BANYUMAS – Bukan rahasia lagi kalau Pemilu 2029 nanti bakal didominasi oleh anak-anak muda. Bahkan, di Kabupaten Banyumas, generasi yang saat ini masih duduk di bangku SMP (usia 14-16 tahun) diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 80.000 pemilih atau setara 6 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT)!
Angka itu belum termasuk generasi di atas mereka. Jika digabung, total pemilih muda diproyeksikan mendominasi hingga 60 persen suara di Banyumas pada pesta demokrasi mendatang. Menyadari potensi besar ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Banyumas langsung tancap gas dengan strategi baru.
KPU Gandeng Disdik, Edukasi Pemilih Dimulai dari Bangku SMP
Alih-alih menunggu calon pemilih terdaftar otomatis, KPU Banyumas memilih pendekatan proaktif dengan menyasar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Strategi ini dilakukan melalui program sosialisasi dan pendidikan pemilih (Sosdiklih) yang tersegmentasi.
Langkah ini semakin mantap setelah jajaran KPU melakukan audiensi ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas pada Jumat (24/7/2026). Audiensi ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepakatan yang sebelumnya sudah diteken antara Ketua KPU dan Bupati Banyumas.
Dalam pertemuan tersebut, hadir dua Komisioner KPU Banyumas, Sidiq Fathoni dan Sufi Sahlan Ramadhan, yang disambut langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Widodo Sugiri.
Program P5 dan OSIS Jadi Jembatan Awal
Sufi Sahlan Ramadhan menjelaskan bahwa selama ini pihaknya sudah mulai menyusupkan edukasi kepemiluan melalui program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dan kegiatan Pemilihan Ketua OSIS. KPU bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut.
“Desain kegiatannya fleksibel. Bisa kami yang datang ke sekolah, atau para siswa yang melakukan outing class berkunjung langsung ke kantor KPU untuk belajar,” ujar Sufi di sela-sela audiensi.
Disdik Buka Lebar Tangan: Siap Rekomendasikan ke Ratusan Sekolah
Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Widodo Sugiri, menyambut baik inisiatif ini. Dengan total 71 SMP negeri dan 84 SMP swasta yang tersebar di Banyumas, pihaknya siap menjadi jembatan bagi KPU.
“Kami akan menyampaikan kegiatan Sosdiklih ini ke sekolah-sekolah. KPU tinggal menyampaikan konsep tertulisnya, apakah mau outing class atau mendatangkan pemateri ke sekolah. Prinsipnya kami akan merekomendasikan kegiatan ini,” tegas Widodo.
Meski semangat membara, KPU mengakui ada tantangan besar, terutama soal keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menjangkau puluhan ribu siswa secara langsung.
Menjawab hal itu, Sidiq Fathoni menawarkan ide alternatif, yakni mendirikan “Pojok Demokrasi” di perpustakaan sekolah dengan menyediakan modul atau buku saku kepemiluan.
“Kami sadar tidak mungkin mengunjungi semua sekolah satu per satu. Makanya, kami siapkan bahan bacaan dan materi yang bisa diakses mandiri oleh siswa,” jelas Toni, sapaan akrabnya.
Solusi Jitu: Sistem Perwakilan Berbasis MKKS
Widodo pun memberikan solusi cerdik lainnya. Menurutnya, pendidikan pemilih tatap muka bisa dilakukan secara subrayon atau berbasis MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP.
Caranya, setiap rayon mengirimkan perwakilan guru atau siswa untuk mendapatkan materi dari KPU. Setelah itu, para perwakilan ini akan bertugas menyebarkan ilmu yang sama kepada rekan-rekan mereka di sekolah masing-masing. Metode ini dianggap efektif untuk menjangkau massa yang besar tanpa menguras energi SDM KPU secara berlebihan.
Meskipun langkah ini baru permulaan dan masih perlu evaluasi, audiensi KPU-Disdik Banyumas menjadi sinyal positif. Memperkenalkan demokrasi sejak dini kepada Gen Alfa adalah investasi besar untuk menciptakan Pemilu 2029 yang berkualitas dan partisipatif.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






