INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Suara Adzan Tak Salah Alamat

Gedung Soetedja, Koperasi Desa MerahPutih, dan Ketakutan Kita pada Ruang yang Tidak Menghasilkan

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Minggu, 4 Oktober 2026

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja (Pengajar dan Kolumnis)

Fajar baru saja mengiris tepian langit ketika Hamzah mengunci pintu rumahnya, melangkah perlahan menuju masjid. Badannya yang renta sedikit membungkuk, namun langkahnya teguh, seakan setiap tapak kakinya menegaskan sesuatu yang tak bisa lagi digoyahkan. Saban pagi begitulah, ia selalu yang pertama tiba, menyalakan lampu, memeriksa kerapian sajadah, memastikan air wudhu mengalir jernih. Di mata warga desa, ia hanyalah H. Hamzah, takmir masjid yang rajin, anggota Muhammadiyah yang tenang, bijak, seakan tak pernah ada badai yang menyapu hidupnya. 

Namun siapa yang tahu, di balik wajah yang teduh itu tersimpan kisah yang lebih panjang dan lebih perih daripada seluruh pengajian yang pernah ia dengar.

Tadi malam, di rumah putranya, ia sempat melihat cuplikan sebuah film lama. Adegan di sebuah desa, subuh-subuh buta, suara adzan baru saja berkumandang, lalu datang sekelompok orang membawa senjata tajam, menyerbu masjid, menganiaya jamaah yang sedang sujud. Hamzah hanya diam menatap layar, tak bergumam sepatah kata pun. Hanya napasnya yang sedikit tertahan. Putranya bertanya, “Benarkah begitulah yang terjadi, Pak?”

Ia menggeleng pelan, lalu berkata lirih, “Film itu memindahkan adegan, Nak. Agar semua membenci satu pihak saja. Padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih rumit, jauh lebih menyakitkan.”

Pikirannya melayang jauh, ke tahun 1965, ketika ia masih dipanggil Hamzah Si Api. Pemuda yang berapi-api, cerdas, lantang bersuara. Ia anak lurah, terdidik, dipercaya memimpin Pemuda Rakyat di desanya. Saat itu ia percaya sepenuhnya pada keadilan yang dibawa dari Jakarta, pada cita-cita yang terdengar indah dan tegas. Ia berpidato di alun-alun, menyebut nama-nama yang dianggap penghalang kemakmuran rakyat—dan di antara nama-nama itu ada nama ayahnya sendiri, lurah yang dicintai warga, yang dianggapnya terlalu lemah, terlalu membiarkan ketimpangan merayap di desanya. Ia tak peduli darah yang mengalir di nadi, baginya ideologi di atas segalanya.

Dini hari yang mengubah segalanya tiba tanpa suara. Tak ada adzan yang terdengar di sekitar rumah para jenderal di Jakarta, katanya kemudian. Penculikan terjadi sebelum fajar menyingsing, saat orang-orang masih terlelap, saat pengeras suara masjid belum berbisik memanggil hamba-Nya. Di desanya sendiri, kabar berhembus seperti angin kencang yang membawa bau darah. Dalam sekejap, posisi berbalik. Yang kemarin di atas angin kini diburu. Hamzah ditangkap, dibawa ke markas militer, dipukuli, ditendang, diinterogasi hingga kesadarannya hampir lenyap. Temannya yang seumuran, yang sama-sama percaya pada mimpi yang sama, tak pernah pulang dari ruang itu. Hamzah dilepaskan dengan tubuh penuh luka, diantar pulang diam-diam di atas truk terbuka.

Yang membukakan pintu rumah adalah ayahnya sendiri. Tak ada makian, tak ada tanya kenapa. Hanya pelukan yang gemetar, lalu air obat yang dioleskan pelan di punggung anaknya yang babak belur. Di dalam keluarga besar, retakan itu terasa nyata. Kerabat yang berafiliasi ke NU memalingkan wajah. Yang berpihak pada PNI enggan menyapanya. Namun ayahnya tetap merawatnya, seakan tak pernah ada kata-kata tajam yang keluar dari mulut anaknya sendiri. “Kau tidak salah karena mencari keadilan,” kata ayahnya pelan, “tapi kau keliru ketika melupakan kasih sayang sebagai bagian dari keadilan itu sendiri.”

Lama Hamzah merenungi kalimat itu di saat tubuhnya perlahan pulih. Ia mulai melangkah ke masjid, bukan karena dipaksa, melainkan karena tak ada tempat lain yang cukup luas untuk menampung penyesalannya. Ia mendekat ke jamaah Muhammadiyah, mendengarkan kajian, belajar kembali bahwa agama bukanlah alat untuk membenci siapa pun, melainkan cahaya yang menuntun manusia pulang ke jalan yang lurus. Tak lama kemudian pamannya, H. Syaifuddin, pulang dari pembuangan. Mantan tokoh Masjumi yang ditahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan itu datang dengan tubuh yang bungkuk namun pandangan yang jernih. Sering mereka duduk berdua di beranda, menatap sawah yang bergoyang tertiup angin, berbicara tanpa kemarahan. “Baik yang memegang senjata maupun yang dipukul, sama-sama lupa satu hal,” kata paman itu, “agama tak boleh dipakai untuk menindas, dan tak boleh dilarang demi kekuasaan.” Kata-kata itu menancap dalam di hati Hamzah, menjadi benih yang tumbuh perlahan-lahan.

Tahun bergulir bagai air sungai yang tak pernah kembali. Ayahnya meninggal, mewarisi tanah-tanah itu kepadanya. Pemuda yang dulu berteriak menentang tuan tanah kini memegang amanah tanah itu sendiri. Ia tak mengusir siapa pun, justru menyisihkan sebagian hasil panen untuk kepentingan masjid dan anak-anak yang mengaji. Namun di matanya, api yang tak pernah padam tetap menyala lembut. Ia tetap mencintai negerinya, tetap mengagumi Soekarno yang dianggapnya pemimpin yang jujur, tetap membenci ketidakadilan. Ia pernah berharap pada Megawati, lalu pada Jokowi—melihat anak rakyat naik ke tampuk kekuasaan seakan mimpi masa mudanya bukan mimpi yang sia-sia. Namun kini kekecewaan datang lagi, melihat wajah-wajah yang serupa kembali berkuasa, memperkaya diri di atas penderitaan rakyat kecil.

Suatu sore, beberapa pemuda desa duduk di beranda masjid mendengarkan ceritanya. Suaranya sudah serak, namun matanya tetap tajam memandang cakrawala. “Katanya kita butuh revolusi lagi, Pak?” tanya salah seorang pemuda. Hamzah tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Iya, revolusi,” jawabnya, “tapi bukan dengan senjata, bukan dengan saling membenci. Revolusi yang sejati adalah mengubah diri sendiri—dari yang memusuhi menjadi yang mengasihi, dari yang memecah belah menjadi yang menyatukan. Dulu saya pikir mengubah dunia berarti mengubah orang lain. Ternyata jauh lebih berat mengubah diri sendiri, Nak.”

Fajar makin terang, suara adzan berkumandang merdu, membelah udara pagi yang segar. Hamzah melangkah masuk ke masjid, berdiri di barisan paling depan. Di sampingnya berdiri cucu kerabat yang dulu menjauhinya. Di belakangnya, anak keluarga paman yang pernah diasingkan. Tak ada yang bertanya siapa dulu di pihak mana. Tak ada yang mengungkit masa lalu. Mereka hanya berdiri sejajar, menghadap satu arah, mendengar panggilan yang sama—panggilan yang seharusnya menghentikan semua senjata, semua dendam, semua pembedaan.

Setelah sholat, ia duduk sebentar di teras, membiarkan cahaya pagi menyentuh wajahnya. Ia tahu sejarah tak bisa diubah. Luka tetap membekas di ingatan banyak orang. Namun ia juga tahu, suara adzan itu tak pernah salah alamat. Ia datang untuk siapa saja yang mau pulang, tak peduli dari mana ia pernah pergi, tak peduli seberapa jauh ia pernah tersesat. Dan itulah yang akhirnya Hamzah temukan: kedamaian bukan ketika semua menjadi sama, melainkan ketika berbeda pun tetap bisa bersujud di tempat yang sama.

Ajibarang, 30 September 2026

 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Tak Hanya Lentur Tubuh, Gymnastic Banyumas Bidik 9 Medali di Porprov Jateng 2026

Selanjutnya

Ekopol Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Indonesia dari Ketertindasan Struktural

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Jakarta Sound: Gelombang Musik dari Kampus Cikini yang Tak Pernah Usai

Jakarta Sound: Gelombang Musik dari Kampus Cikini yang Tak Pernah Usai

Minggu, 4 Oktober 2026

Ekopol Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Indonesia dari Ketertindasan Struktural

Ekopol Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Indonesia dari Ketertindasan Struktural

Minggu, 4 Oktober 2026

Gedung Soetedja, Koperasi Desa MerahPutih, dan Ketakutan Kita pada Ruang yang Tidak Menghasilkan

Suara Adzan Tak Salah Alamat

Minggu, 4 Oktober 2026

Selanjutnya
Ekopol Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Indonesia dari Ketertindasan Struktural

Ekopol Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Indonesia dari Ketertindasan Struktural

Jakarta Sound: Gelombang Musik dari Kampus Cikini yang Tak Pernah Usai

Jakarta Sound: Gelombang Musik dari Kampus Cikini yang Tak Pernah Usai

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com