Angga Saputra
(Pimred Indiebanyumas)
Hampir 45 tahun sejak kepergiannya, nama Bob Marley tak pernah pudar dari ingatan dunia. Ia bukan sekadar musisi reggae, melainkan juga simbol perlawanan, spiritualitas, dan cinta kasih universal. Di usianya yang ke-81 pada 6 Februari lalu, warisannya justru kian menguat, melampaui waktu, generasi, dan batas geografis.
Di Indonesia, nama Marley hidup di kalangan komunitas Rastafarian yang menjadikannya semacam “kakek moyang” spiritual. Gaya rambut gimbal, atribut merah-kuning-hijau, dan tentu saja musik reggae yang sarat pesan pembebasan, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Lagu-lagu Marley seperti “One Love” dan “Get Up, Stand Up” bukan sekadar hiburan, melainkan panduan hidup.
Dari Trench Town Menuju Panggung Dunia
Bob Marley lahir di Trench Town, kawasan kumuh Jamaika, pada 1945. Sejak muda, ia menemukan pelipur lara dalam musik. Pada 1962, tepat seiring kemerdekaan Jamaika dari penjajahan Inggris, Marley pertama kali merekam lagu berjudul “Judge Not.” Saat itu pula ia bertemu dengan Bunny Wailer dan Peter Tosh, yang kelak menjadi partner dalam grup The Wailing Wailers—grup yang kemudian melegenda sebagai Bob Marley and The Wailers.
Di masa awal, musik yang ia bawakan bercorak ska, ritme khas Jamaika yang saat itu dominan. Namun perlahan, Marley menemukan ciri khasnya: reggae. Irama yang santai namun sarat pesan, dengan lirik-lirik yang menjadi kritik sosial terhadap penindasan dan ketidakadilan.
Antara Musik, Spiritualitas, dan Kontroversi
Marley bukan hanya musisi. Ia adalah penganut Rastafari yang taat, keyakinan yang mengajarkan pembebasan diri dari ketertindasan tanpa kekerasan. Baginya, musik adalah medium menyampaikan ajaran itu. Petikan gitarnya yang khas dan syairnya yang puitis menjadi bahasa universal bagi kaum tertindas di dunia.
Namun, popularitasnya kerap menuai stigma. Di mata sebagian orang, musik reggae dianggap “kelas bawah,” serupa dengan dangdut di Indonesia. Bahkan Marley kerap disinisi sebagai “peracau” yang larut dalam asap mariyuana. Padahal, di balik semua itu, ia mencatat apa yang ia lihat dan rasakan: kemiskinan, penindasan, dan harapan akan dunia yang lebih baik.

Fakta Unik yang Mungkin Belum Diketahui
Beberapa hal menarik dari kehidupan Marley mungkin belum banyak diketahui publik:
1. Pernah tinggal di Delaware, AS, bekerja sebagai asisten laboratorium di Du Pont dan bahkan di pabrik Chrysler dengan nama samaran “Donald Marley.” Lagu “Night Shift” terinspirasi dari pengalamannya mengendarai forklift di gudang.
2. Pendukung gaya hidup organik sejak jauh sebelum tren tersebut populer. Sebagai Rastafarian, ia menghindari alkohol, garam, kerang, telur, kafein, dan bahan kimia buatan.
3. Cinta kedua setelah musik adalah sepak bola. Julukannya “Tuff Gong” lahir dari permainannya yang intens di lapangan. Bahkan, bola sepak diletakkan di peti matinya saat dimakamkan.
4. “No Woman, No Cry” tidak ditulis oleh Marley—setidaknya secara resmi. Lagu itu tercatat atas nama Vincent Ford, teman Marley yang mengelola dapur umum di Trenchtown, sebagai cara Marley membantu pendanaan dapur tersebut.
5. Warisan bisnis yang terus mengalir. Pada 2023, warisan Marley menghasilkan 16 juta dolar AS, menempatkannya di peringkat ke-9 musisi anumerta paling menguntungkan versi Forbes. Toko ganja bermerek Marley bahkan telah dibuka di Jamaika.
Akhir Perjalanan, Awal Keabadian
Pada 11 Mei 1981, Marley menghembuskan napas terakhir di usia 36 tahun akibat melanoma—kanker kulit yang diduga turunan dari ayahnya yang berkulit putih, Captain Norval Marley. Penyakit yang terdeteksi tiga tahun sebelumnya itu telah menyebar ke paru-paru dan otak.
Pemakamannya di Jamaika dihadiri ribuan pelayat. Namun kematian tak menghentikan pengaruhnya. Pada 1994, ia dilantik secara anumerta ke Rock and Roll Hall of Fame. Album Exodus dan lagu-lagunya tetap abadi. Rolling Stone bahkan menempatkan “No Woman, No Cry” di peringkat ke-37 dalam daftar 500 lagu terhebat sepanjang masa.
Bob Marley di Mata Generasi Muda Indonesia
Di Indonesia, regenerasi apresiasi terhadap Marley terus berlangsung. Generasi muda menjadikannya simbol “peace and love” yang harus dilestarikan. Bagi mereka, Marley bukan sekadar musisi legendaris, melainkan juga pengingat bahwa seni bisa menjadi alat perjuangan.
Seperti kata Sean Paul, superstar dancehall yang terlibat dalam film biografi One Love: “Bob Marley telah memengaruhi semua orang di Jamaika yang berkecimpung di dunia musik. Lagu-lagunya sangat kuat hingga tetap relevan sampai hari ini.”
Begitu pula Tony Rebel, legenda reggae: “Inspirasi terbesar saya selalu Bob Marley. Meskipun saya tak melihatnya dengan mata kepala sendiri, saya merasakannya ketika dia meninggal.”
Selamat tinggal Bob Marley. Nama, karya, dan semangatmu akan terus hidup.
Dikutip dari berbagai sumber






