Yaya Sunaryo (Pendidik di Nusantara Centre dan Kontributor Banrehi).
Bagaimana jalan kemandirian ekopol kita? Pertanyaan ini muncul tajam di sesi ketujuh Sekolah Pemikiran Kejeniusan ekopol Indonesia. Sesi ini kembali berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme. Setelah pada pertemuan-pertemuan sebelumnya peserta diperkenalkan pada cara berpikir yang fungsional, struktural, komprehensif, dan substansial, kali ini pembelajaran diarahkan pada upaya memahami pemikiran ekonomi politik atau ekopol Soemitro Djojohadikusumo dan Mubyarto.
Materi tersebut dipaparkan oleh Dr. Agus Rizal sebagai pengampu dan Prof. Yudhie Haryono sebagai penanggap dan penyemai diskusi. Bagi saya, pembahasan kali ini bukan sekadar mengenal dua tokoh ekonomi Indonesia, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali gagasan ekonomi dari perspektif yang lebih mendalam.
Soemitro dan Mubyarto memang lahir dari zaman dan pengalaman intelektual yang berbeda. Namun, keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap persoalan mendasar bangsa, yaitu bagaimana membangun perekonomian yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menciptakan kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan. Dari sinilah pembahasan menjadi menarik, karena peserta tidak hanya diajak memahami kelebihan masing-masing pemikiran, tetapi juga mulai melihat ruang yang mungkin belum terjawab oleh kedua gagasan tersebut.
Dalam pemikiran Soemitro, kemandirian ekonomi bukanlah respons sesaat terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Kemandirian merupakan orientasi jangka panjang yang harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional. Karena itu, ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah perlu dilihat secara kritis. Ketergantungan tersebut dapat menciptakan ilusi surplus, sementara di baliknya terdapat kerentanan struktural yang membuat perekonomian mudah dipengaruhi oleh perubahan harga dan kondisi ekonomi global.
Pemikiran tersebut terasa semakin relevan ketika melihat kondisi ekonomi Indonesia hari ini. Kekayaan sumber daya alam memang dapat menghasilkan penerimaan dan devisa, tetapi apabila sebagian besar berhenti pada ekspor komoditas tanpa penguatan industri dan penguasaan teknologi, maka nilai tambah terbesar justru berpotensi dinikmati di luar negeri. Membaca Soemitro pada masa sekarang berarti membaca kembali pentingnya negara sebagai kekuatan yang mampu mengarahkan perkembangan pasar tanpa harus mematikannya. Negara tidak harus mengambil alih seluruh aktivitas ekonomi, tetapi harus memiliki kemampuan menentukan arah agar mekanisme pasar tetap bekerja dalam kerangka kepentingan nasional.
Sementara itu, pemikiran Mubyarto memberikan tekanan yang berbeda. Ekonomi tidak semata-mata dilihat sebagai persoalan produksi, pertumbuhan, efisiensi, atau akumulasi modal. Di dalamnya terdapat dimensi moral dan sosial yang tidak dapat diabaikan. Karena itu, ekonomi harus ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat dan tujuan yang lebih besar, yaitu terciptanya kesejahteraan yang adil.
Dari pembahasan mengenai Mubyarto, saya menangkap setidaknya empat fondasi penting dalam pemikiran ekonomi politiknya. Pertama adalah moral dan sosial, yang menempatkan aktivitas ekonomi tidak semata-mata berdasarkan kepentingan keuntungan. Kedua adalah nasionalisme dan kedaulatan, yang menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus memiliki orientasi pada kepentingan bangsa sendiri. Ketiga adalah demokrasi dan keadilan ekonomi, yang memastikan bahwa hasil pembangunan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Keempat adalah implikasi kebijakan, karena gagasan ekonomi pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata dan dapat dirasakan masyarakat.
Dari dua pemikiran tersebut muncul pertanyaan yang lebih penting bagi proses belajar kami di kelas ini. Jika Soemitro berbicara mengenai kemandirian, peran strategis negara, dan pembangunan ekonomi nasional, sementara Mubyarto menekankan moral, sosial, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan ekonomi, lalu bagaimana kita merumuskan pemikiran ekonomi politik yang mampu menjawab persoalan Indonesia hari ini?
Pertanyaan itu menjadi bagian menarik dari kelas ini. Belajar pemikiran tidak seharusnya berhenti pada menghafalkan gagasan para tokoh atau mengulang teori yang sudah ada. Justru yang lebih penting adalah memahami konteks lahirnya gagasan tersebut, menguji relevansinya dengan persoalan hari ini, kemudian menemukan ruang yang masih perlu dikembangkan.
Inilah nilai lebih dari Sekolah Pemikiran Kejeniusan. Kita tidak hanya belajar tentang apa yang pernah dipikirkan oleh para pendahulu, tetapi juga belajar bagaimana berpikir setelah mereka. Soemitro dan Mubyarto telah meninggalkan fondasi pemikiran yang penting. Tugas generasi hari ini bukan sekadar memilih salah satunya, melainkan membaca keduanya secara kritis, menemukan kekuatan dan keterbatasannya, lalu melanjutkan pencarian untuk menemukan jawaban yang lebih sesuai dengan tantangan zaman.
Ekonomi dan politik tidak bisa dipisahkan. Bahkan, ekonomi dan politik bukan hanya tentang bagaimana kekayaan diproduksi dan didistribusikan. Ia juga berbicara tentang siapa yang menentukan arah ekonomi, untuk kepentingan siapa pembangunan dijalankan, dan sejauh mana negara mampu memastikan bahwa pertumbuhan benar-benar menghasilkan kemandirian dan kesejahteraan bagi rakyat.
Dari ruang kelas inilah pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai kami bawa pulang, untuk terus dipikirkan dan diuji dalam kenyataan. Rumah persemaian makin panen natinya, semoga.(*)






