PURWOKERTO – Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik mengajak masyarakat Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, mengubah cara pandang terhadap sampah.
Alih-alih langsung dibuang, sampah yang masih bernilai dapat dipilah, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, hingga dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Pesan itu mengemuka dalam Workshop/Pelatihan Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular untuk Mewujudkan Kemandirian Lingkungan yang digelar di MA Anwaarul Hidayah Karangnangka, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–13.00 WIB itu diikuti masyarakat Desa Karangnangka dan santri Pondok Pesantren Anwaarul Hidayah. Workshop menjadi bagian dari rangkaian KKN Tematik UIN Saizu Purwokerto yang berfokus pada penguatan kesadaran lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Workshop menghadirkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Saizu Purwokerto, Ubaidillah, sebagai narasumber akademisi dan Seia Piantara sebagai praktisi. Kegiatan dipandu Desi Wahyuningsih, mahasiswa FEBI UIN Saizu Purwokerto.
Peserta diajak melihat persoalan sampah dari sudut pandang berbeda. Sampah rumah tangga seperti sisa makanan, botol plastik, kardus, kertas, dan kemasan tidak selalu kehilangan nilai ketika tak lagi digunakan. Sebagian material masih bisa digunakan kembali, diperbaiki, diolah, atau masuk rantai daur ulang.
Karena itu, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Konsep itu sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang berupaya memperpanjang usia penggunaan produk dan material agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Berbeda dengan pola ekonomi linear ambil–buat–pakai–buang, ekonomi sirkular mendorong masyarakat mengurangi penggunaan barang yang tidak diperlukan, menggunakan kembali barang yang masih layak, memperbaiki barang rusak, serta mendaur ulang material yang masih bernilai.
Dalam konteks masyarakat Desa Karangnangka dan lingkungan pesantren, pendekatan itu dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sampah organik dapat dipisahkan dari sampah anorganik yang masih bernilai. Sisa makanan bisa dikurangi melalui pengaturan porsi konsumsi, sedangkan botol, kardus, kertas, dan material tertentu dapat dikumpulkan secara terpilah untuk dimanfaatkan atau didaur ulang. Residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan perlu dikelola secara tepat.
KKN Tematik UIN Saizu menempatkan rumah dan pesantren sebagai ruang strategis untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan lingkungan. Santri tidak hanya memperoleh pendidikan melalui kegiatan belajar di kelas, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang menjadi bagian penting pembentukan karakter peduli lingkungan.
Membawa tumbler, menggunakan kembali barang yang masih layak, mengurangi plastik sekali pakai, mengambil makanan secukupnya, serta memilah sampah sesuai jenisnya menjadi praktik sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari. Hal serupa dapat dilakukan di lingkungan rumah. Ketika kebiasaan memilah sampah dimulai dari keluarga, masyarakat memiliki fondasi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terorganisasi.
Desa Karangnangka juga memiliki modal sosial berupa masyarakat, PKK, dan Pondok Pesantren Anwaarul Hidayah yang dapat menjadi kekuatan mengembangkan gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Workshop tidak berhenti pada pembahasan kebersihan lingkungan. Peserta juga diajak melihat potensi ekonomi dari pengelolaan sampah. Bank sampah, pengolahan kompos, pemanfaatan barang bekas, upcycling, hingga pengembangan produk berbasis material lokal dapat menjadi bagian ekosistem ekonomi sirkular. Dengan pengelolaan yang konsisten dan transparan, material yang sebelumnya dianggap beban dapat berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Teknologi digital juga dapat mendukung pengelolaan tersebut, misalnya untuk mencatat setoran bank sampah, berat material, nilai ekonomi, hingga mengatur komunikasi penjemputan sampah. Teknologi dalam konteks ini bukan tujuan akhir, melainkan alat agar pengelolaan sampah lebih tertib, transparan, dan terukur.
KKN Tematik UIN Saizu mendorong kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Perubahan justru diharapkan berlangsung setelah workshop selesai. Salah satu gagasan yang dapat diterapkan adalah gerakan “7 Hari Desa/Madrasah Lebih Sirkular”.
Gerakan itu dapat dimulai dengan audit sampah, menyediakan tempat pemilahan, mengurangi sampah makanan, mengolah sampah organik, mengumpulkan material bernilai, menghitung hasil pengelolaan, dan menyusun target untuk bulan berikutnya.
Langkah tersebut menunjukkan membangun lingkungan mandiri tidak harus dimulai dengan teknologi mahal. Perubahan dapat tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama dan berkelanjutan. Melalui KKN Tematik, UIN Saizu berupaya menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Pendekatan itu sekaligus menjadi bagian pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya menghadirkan pengetahuan dan pendampingan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Bagi UIN Saizu, sampah bukan sekadar persoalan yang harus dibuang. Cara masyarakat memperlakukan sampah mencerminkan cara mereka memperlakukan sumber daya.
Ketika pola pikir berubah dari “buang” menjadi “pilah, manfaatkan, dan pulihkan”, pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan. Dari rumah, perubahan dimulai. Dari pesantren, kebiasaan ditanamkan. Dari masyarakat, gerakan dikembangkan.
Melalui KKN Tematik UIN Saizu, Desa Karangnangka diharapkan terus mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Pewarta: Alri Johan
Editor : Angga Saputra








