Brili Agung
Founder Aksara Semesta Investama
Wakil Ketua HIPMI Institute
Awalnya saya pikir undangan nonton bareng komunitas Drama China (Dracin) di Banyumas kemarin cuma bakal diisi anak-anak muda atau emak-emak penyuka serial romantis. Tapi begitu masuk ruangan, tebakan saya meleset total. Di kanan-kiri saya, ada mahasiswa berkacamata tebal, sesama rekan pengusaha, sampai anggota dewan lokal yang ikut duduk antusias menikmati serial pendek berdurasi 1–2 menitan.
Fenomena di Banyumas ini membuktikan satu hal: Dracin bukan lagi sekadar hiburan iseng, tapi sudah jadi kekuatan industri baru yang sanggup menembus semua lapisan demografi.
Jika kita membedah laporan CNA bertajuk “Lights, camera, algorithm: China’s AI microdramas go viral – but spark copyright fears”, meledaknya Dracin format microdrama berlayar vertikal ini didukung oleh angka-angka industri yang teramat fantastis:
Pasar Bernilai Raksasa: Nilai pasar microdrama di China telah menembus 37,39 miliar yuan (sekitar US$5,2 miliar atau setara Rp80+ triliun), bahkan sudah melampaui total pendapatan pasar bioskop layar lebar nasional mereka.
Format Dosis Tinggi: Satu judul serial biasanya diproduksi sebanyak 80 hingga 100 episode, di mana tiap episodenya dirancang super singkat, hanya berdurasi 1 sampai 2 menit.
Efisiensi Radikal Berbasis AI: Pemanfaatan AI sanggup memangkas biaya produksi hingga 70%–90%. Penulisan naskah 100 episode yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu kini rampung dalam hitungan jam, sementara dubbing dan lip-sync AI ke berbagai bahasa global selesai dalam hitungan menit.
Kecepatan Rilis Gila-Gilaan: Jika film bioskop butuh waktu berbulan-bulan, seluruh proses produksi microdrama berbasis AI ini dari awal sampai siap tayang hanya memakan waktu 3 hingga 5 hari.
Di balik layar, tiap episode dirancang khusus untuk mengunci perhatian penonton di 3 detik pertama dengan konflik yang padat. Sangat pas dengan tabiat masyarakat modern yang durasi fokusnya makin pendek. Namun, kecepatan gila-gilaan ini tentu ada harganya: maraknya perselisihan hak cipta, kemiripan alur cerita (plagiarisme AI), hingga isu pelanggaran hak kekayaan intelektual kreator asli.
Jika dibandingkan dengan Drama Korea (Drakor), pasarnya memang beda. Drakor mengandalkan anggaran raksasa, sinematografi megah, dan alur cerita slow-burn untuk kelas menengah-atas. Sementara Dracin microdrama bergerak bagai “pasukan gerilya”: murah, cepat, langsung ke sasaran, dan mengincar konsumsi fleksibel di sela-sela kesibukan lewat layar ponsel.
Lantas, bagaimana dengan nasib industri film dan kreatif di Indonesia?
Kita tidak bisa terus-menerus bertengger di posisi bertahan atau cuma mengandalkan formula lama seperti film horor berbiaya sedang. Jika industri kreatif kita enggan beradaptasi, pasar domestik kita akan habis dilahap efisiensi raksasa China dan kemegahan modal Korea.
Untuk bisa bersaing, ada beberapa langkah strategis yang harus diambil pelaku industri kreatif lokal:
Rendah Hati Memeluk Teknologi: Jangan anti pada AI. Gunakan AI sebagai alat bantu efisiensi—mulai dari riset ide, pra-produksi, hingga penerjemahan—agar kreator lokal bisa memproduksi konten berkualitas tinggi dengan biaya yang masuk akal.
Pindah ke Format Mobile-First: Jangan cuma terpaku pada layar lebar bioskop atau jam tayang televisi. Potensi ekonomi terbesar saat ini ada di genggaman tangan. Pelajari cara bercerita yang lincah dan adaptif dengan platform digital.
Kekuatan Narasi Lokal: Kekuatan utama kreator Indonesia adalah kekayaan cerita dan dinamika sosial yang tidak bisa direplikasi oleh AI China maupun modal besar Korea. Sentuhan emosional dan kearifan lokal yang relevan adalah benteng pertahanan terbaik kita. Sebenernya konten kreator kita sudah terbiasa memproduksi Drakab (Drama Kabupaten). Yang impresinya cukup besar di paltform FB dan teramplifikasi ke beberapa platform lainnya. Mereka ini yang sebenernya butuh support berbagai stakeholder.
Serbuan Dracin berteknologi AI ini adalah alarm keras bagi ekosistem kreatif tanah air. Kita tidak perlu takut, tapi wajib bergerak cepat. Kreativitas tanpa efisiensi akan digilas zaman, sebaliknya efisiensi tanpa kreativitas cuma bakal jadi sampah algoritma.
Menurut sudut pandang teman-teman, apakah pelaku industri kreatif lokal kita sudah siap memanfaatkan teknologi untuk memproduksi konten yang sanggup bersaing, atau kita memang masih nyaman jadi penonton saja?







