BANYUMAS – Siapa pendiri Kabupaten Banyumas, hampir semua orang tahu. Namanya Adipati Warga Utama II, atau lebih dikenal sebagai Adipati Mrapat. Di masa mudanya, ia bernama Raden Jaka Kaiman.
Lokasi makamnya pun tak asing di telinga warga, yakni di Astana Dawuhan, Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas.
Namun, sebuah pertanyaan menggelitik yang jarang terjawab: Siapa anak-anak Raden Jaka Kaiman?
Menggali Sejarah Lewat Babad
Pertanyaan itulah yang coba dijawab dalam acara “Bahas Babad Banyumas” dengan tajuk “Melacak Jejak Anak-Anak Keturunan Jaka Kaiman.” Kegiatan ini digelar di Bale Babad Banyumas, sebuah rumah budaya milik budayawan sekaligus penerjemah naskah Babad Banyumas, NasSirun PurwOkartun, atau yang akrab disapa Kang Nass.
Acara berlangsung pada Minggu (19/7/2026) , mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.
“Tidak banyak orang Banyumas yang tahu siapa anak-anak Raden Jaka Kaiman. Karena itu, saya ingin mengajak orang-orang Banyumas mengenali leluhurnya sendiri,” ujar Kang Nass di hadapan para peserta.
Peserta dari Berbagai Daerah
Antusiasme peserta ternyata tidak hanya datang dari wilayah Banyumas. Sejumlah penggiat sejarah dan budaya hadir dari Purbalingga, Tegal, Jakarta, hingga Sidoarjo.
Dua di antaranya adalah Maria Dominiqe (45) dari Jakarta Selatan dan Deny Adham Muarif (46) dari Sidoarjo. Mereka mengaku selalu mengikuti unggahan Kang Nass di media sosial yang rutin membahas Babad Banyumas.
“Kami sengaja datang jauh-jauh untuk bertemu langsung. Selama ini kami hanya berkomunikasi di dunia maya,” ungkap Maria.
Naskah Babad sebagai Sumber Utama
Kang Nass menegaskan, penjelasannya tentang keturunan Raden Jaka Kaiman bukanlah karangan semata. Ia merujuk pada Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan, yang ditulis pada masa kepemimpinan Bupati Banyumas, Adipati Mertadiredja I, sekitar tahun 1816–1830-an.
Naskah setebal 23 pupuh dengan 617 bait itu ditulis dalam bentuk tembang Macapat. Salah satunya adalah Pupuh XVIII Asmarandana, yang secara gamblang mencatat silsilah keluarga Adipati Mrapat.
Enam Putra-Putri Sang Pendiri
Dalam tembang tersebut, disebutkan bahwa Raden Jaka Kaiman memiliki enam orang anak, terdiri dari:
· 4 anak laki-laki
· 2 anak perempuan
Urutan nama dan tempat tinggal mereka adalah sebagai berikut:
1. Ki Mertasuta – di Koripan
2. Ngabehi Janah (Bupati Banyumas kedua)
3. Ki Mertawedana – di Piasa
4. Ki Mertamenggala – di Selamerta
5. Nyai Sutapraya – di Pakikiran Somagede
6. Nyai Wirakusuma – di Papringan Mandirancan
Belajar Macapat, Lalu Berziarah
Suasana semakin hangat ketika sebelum pembahasan dimulai, peserta diajak belajar menembangkan Macapat oleh Ahmad Ainul Anam, pegiat Bale Babad Banyumas. Bagi banyak peserta, ini menjadi pengalaman pertama mereka menyanyikan tembang Jawa yang selama ini hanya mereka dengar sekilas.
Lili Liyanti (40), peserta asal Purwokerto, mengaku senang dengan gaya penyampaian Kang Nass.
“Meski bahannya dari naskah kuno berhuruf Jawa, Kang Nass menjelaskan dengan cara yang mudah diterima. Saya jadi tambah paham sejarah Banyumas,” tuturnya.
Usai diskusi, rombongan diajak berziarah ke sebuah makam tua di Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Banyumas, yang diduga merupakan tempat peristirahatan terakhir anak bungsu Raden Jaka Kaiman.
Wawasan Baru, Cinta Tanah Air Bertambah
Peserta mengaku puas dan mendapatkan wawasan baru mengenai silsilah Banyumas. Pengetahuan ini, menurut mereka, justru menumbuhkan rasa cinta yang lebih dalam terhadap tanah kelahiran.
“Ini bukan sekadar sejarah. Ini tentang mengenali siapa kita dan dari mana kita berasal,” pungkas salah satu peserta.
Penulis : Angga Saputra








