaian nada yang kompleks.
Teknik tersebut bukan sepenuhnya diciptakan Eddie dari nol. Namun, ia mengembangkan dan memopulerkannya dengan pendekatan khas yang kemudian menjadi inspirasi bagi banyak gitaris rock dan heavy metal.
Permainannya menggabungkan kecepatan, ketepatan, kreativitas, dan karakter suara yang kuat. Eddie tidak sekadar menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga menghadirkan energi dan kegembiraan dalam permainan gitar rock.
Pengaruhnya begitu besar hingga namanya kerap disejajarkan dengan gitaris legendaris seperti Jimi Hendrix, Eric Clapton, dan Jimmy Page.
Pada 2012, majalah Guitar World menempatkannya sebagai salah satu gitaris terbaik sepanjang masa. Dalam jajak pendapat Rolling Stone pada 2015, Eddie berada di posisi kedelapan dalam daftar 100 gitaris terhebat.
Dari “Jump” hingga Album Multiplatinum

Kesuksesan Van Halen berkembang pesat setelah album debut mereka. Band ini dikenal melalui perpaduan hard rock yang agresif, melodi yang kuat, dan permainan gitar Eddie yang khas.
Sejumlah album berikutnya, termasuk Van Halen II (1979), Women and Children First (1980), Fair Warning (1981), dan Diver Down (1982), memperkuat posisi mereka di industri musik Amerika Serikat.
Salah satu pencapaian terbesar datang melalui album 1984. Album tersebut melahirkan lagu Jump, yang mengandalkan permainan synthesizer tanpa kehilangan karakter rock Van Halen. Lagu itu menjadi satu-satunya singel band tersebut yang berhasil menduduki posisi nomor satu di tangga lagu Billboard Hot 100.
Di balik kesuksesan itu, hubungan Eddie dengan David Lee Roth mengalami ketegangan. Roth akhirnya meninggalkan band pada 1985.
Van Halen kemudian merekrut Sammy Hagar sebagai vokalis baru. Pergantian tersebut tidak menghentikan laju mereka. Sebaliknya, band ini kembali meraih kesuksesan komersial melalui album 5150 (1986), OU812 (1988), For Unlawful Carnal Knowledge (1991), dan Balance (1995).
Keempat album tersebut berhasil mencapai posisi puncak Billboard 200, memperlihatkan bahwa Van Halen mampu bertahan di tengah perubahan personel dan perkembangan selera musik.
Secara keseluruhan, Van Halen menjual puluhan juta album di Amerika Serikat dan menjadi salah satu band rock paling sukses pada masanya.
Perjuangan Melawan Penyakit

Di balik kariernya yang gemilang, Eddie menghadapi berbagai persoalan kesehatan selama bertahun-tahun.
Ia menjalani operasi penggantian pinggul pada 1999 akibat masalah sendi kronis. Pada 2000, ia juga menjalani operasi untuk mengangkat sebagian lidah setelah didiagnosis menderita kanker lidah.
Dalam tahun-tahun berikutnya, kondisi kesehatannya kembali menjadi perhatian. Eddie menjalani perawatan terkait kanker dan pada periode akhir hidupnya berjuang melawan kanker tenggorokan.
Meski demikian, ia beberapa kali kembali ke panggung dan melanjutkan aktivitas musiknya.
Pada 2007, Van Halen kembali berkumpul dengan David Lee Roth sebagai vokalis. Wolfgang Van Halen, putra Eddie, mengambil posisi pemain bas yang sebelumnya ditempati Michael Anthony.
Formasi tersebut melanjutkan perjalanan band melalui sejumlah tur, termasuk tur pada 2012 untuk mendukung album A Different Kind of Truth.
Pada 2015, Van Halen menjalani tur Amerika Serikat dan Kanada yang berakhir dengan penampilan di Hollywood Bowl, Los Angeles. Tur tersebut kemudian menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan akhir band.
Harapan untuk kembali tampil bersama Van Halen masih sempat muncul beberapa tahun kemudian. Namun, kondisi kesehatan Eddie terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia pada Oktober 2020.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Bagi sesama musisi, Eddie Van Halen bukan hanya gitaris dengan kemampuan teknis luar biasa. Ia adalah sosok yang mengubah standar permainan gitar dalam musik rock.
Gitaris Joe Satriani pernah memuji pengaruh Eddie yang membawa kembali kegembiraan dalam permainan gitar rock. Sementara itu, Mike McCready dari Pearl Jam menggambarkan permainan Eddie sebagai sesuatu yang terdengar seolah berasal dari planet lain.
Pujian tersebut mencerminkan pengaruh Eddie yang melampaui batas generasi dan genre musik.
Ia juga dikenal kreatif dalam mengembangkan perangkat gitar serta mengeksplorasi karakter suara yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas musikalnya.
Di luar panggung, Eddie menjalani kehidupan pribadi yang tidak selalu mudah. Ia pernah berjuang melawan ketergantungan alkohol dan kokain serta menjalani rehabilitasi pada 2007. Namun, perjalanan hidupnya tidak menghapus kontribusi besarnya bagi dunia musik.
Eddie meninggalkan istri keduanya, Janie Liszewski, yang dinikahinya pada 2009, serta putranya, Wolfgang Van Halen.
Enam tahun setelah kepergiannya, musik Eddie Van Halen tetap hidup melalui rekaman, penampilan legendaris, dan para gitaris yang meneruskan semangat eksplorasinya.
Ia mungkin telah tiada, tetapi suara gitar yang liar, teknik tapping yang ikonik, dan keberaniannya mendobrak batas musikal akan terus menjadi bagian dari sejarah rock.
Eddie Van Halen bukan sekadar gitaris hebat. Ia adalah salah satu musisi yang mengubah cara dunia mendengar dan memainkan gitar rock.
Angga Saputra






