INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

KM dalam UMKM adalah singkatan “Kapan Merdekanya?

KM dalam UMKM adalah singkatan “Kapan Merdekanya?

Brili Agung

Rabu, 19 Agustus 2026

Brili Agung
Founder Aksara Semesta Investama
Wakil Ketua HIPMI Institute

Selamat hari Selasa untuk rekan-rekan semua dari Guangzhou, China.

Hari ini adalah hari ke-6 saya memandu delegasi 50 lebih pengusaha Serikat Usaha Muhammadiyah (SUM) mengulik pusat perdagangan dunia ini. Kemarin, tanggal 17 Agustus, bangsa kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Dari kejauhan, dada kita tentu bergetar bangga melihat merah putih berkibar.

Namun jujur saja, sambil melangkah menyusuri lorong-lorong pasar grosir Yiwu, ada bisikan satir yang terus mengusik pikiran saya: Merdeka secara politik kita memang sudah 81 tahun, tapi apakah UMKM dan produk lokal kita di tanah air benar-benar sudah merdeka secara ekonomi? Atau jangan-jangan, di balik seremoni lomba makan kerupuk dan pidato manis pejabat, pengusaha kecil kita sebenarnya masih tercekik dan “dijajah” oleh tingginya biaya produksi serta ketergantungan barang asing?

Selama 6 hari menelusuri hampir semua distrik di Yiwu, kepala saya rasanya dibuat berdenyut. Di tempat sekelas “kabupaten” ini, Anda bisa menemukan apa saja. Dari benda sekecil tusuk gigi, alat rumah tangga, aksesoris, sampai teknologi canggih seperti Drone Tempur dan Robot Humanoid AI berbasis masa depan.

Namun dari jutaan jenis barang di pasar grosir Futian ini, ada satu barang sederhana yang bikin saya garuk-garuk kepala. Saya menemukan tongkat kayu bantu jalan untuk lansia yang pengerjaannya sangat halus. Tahu harganya berapa? Cuma 2 RMB, alias setara Rp5.400 Di Indonesia, harga kayu mentahnya saja belum tentu dapat. Rata-rata barang komoditas di sini dijual dengan harga cuma *1/5 sampai 1/3* dari harga eceran di pasar kita.

Puncaknya adalah saat saya berhenti di distrik tekstil dan ngobrol serius dengan Franky, salah satu pengusaha fashion asal Jakarta yang ikut dalam rombongan delegasi kami. Obrolan kami kira-kira begini:

Saya: “Frank, kamu kan sudah belasan tahun main industri pakaian di tanah air. Pas ngeliat sampel baju-baju jadi di lapak Yiwu ini, gimana kalkulasi bisnismu?”

Franky: (Sambil menggelengkan kepala dan memegang kain sampel) “Ini sudah nggak masuk akal sih, Mas Brili. Di luar nurul!”

Saya :  “Maksudnya gimana?”

Franky:“Coba hitung ya, Mas. Harga satu potong baju jadi kualitas ekspor di sini, kalau kita impor plus ditambah ongkos logistik, pengurusan bea cukai, sampai mendarat di gudang kita di Jakarta… harganya masih jauh lebih murah dibanding saya baru beli KAIN MENTAH-nya saja di Tanah Abang atau Bandung!”

Saya: “Baru kain mentahnya doang?”

Franky:  “Iya! Itu baru bahan baku kainnya. Belum dihitung ongkos potong, ongkos jahit penjahit kita, ongkos benang, kancing, packaging, sampai listrik konveksi. Kalau kita nekat produksi dari nol di Indonesia lawan barang jadi dari Yiwu ini, industri fashion lokal kita pasti benjol!”

Pengakuan Franky itu membongkar logika bisnis saya. Kenapa pabrik dan UMKM di China bisa menjual barang dengan harga yang seolah-olah “menghina” kalkulasi biaya produksi kita? Jawabannya bukan sekadar karena buruh mereka murah, melainkan karena pemerintah China turun tangan habis-habisan pasang badan di belakang eksportir mereka.

Eksportir di sini mendapatkan *Export Tax Refund* (pengembalian PPN ekspor hingga 13%), yang artinya margin mereka langsung disubsidi negara begitu barang keluar pelabuhan. Logistik kereta dan pelabuhan disubsidi penuh oleh pemerintah daerah, kawasan e-commerce dijadikan Free Zone Tax tanpa birokrasi ruwet, bahkan ada asuransi kredit ekspor (Sinosure) dari negara yang menanggung risiko gagal bayar buyer internasional hingga 90%. Ketika negara mereka memfasilitasi rantai pasok dari hulu ke hilir dengan efisiensi radikal, tak heran kalau produk mereka bisa membanjiri pasar dunia dengan harga murah meriah.

Bandingkan dengan nasib UMKM kita di umur republik yang ke-81 ini. Di saat pengusaha luar disubsidi dan dipermudah oleh negaranya, pelaku usaha kecil kita di lapangan justru masih harus pusing memikirkan biaya bahan baku yang mahal, ongkos logistik antarpulau yang tinggi, hingga kejaran administrasi dan oknum perizinan. Bagaimana UMKM kita bisa merdeka dan bersaing kalau dari garis start saja kaki kita sudah diikat?

Itulah mengapa  Business Trip dan MoU Strategis yang kami bangun bersama 50 lebih pengusaha Serikat Usaha Muhammadiyah di Yiwu ini menjadi sangat krusial. Kita tidak datang ke sini cuma untuk jadi importir yang pasrah dan konsumtif. Kita mau membedah rahasia efisiensi rantai pasok mereka, memotong mata rantai makelar yang tidak perlu, dan membawa pulang mindset industri terintegrasi agar bisnis lokal kita bisa benar-benar berdikari.

Bagi saya, kemerdekaan sejati bagi UMKM bukan sekadar ikut upacara bendera setahun sekali, melainkan ketika pengusaha lokal punya kedaulatan, efisiensi, dan dukungan penuh untuk menjadi tuan rumah dan menang di negerinya sendiri.

Menurut sudut pandang rekan-rekan sekalian, di tengah gempuran harga yang “di luar nurul” ini, langkah konkrit apa yang harus segera kita perbaiki di bisnis kita agar tidak selamanya menjadi penonton?

Ah, ada info menarik. Tanggal 08-14 September ini saya akan memimpin delegasi bisnis lagi ke Beijing. Salah satu agendanya adalah Business Matching di CIFTIS 2026.

Kalau kamu mau bergabung, boleh langsung japri saya.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Pendaki 16 Tahun Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Tim SAR : Medan ke Lokasi Ekstrem

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

KM dalam UMKM adalah singkatan “Kapan Merdekanya?

KM dalam UMKM adalah singkatan “Kapan Merdekanya?

Rabu, 19 Agustus 2026

Pendaki 16 Tahun Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Tim SAR : Medan ke Lokasi Ekstrem

Pendaki 16 Tahun Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet, Tim SAR : Medan ke Lokasi Ekstrem

Selasa, 18 Agustus 2026

BK DPRD Banyumas Nyatakan Pengaduan terhadap AD Selesai setelah Dicabut Pelapor

9 Bulan Sakit, PAW Eks Ketua DPRD Banyumas Terganjal Aturan: Kunci PAW Ada di Tangan Partai

Selasa, 18 Agustus 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com