Muhammad Nazarudin Latif
Hingga pencarian hari ketiga, Kamis (10/9), sebanyak lima orang jurnalis dan tiga awak kapal belum ditemukan. Mereka sebelumnya putus kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Mereka adalah Firdaus, Yudhis, Arbas, Donald, dan Bagus.
Saya sendiri pernah satu kantor dengan dua orang fotografer itu. Yudhis pernah bekerja bersama saya di MNC, dan Firdaus pernah menjadi buruh media Turki di Anadolu Agency. Sedangkan Donald, sering bekerja dengan istri saya. Kedekatan itu membuat kabar ini terasa begitu dekat, bukan sekadar berita di layar kaca.
Di tengah industri media yang compang-camping ini, meliput dengan perlengkapan standar memang sebuah kemewahan. Mereka hanya bisa menyewa speedboat kecil untuk menerjang Selat Sunda yang sering berombak besar. Tentu mereka sadar, ada risiko besar yang dipertaruhkan dengan pilihan itu. Namun, bagi jurnalis, tuntutan tugas kerap mengalahkan pertimbangan keselamatan.
Mereka ini jurnalis senior. Daus, saya tahu benar, dia kenyang liputan bencana, sudah puluhan kali penugasan. Demikian juga Arbas, saya melihat fotonya saat meliput letusan Gunung Kelud, 2014 lalu. Yudhis dan lain-lain juga demikian. Mereka bukan orang baru yang gegabah. Mereka adalah profesional yang telah berkali-kali menaruh nyawa demi menyampaikan berita kepada publik.
Tapi musibah tak kenal senioritas. Tidak pilih-pilih siapa yang akan didatangi. Pengalaman puluhan tahun tidak menjamin keselamatan ketika alam berbicara lain. Inilah risiko yang selalu membayangi profesi jurnalistik, terutama liputan bencana dan wilayah berbahaya.
Kini saya hanya bisa meminta bantuan doa, agar kawan-kawan ini bisa kembali pada istri dan anak-anak mereka dengan selamat. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi keluarga mereka selain ketidakpastian ini.
Semoga mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat. Dan semoga kita semua, terutama para pemilik media dan pengambil kebijakan, terus mengingat satu prinsip yang kerap digaungkan namun sering dilupakan: tiada berita seharga nyawa.
Demikian, terima kasih saya haturkan. Sambil terus mengingat-ingat, tiada berita seharga nyawa!
(Penulis adalah jurnalis yang pernah bekerja bersama dua di antara para awak media yang hilang)






